Jangan rewel

1322 Kata

Zahir mengusap pelan punggung tangan Doris. Tampak manusia berwajah pucat yang masih setia memejamkan matanya di ranjang pesakitan itu. Doris belum ingin membuka matanya demi melihatnya, meskipun dokter yang menangani dia sempat mengatakan bahwa Doris sudah melewati masa kritisnya. "Apa kamu akan terus saja tertidur, sayang?" Tanpa henti Zahir berbicara sendiri di hadapan tubuh tak berdaya itu, berharap wanita yang ia cintai segera membuka matanya. Bagaimana bisa Doris begitu tega membuatnya sedih diselimuti kekhawatiran seperti ini? Apa Doris tak ingin melihatnya bahkan hanya dalam satu detik saja? "Putri kita harus tidur di sana sendirian, sayang..." Karena kelahiran yang belum saatnya, membuat sang bayi harus berada di dalam kotak kecil yang mampu membuat tubuh lemahnya berjuang b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN