Terlihat Beda...

1093 Kata
Sementara dibelakang Rumah, dan ditepi kolam renang, Revan sedang menerima telpon dari orang tadi. "Jadi gimana pak, kapan bapak akan membayar utang beserta bunganya?" "Minta waktu lagi ya pak, gimana kalau dua bulan lagi pak?" "Terlalu lama itu, kami sudah bersabar selama ini. Apa perlu saya menyusul kerumah anda?" "Ja-ja-jangan Pak," Jawab Revan, terbata-bata. "Makanya pak, jangan ngutang kalau ga mampu bayar." Tut, panggilan pun berakhir. "Wadduh, gimana ini kalau Andrea tau, Jika aku suaminya hobbi bermain judi? Tapi kali ini utangku terlalu besar, dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?" Revan bermonolog dalam hatinya. Revan pun, melamun di pinggiran kolam. Revan mempunyai hobbi bermain judi, sejak dibangku Sekolah Menengah Atas. Namun karena Revan anak yang cukup cerdas sejak kecil, sehingga dirinya selalu menjadi salah satu murid yang mendapatkan Juara Umum, karena dia memang cerdas semenjak di Sekolah Dasar. Bahkan ketika dia lulus kuliah dia mendapatkan predikat "Cumlaude", dengan nilai IPK tertinggi, di Kampus nya. Selama ini Andrea tidak mengetahui jika suaminya punya hobbi bermain judi, bahkan jika suami nya pulang larut dari kantor, dia selalu mengira kalau suaminya lembur bekerja. Padahal Revan bermain di situs judi Online, bersama teman-teman nya di Apartemen yang dia sewa tanpa Andrea ketahui. Diruang santai, Andrea menunggu Revan yang tak kunjung menghampirinya. lalu diapun menyusulnya ketepi Kolam.! Dan benar saja, terlihat Revan masih melamun ditepian kolam. Gegas Andrea menghampirinya. "Sayang, kenapa melamun? Ada masalah apa, cerita dong sama aku.!" Revan, tak bergeming. Andrea, menepuk bahunya sampai Revan berjingkat kaget. "Eh sayang, ngagetin aja." "Ada apa kamu melamun sampai segitunya, aku tanya ga jawab-jawab." "Ga ada apa-apa ko, Sayang." "Kalau ga ada apa-apa, kenapa kamu ngelamun, sampai ga tau aku kesini.? coba aku lihat handphone kamu boleh Sayang?" "Kenapa, Ga ada apa-apa kok. Yaudah ayok kedalam, atau mau renang kamu?" "Engga, yaudah ayo kita kedalam." "Ada apa sebenarnya dengan mass Revan, gak kayak biasanya? Sebaiknya aku cari tau nanti di handphone'nya pas dia lagi ga fokus." Rutuknya Andrea. Andrea sama Revan masuk kedalam rumah, mereka nonton berita up-todate hari ini. Dan ketika mereka nonton TV, ada satu berita yang mengabarkan bahwa sekarang sedang marak judi online. Andrea pun mengajak suaminya ngobrol tentang itu. "Ya ampun sayang, sekarang lagi marak judi online katanya, sampe ada yang habis ratusan juta gitu. Kasian anak istrinya yah?" "Iya sayang, kasian anak istrinya.jadi korban keegoisan Papah nya." ~~~~~•••~~~~~ Keesokan Harinya. Hari ini, hari minggu dimana Revan harus kembali keluar kota tempat disana dia mencari nafkah. Andrea membantu memasukan baju-baju Revan kedalam Koper, sementara Revan sedang mandi. Sebenarnya berat bagi kedua'nya harus menjalani LDR, karena kedua'nya mempunyai nafsu yang tinggi. Namun keadaan yang memaksa mereka untuk berjauhan, demi masa depan keluarga kecil mereka. Kala itu, Andrea masih kangen sekali sama suaminya, masih ingin bercinta pagi itu, namun urung dia meminta.Takutnya Revan kecapean dijalan. Namun, setelah dia berpikir kembali. "Lebih baik aku susul aja ke kamar mandi, dari pada aku nahan. Belum lagi nanti harus nahan lagi lima hari kedepan." Setelah bermonolog sendiri, langsung Andrea menyusul sang suami kedalam kamar mandi, terlihat Revan dibawah guyuran air shower, membelakangi Andrea. Dengan tanpa sehelai benangpun, Andrea memeluk badan kekar nan gagah itu dari belakang, yang membuat Revan tersenyum mengembang dan berkata. "sayang, kamu mau lagi ehm?" "Iya sayang, aku mau sekali lagi sebelum mass berangkat kembali." "Baiklah sayang." Revan berbalik, menggendong Andrea ala koala, lanjut mendudukan Andrea diatas kloset. Lanjut merasakan lembah nikmat Andrea dengan lidah basahnya, yang membuat Andrea kembali kenikmatan, begitu juga putik melati Andrea tak lepas dari sentuhan tangan Revan yang membuat Andrea candu, mereka kembali bercinta hingga duapuluh menit lamanya. Setelah puas bercinta, dan mereka pun beneran mandi. Andrea keluar duluan dari kamar mandi, juga berganti baju. Sedangkan Revan masih mandi, karena tadi sempat buang Air dulu. Ketika Andrea sedang berias, handphone Revan berdering, Andrea ragu untuk mengangkatnya. Dan Andre akhirnya membiarkan, sampai dering Phonecell'nya tak terdengar lagi. Namun selang 2 menit, Handphone'nya berdering lagi. Akhirnya Andrea mengambil Handphone suaminya, dan melihat siapa yang menelpon. Dan disitu, terlihat nomernya tanpa nama. "Siapa ini" Andrea pun bertanya-tanya siapa yang nelpon suaminya, tapi meski ragu Andrea akhirnya menjawabnya. "Hallo, maaf siapa ini" "Hallo, bisa bicara dengan pak Revan?" "Maaf, tapi suami saya sedang dikamar mandi." "Oke, yasudah nanti saya menghubunginya kembali." Tut, panggilan ditutup secara sepihak. "Siapa tadi yang telpon mass Revan yah, ga biasanya ada nomer tanpa nama.? Ko sekarang Mas Revan jadi beda ya, Kemarin di kolam habis terima telpon melamun, sekarang ada telpon tanpa nama." Apa ada yang dia sembunyikan dari aku? sebaiknya aku tanya dia aja, biar aku ga penasaran." Rutuknya Andrea. Lalu taklama, Revan keluar dari kamar mandi. Andrea, langsung menanyakannya. "Sayang." "Iyaa Sayang, ada apa?" "Barusan pas kamu lagi mandi, ada telpon dari nomer yang tidak dikenal di Handphone kamu. Terus aku angkat, lalu aku tanya "dengan siapa" tapi dia ga bilang, cuma nanyain kamu doang. Terus katanya, mau telpon kamu lagi nanti." "Ooh, paling itu Nasabah baru kali Sayang." "Mungkin kali yah, tapi kan biasanya kalau nasabah baru kan anak buah kamu yang menangani?" "Kalau ada yang ga paham, biasanya keaku nanya nya." "Tapikan jarang banget Nasabah telpon kepala cabang, masa iya mas?" "Ya aku juga ga tau sayang, biarin aja. Entar aku telpon balik aja ke orangnya." "Yaudah, kalau gitu." Revan pun merasa tenang, karena istrinya tak menanyakan lagi perihal telpon tanpa nama itu. "Syukurlah akhirnya istriku ga bertanya lagi, bisa kacau kalau dia tau rahasia besarku." Aku akan coba pinjam ke boss, buat bayar hutang agar tak terlalu besar hutangku. Rutuknya dalam hati. Kini Revan berganti baju, dan mengajak Andrea keluar kamar. Untuk menghampiri anak-anak nya yang sedang main di halaman rumah sama suster. Revan taklupa membawa koper, dan turun kebawah bersama Andrea. Lanjut Revan menghampiri ke'dua anak nya di depan Rumah. "Sayang nya Mommy sama Papih, lagi pada ngapain ini?" Tanya mereka, menyapa anak-anak nya. Mereka pun, berhamburan memeluk Mommy dan Papih'nya. "Ayo siapa yang mau digendong Mommy?" "Atau yang mau digendong Papih siapa nih?" "Atu(aku) au(mau)enong(gendong) apih adah(aja.)" Jawab sibungsu. "Yaudah, sini Ade sama Papih.!" Dan sang Kakak, ikut langsung minta digendong ama Mommy'nya. "Sayang-sayang nya Mommy, ama Papih udah pada makan blm?" "Udah Apih." Jawab mereka. "Siip kalau gitu hebat anak Papih, terus udah pada minum s**u belum?" "Udah Papih." "Papih seneng, kalian udah makan sama minum susu.Temani Papih yuk diruang makan, Papih mau sarapan dulu, terus Papih mau berangkat lagi keluar kota. Kakak sama ade, jangan nakal ya ga ada Papih harus sayang sama Mommy ya." "Iya Papih Tata(kaka), ga batal(bakal) nakal daddy." "Oke, kalau gitu." Begitulah Revan berinteraksi dengan anak-anak nya sebelum kembali keluar kota, tempatnya bekerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN