pagi sekitar pukul delapan pagi, Jay sudah siap berada di rumah Neyna. rencananya hari ini dia akan mengantar Neyna untuk hari pertamanya ia akan terapi.
orang tuanya Neyna juga ikut menemani, meskipun begitu Jay akan merasa tidak enak pada Neyna. Terlebih Jay harus memberikan semangat untuk Neyna bukan?
"Jake udah siap, Nak?" tanya perempuan yang kerap disebut Mama
Jay mengangguk. "Udah, Ma. Neyna gimana?"
"Neyna udah siap kok. Sana deh, kamu ke kamarnya jemput dia," titah sang Mama
maka dari itu Jay langsung meranjakan kakinya menuju kamar milik Neyna. Setelah sampai di depan pintu kamar, Jay mengetuk pintu terlebih dahulu. Tak lama, terdengar sahutan sang pemilik kamar di dalam. Yang menyebutkan jika Jay boleh masuk.
Akhirnya Jay masuk ke dalam kamar. Di sana dia bisa melihat Neyna yang duduk di kursi roda dengan sangat anggun. Bagiama tidak, Neyna menghiasi rambutnya dengan bando cantik berwarna biru langit. Warna yang menjadi kesukaannya dia sejak keccil.
Melihat penampilan Neyna yang manis seperti itu, Jay teringat pada sosok Neyna kecil yang dia kenal sebagai Delima. Senyum dan sorot matanya tak pernah berubah, malah Jay berani menilai jika senyum Neyna kali ini bertambah lebih indah. Apalagi rambutnya yang semakin hitam lebat.
"Ngapain si liatin aku kaya gitu?" Neyna rupanya salah tingkah dibuatnya saat di tatap oleh Jay seserius itu.
Jay tertawa pelan, kemudian berjongkok di depan kursi rodanya Neyna.
"Semalem siapa yang marah-marah gak jelas, nyebutin kalo dirinya gak sesempurna dulu?" tanya Jay
Dan Neyna otomatis merasa tersipu, karena seseorang yang Jay maksud itu adalah dirinya. Neyna semalam menangis, mengadu kepada Jay melalui sambungan telepon. Mengatakan betapa menyedihkannya dia duduk di kursi roda bahkan berani menyebutkan dirinya tidak sempurna, dan tidak beruntung.
"Sekarang liat. Diri kamu sindah ini. Masih berani bilang kalo kamu gak cantik?" lanjut Jay begitu meneduhkan
Neyna tersenyum hangat mendengar kalimat begitu teduh dari Jay. "Kamu suka aku pake bando ini ya?" tanya Neyna kemudian
Jay otomatis mengangguk. "Sangat suka malah."
bukan senang, raut yang ditunjukan Neyna adalah kerinyitan di dahinya pertanda jika dia keheranan.
"Sejak kapan?" tanyanya masih dengan dahi yang terlipat. "Biasanya, kalo aku pake bando. kamu suka nyebut aku kaya anak kecil, dan berakhir kamu nyuruh aku buat lepasin bandonya."
Jay terdiam. Otomatis merasa dirinya berada di jalan yang buntu. Tetapi, karena ini adalah resikonya yang harus dia tanggung. Jay berusaha untuk kelihatan baik-baik saja dengan tersenyum.
"Aku baru sadar. Ternyata kamu pake bando, bisa cantik banget," sahutnya. "Maaf ya. baru sadar sekarang," sambungnya lagi, hanya kini tangannya Jay bergerak mengusap kepalanya Neyna.
"Ck! dasar kamu!" setelah itu Neyna tertawa. "Yuk!" katanya lagi mengintruksi Jay agar segera pergi.
Jay mengangguk, dan segera mendorong kursi rodanya Neyna untuk beranjak dari kamar itu.
Sebetulnya, Jay sudah bilang jika dia saja yang mengendarai mobil. Tapi Papa Neyna memaksa untuk Jay duduk saja di belakang menemani Neyna. Terlebih Neyna yang tidak mengizinkan Jay untuk menyetir, karena dia masih teringat kejadian kecelakaan itu.
Jay akhirnya luluh dan duduk di samping Neyna. Sementara Mama duduk di samping Papa yang mengemudi.
perjalanan tidak memakan waktu yang begitu panjang, sampai akhirnya mobil yang dikendarai Papa berhenti di parkiran tempat Neyna terapi untuk berjalan lagi.
Seperti biasa, Jay yang mendorong kursi rodanya Neyna.
Lalu setelah Neyna sudah di depan suster yang membantu, Neyna mulai menekadkan dirinya untuk berjuang. Jay di sampingnya tetap menemani, dan Mama, Papanya melihat di arah kejauhan.
Sebelum memulai, Neyna menoleh ke arah Jay dan berkata. "Jake, janji sama aku. Kalo aku udah bisa jalan lagi, pernihakan kita harus dilakukan ya?"
Jay tidak langsung menjawab. Dia sebetulnya merasa belum enteng di dalam hatinya, tapi dikarenakan tidak ada hal lain selain mengangguk. Jay akhirnya menganggukinya seraya tersenyum, seolah tidak ada sesuatu yang dipikirkan secara berat.
"Iya. Nanti kita buat pesta pernikahan yang lebih mewah ya?"
Neyna tersenyum senang dan mengangguk. "Oke."
"Kalo gitu, jangan nyerah ya buat sembuh."
"Iya, Jake."
Seteleh itu Neyna menjalani terapinya.
Sementara Jay, melihat Neyna berlatih dengan pandangan yang haru. Jay senang bisa berada di samping itu jujur saja. Tapi yang membuat Jay merasa berat di dalam hatinya adalah, dia harus terlihat sebagai Jake di depan Neyna.
Jay tahu, Jake di sana pasti akan bahagia melihat ini semua terjadi dengan sesuai yang dia inginkan. Tetapi, di sini Jay masih terus beradaptasi sampai semuanya benar-benar merasa enteng untuk Jay nikmati.
Selang beberapa Jam Neyna melakukan terapi. Di tengah menunggunya, Jay beringsut sejenak untuk mencari minum karena mendadak kerongkongannya kering, padahal dia tidak berbicara panjang lebar. Tapi rasa dahaga itu kuat sekali Jay rasakan.
Setelah menemukan satu botol air mineral dingin, Jay tidak langsung kembali pada Neyna. Dia memilih duduk sejenak di salah satu kursi yang menghadap ke taman yang menyejukan karena di tumbuhi beberapa tanaman dan rerumputan hijau.
Jay memandangi pohon besar yang daunnya bergerak oleh angin. Jay tahu, keputusan ini suatu saat akan membuat Neyna merasa hancur. Tapi, untuk sementara waktu Jay pikir ini bisa menyembuhkan gadis itu dari luka. Dan Jay bersedia melakukan permintaan Kakaknya karena, Jay tidak mau melihat cinta pertamanya dulu bersedih. Terlebihm Jay memiliki hutang budi yang sangat besar pada Jake.
"Jake!" Panggil seseorang
Yang dipanggil tetap diam. Dia sama sekali tidak menoleh seolah tidak mendengar panggilan namanya. Sampai seseorang itu menyentuhnya, baru Jay menolehkan pandangannya.
"Gue panggilin gak nyaut. lagi ngelamunin apa sih? soal Neyna ya pasti," kata laki-laki berkacamata itu.
Jay sejujurnya tidak mengenali lelaki itu, karena sudah pasti orang itu adalah kenalannya Jake. Tapi beruntungnya, di seragamnya terdapat name tag yang membuat Jay tahu namanya. ya, setidaknya Jay tahu namanya.
"Oh Sory. Lan, gue gak fokus," sahut Jay mencoba untuk terlihat asik.
"Lagi ngelamunin apa sih?" Alan penasaran rupanya.
"Nggak kok. Gue cuman lagi sedih aja, liat keadaan Neyna sekarang." Begitu kata Jay.
Alan otomatis menepuk sebelah pundak Jay. "Gue tau, ini pasti berat buat lo. Tapi gue yakin deh, lo bisa laluinya. Secara lo udah tulus gini jadi pasangannya dia.
"Tapi Neyna bisa sembuh kan ya?" tanya Jay
Alan mengangguk. "Pasti, Neyna bisa sembuh kok."
"Eh tapi ngomong-ngomong," sambung Alan. "Keadaan lo udah pulih?"
"Gue masih harus periksa ke dokter sebulan sekali. Cuman gue gak bilang Neyna takut dia kepikiran, dan malah terus nyalahin diri dia sendiri."
Alan menganggukan kepalanya setuju.
"Oh iya. Gue lupa, nih Jake. Dulu, gue lupa kapan pastinya. Tapi yang jelas udah lama banget sekitar bulan februari akhir gitu kali ya." Alan kembali bersuara dengan pembahasan yang baru.
"Iya kenapa?" tanya Jay yang sudah penasaran.
"Gue liat lo datang ke acara pemakanan. Itu pemakaman siapa ya?"
Otomatis membuat Jay berdegup kencang dan hanya bisa terdiam sesaat karena saking terkejutnya.