Bab 3 : Tiga Bulan Kemudian

1111 Kata
Tiga bulan kemudian... Ada detak jantung yang berpacu tidak biasa Neyna rasakan semenjak seminggu yang lalu dia terbangun dari komanya. Meskipun harus kehilangan kemampuan berjalannya, Neyna setidaknya dapat bersyukur bisa kembali mengirup udara dunia. Ada hal yang membuat Neyna merasa sedih adalah, begitu dia tersadar Jake tidak ada di sampingnya. Dan kata Mamanya, Jake sedang pergi ke Belanda untuk menemui ibunya yang katanya sedang sakit parah. Dan memang semuanya benar, hanya saja yang melakukan itu buka Jake melainkan Jay. “Neyna, makan dulu, nak. Kamu harus minum obat,” kata Sang sang Mama di depan meja makan. Sementara Neyna hanya menoleh sambil berdehem untuk menyahutinya. Setelah itu, kedua nayanikanya ia fokuskan lagi ke luar, ke jendela yang menampilkan taman yang ditumbuhi beberapa tanaman bunga yang indah. Bunga mawar merah di sana begitu cantik, Neyna sampai tak lepas untuk memandangi bunga itu. Neyna teringat, jika bunga itu adalah bunga pemberian dari Jake saat ulang tahunnya kemarin. Jake bilang, dia bingung akan memberikan hadiah apa pada Neyna, akhirnya Jake memberikan satu tangkai bunga mawar lengkap dengan tanah dan potnya. Katanya, agar Neyna bisa merawat bunga itu, dan swaktu-waktu jika Jake kedapatan pekerjaan yang mengharuskan ia ke luar kota, Neyna bisa melepas rindu melalui bunga itu. Dan saat ini, anehnya Neyna tak merasakan rindu itu surut meski sudah memandangi bunga mawar itu lama-lama. Dan pada saat mesin mobil terdengar berhenti di depan rumahnya, Neyna segera menolehkan pandangannya dan segera mendorong rodanya untuk sampai pada sebuah pintu. Mama yang melihat itu hanya membuang napasnya, sebab dia juga tidak banyak protes. Karena wajar, Neyna sudah rindu pada kekasihnya. Pintu terbuka, Neyna tersenyum kala wajah yang selama ini ia rindukan muncul di hadapannya secara nyata. Pemilik wajah itu juga sama tersenyum hangat, dan segera menyamakan posisinya dengan posisi Neyna yang duduk di kursi roda. “Kamu gak perlu repot-repot buat sambut aku, Neyna,” katanya begitu lembut Neyna tersenyum kemudian langsung memeluk tubuh itu, melepas segala berat akan kerinduan padanya. Jay juga berperilaku sama. Dia memeluk Neyna begitu dalam dan hangat. Sampai pelukan itu berakhir, satu yang Jay lakukan adalah menghapus air mata yang mengalir di pipinya Neyna. “Kamu nangis?” tanya Jay Neyna mengangguk. “Aku nangus terharu. Karena kita sama-sama dikasih kesempatan buat hidup.” Jay otomatis mengangguk seraya tersenyum. Tapi, jujur saja dalam hatinya Jay merasakan geleyar pedih yang sulit untuk ia jelaskan. Di belakangnya, Mama menyaksikan interaksi dua pasangan itu. Mama ikut sedih melihatnya, sampai dia sulit untuk menahan air matanya agar tidak meluruh begitu saja. Mama tahu, ini keputusan yang paling bodoh. Tapi jika ini adalah pesan yang Jake katakan. Mama rasa dia tidak ada alasan untuk menolak, terlebih kebahagiaan Neyna lebih diutamakan. “Aku belum salim sama Mama,” kata Jay mengalihkan pembicaraan Neyna tertawa pelan. “Oh iya.” Setelah itu Neyna mempersilahkan Jay untuk mencium tangan Mamanya. “Sehat ma?” tanya Jay begitu sudah mencium punggung tangan Mama Mama mengangguk seraya tersenyum hangat. “Sehat kok, Jake. Ayo, sini duduk.” Mama menggiring Jay untuk duduk di kursi meja makan. Jay mendorong kursi rodanya Neyna, lalu duduk di kursi meja makan depan Mama. “Tadi Neyna Mama suruh makan karena mau minum obat kan. Tapi dia gak mau, ngeyel banget tau Neyna ini gak mau minum obat kalo belum disuruh kamu.” adu Mama pada Jay Jay seketika menatap Neyna. Gadis itu lantas tersenyum malu-malu. “Kamu nakal ya. Mau sembuh gak?” “Mau dong!” sahut Neyna cepat “Yaudah, kalo gitu minum obatnya yang rajin ya?” Neyna mengangguk setelah itu dia menerima suapan nasi dari tangannya Jay. Neyna senang melihat Jake lagi setelah kecelakaan naas itu. Neyna tidak tahu bagaimana jadinya jika Jake tidak selamat, dia pasti sudah akan kehilangan sebagian kewarasannya. Tapi kenyataannya tidak begitu bukan? Yang dihadapannya bukan Jake yang selama ini ia kenal. Dia adalah Jay yang Neyna kenal sebagai laki-laki pelindung semasa kecilnya. “Kamu mulai terapinya kapan?” tanya Jake seraya dia menyuapkan nasi ke dalam mulutnnya Neyna. “Kapannya Ma?”Neyna malah melempar pertanyaan itu pada Mama. “Hari kamis. Jadwalnya seminggu tiga kali, selasa, kamis, sama sabtu,” kata Mama Dan Jay otomatis mengangguk. “Kamu, gak sakit apa-apa?” tanya Neyna Dan itu membuat Jay terdiam, sekaligus Mama. Mama juga ikutan merasa berdebar mendapati pertanyaan itu dari Neyna. “Tangan aku patah, tapi sekarang udah lumayan sembuh. Terus, jari jempol kaki aku diamputasi.” Neyna tidak bisa berkata-kata apalagi mengetahui kondisi terkininya Jay yang dia anggap sebagai Jake. Bukan hanya Neyna yang terkejut, tapi juga Mama. Mama juga baru mendengar itu semua, dan dia merasa panik karena takut Neyna meminta penjelasan akan luka yang Jay peroleh. Dan tentu saja Jay tidak memiliki luka kecelakaan itu bukan? “Katanya kamu sempet koma ya?” tanya Neyna lagi Dan Jay mengangguk. “Iya. Sebulan.” Tiba-tiba saja, Neyna menundukan kepalanya kemudian dia mulai merasakan hatinya yang pilu. Jay yang penasaran dengan perubahan sikapnya Neyna. “Kamu kenapa?” tanya Jay “Kalo aja waktu itu aku gak rebut hp kamu. mungkin kita gak bakal kaya gini,” kata Neyna sambil terisak menangis. Jay juga merasa ikut sedih. Sedihnya bukan kepada keadaaannya. Tapi kepada ke keadaan Neyna yang bersedih karena menyalahkan dirinya sendirinya. “Itu bukan salah kamu,” sahut Jay seraya membelai pucuk kepala Neyna secara lembut dan hangat. Neyna masih menangis sedih. Dan Jay segera berupaya untuk menghentikan kesedihannya Neyna. “Sayang.” Untuk pertama kalinya Jay memanggil kata sayang kepada Neyna. “Gak ada yang mengharapkan kejadian ini. Kejadian ini itu di luar kendali kita, jadi jangan nyalahin diri sendiri, ya?” Neyna mengangkat kepalanya. Dan di saat itu, Jay menghapus air matanya. “Tapi kamu tetep mau sama aku kan Jake?” Jay tertawa pelan. “Kamu ini bilang apa sih. kok begitu?” Jay merasa apa yang diucapkan Neyna barusan itu konyol. Mana mungkin dia akan meninggalkannya. “Ya siapa tau, kamu gak mau punya pacar cacat kaya aku.” Jay menggeleng cepat, kemudian berbicara. “Kamu gak cacat. Kamu cuman lagi sakit, nanti juga sembuh. Dan gak ada alasan buat pergi dari hidup kamu.” “Beneran?” tanya Neyna dengan sorot mata yang penuh akan keprihatinan. Jay luluh, melihat sorot mata yang hancur itu Jay tidak tega. Makanya, dia memeluk tubuh gadis itu lagi setelah menyimpan sendok bekas menyuapi Neyna ke atas piring di meja. “Aku gak akan bohong. Hati aku udah ada di kamu, jadi gimana bisa aku pergi,” ungkap Jay sepenuh hati “Makasih ya Jake.” Jay mengangguk, sambil memeluk Neyna. Di balik senyumnya Jay hari ini, ada segelintir perasaan tak biasa, saat Delima yang dulu ia jaga memanggil namanya dengan sebutan Jake, bukan Jay.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN