Bab 1 : Jalan yang membawa petaka
Hari yang menyenangkan setelah hari-hari yang sibuk mereka jalani. Jake, seorang laki-laki usia 25 tahun yang bekerja sebagai karyawan kantor, membuat waktu menyitanya sangat banyak. Padahal pernikahannya bersama kekasihnya bernama Neyna yang baru saja menginjak angka 24 tahun akan segera dilaksanakan dalam kurun waktu kurang dari sebulan.
Persiapan pernikahan itu, baru terjalankan sekitar 40 persen. Dan sisanya, akan diselesaikan sedikit demi sedikit dimulai hari ini.
Perjalanan dari rumah Neyna sudah sejak sekitar tiga puluh menit yang lalu, namun karena jarak tempuh yang tidak dekat membuat Jake dan Neyna masih berada di dalam mobil yang berjalan di ruas jalan tol.
“Kamu udah hubungi designer nya belum?” Jake bertanya di sela mengemudinya.
“Udah kok.” Neyna menjawab setelahnya.
“Habis fitting baju. Kita cari soufenir kan?” Jake kembali bertanya, tapi kali ini dengan topik yang berbeda.
“Iya. Sekalian aja. Kamu gak sibuk kan?”
Jake menggeleng. “Nggak dong. Kan hari ini udah aku khususkan buat nyiapin pernikahan kita,” sahut Jake
Neyna tersenyum senang. “Iya. Aku gak sabar banget sampe ke hari bahagianya kita.”
Jake menganggukinya setuju. Soal perasaan tak sabar memijaki hari acara pernikahannya Jake sepertinya adalah orang yang tak sabaran melebihi Neyna.
Hari pernikahan mungkin adalah satu moment yang sangat dinantikan bagi siapapun. Termasuk Jake dan Neyna yang sudah berpacaran kurang lebih tujuh tahun.
Dan tahun ini, ketika Jake sudah diangkat sebagai karyawan tetap dan Neyna sudah menyelesaikan pendidikan S1 nya. Mereka memutuskan untuk menikah.
“Oh iya. Jake. Aku belum bahas ini ke kamu, ya?” Neyna kembali bersuara, memecah fokus Jake pada ruas jalan tol.
“Soal apa?” kening Jake mengerinyit, tanda jika dia memang sangat bertanya-tanya.
“Soal aku yang memutuskan untuk tetep ngajar setelah menikah. Gak apa-apa, jadi guru honorer dulu. Kan nanti siapa tau ada rezekinya diangkat jadi PNS.”
Jake menganggukan kepalanya tanda ia mengerti. Meski begitu, Jake masih belum mengutarakan pendapatnya.
Jujur saja, Jake ingin Neyna di rumah saja. Dalam artian, biar mereka fokus ditugas masing-masing. Tapi, jika Neyna memiliki tujuan, dan tujuan itu bagus. Jake rasa, dia lebih baik mendukungnya dari pada melarangnya.
“Gak apa-apa. Kalo itu tujuan kamu, aku akan dukung.”
Neyna tersenyum mendapati jawaban itu. “Makasih ya, Jake.”
Jake mengangguk seraya senyumnya terbit.
Ketika suasana menghening, tiba-tiba ponsel milik Jake berbunyi. Jake melihat layar ponselnya yang menampilkan panggilan masuk, dan dia segera langsung mengambilnya sebelum Neyna melihatnya lalu dia bertanya-tanya soal siapa orang dalam panggilan masuk itu.
“Siapa?” Neyna bertanya
Wajah Jake berubah pucat, dan dia jadi bingung sendiri bersembunyi dalam kalimat apa.
“Itu ... temen aku.” Jake berusaha menjauhkan ponselnya dari jangkauan Neyna.
“Sini, biar aku yang angkat.”
Jake menggeleng. “Nggak. Aku aja.”
“Kamu lagi nyetir Jake,” sela Neyna
“Cuman sebentar kok gak apa-apa.”
Neyna merasa tak habis pikir. Mengangkat panggilan dalam berkendara di laju kecepatan jalan tol bukan sesuatu yang diperbolehkan, karena itu dapat membahayakan.
“Gak boleh, Jake. Bahaya. Sini deh, biar aku aja.”
Neyna sudah mengarahkan tangannya untuk merebut ponselnya Jake. Tapi laki-laki itu sigap menjauhkannya sehingga usaha Neyna sia-sia.
Jake bersikeras agar Neyna tetap tidak tahu dengan orang yang sedang memanggilnya ini. Sebab Jake rasa, dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan dia semenjak perpisahan kedua orang tuanya bertahun-tahun silam, jadi Jake merasa Neyna tidak perlu tahu siapa dia. Dan Jake juga kesal, kenapa dia masih berani menghubunginya lagi, tapi sepertinya yang lebih membuat Jake kesal adalah dirinya yang masih saja menyimpan kontak itu.
“Kenapa sih, Jake. Cuman temen kamu kan? Ya, gak apa-apa dong aku yang terima panggilannya,” kata Neyna lagi. “Apa jangan-jangan temen yang kamu maksud itu, selingkuhan kamu, ya!”
Kini Neyna sudah menaruh tatapan penuh curiga pada Jake. Di tatap begitu, Jake segera menggelengkan kepalanya.
“Bukan, Na. Bukan, sumpah!”
“Yaudah, kalo bukan sini hape nya.”
Panggilan masuk itu sempat terputus,tapi selang beberapa detik panggilan itu masuk lagi. Dan Neyna semakim sadar, jika panggilan itu sangat penting bukan unsur basa-basi saja.
“Biar aku aja.” Lagi-lagi Jake keras kepala.
Bagaimana tidak Jake keras kepala seperti itu, jika orang yang memanggilnya saat ini adalah orang yang selama ini ia tutup-tutupi dari kehidupannya saat ini.
Dia adalah Jay, kembarannya yang sudah lama berpisah dengannya hanya karena perceraian orang tuanya.
Perpisahan itu, berawal dari Mama nya memilih untuk meninggalkan Papa dan menikah lagi dengan laki-laki berkebangsaan Belanda yang harta dan tahtanya lebih tinggi dibanding Papa.
Karena Mama orang yang berkhianat, Jake dan Jay sepakat untuk memilih Papa untuk menjadi teman hidupnya. Tapi pada saat itu, Mama sering mengiming-imingi Jake dan Jay dengan hidup yang mewah jika mereka ikut bersama Mama.
Tapi Jake dan Jay tetap memilih hidup bersama Papa meski dengan keterbarasan ekonomi. Suatu hari, Jake menemukan sepucuk surat di atas nakas kamarnya Jay. Surat itu mengatakan isi hatinya Jay yang meminta maaf atas keputusannya untuk ikut bersama Mama tinggal di Belanda. Di situ, Jake merasa sakit hati dan kecewa pada Jay. Sampai sekarang hubungan mereka masih saja tidak baik-baik saja.
Dan entah kenapa, atau mungkin Jay mendengar Jake akan menikah sebentar lagi. Makanya, dia berani menghubunginya lagi seperti ini. Padahal Jake sama sekali tidak mengharapkan ucapan selamat atau kehadiran laki-laki itu.
Nama kontak dengan nama Jay masih tertera di layar ponselnya. Dihitung, ini sudah panggilan ketiganya. Dan Jake sama sekali belum tahu meski ia apakan panggilan masuk ini selain menolaknya. Tapi sebelum Jake menggeser tombol merah pada layar ponselnya yang menyala karena panggilan masuk. Neyna berbasil merebutnya.
“Selingkuhan kamu kan?” tanya Neyna seraya sorot matanya yang berapi-api.
“Aku bilang biar aku aja, Na. Sini kembaliin handponenya!”
“Nggak!” Kekeh Neyna.
Jake akhirnya bergerak mencoba untuk merebut ponselnya kembali. Tanpa memikirkan mobil yang harus stabil berjalan.
Neyna yang sadar jika tindakan Jake ini dapat membahayakan, menegur Jake. “Stop. Jake. Ini bahaya, jangan gegabah.”
“Ya, siniin dulu handphonenya.”
“Aku cuman mau angkat telfonnya, Jake.”
“Nggak!” Kekeh Jake seraya bergerak mencoba meraih ponselnya lagi.”
“Awas Jake. Pembatas jalan!”
Dan suara debaman mobil yang menabrak beton pembatas jalan sangat nyaring terdengar. Di susul oleh suara klakson dari pengendara lain yang bersahutan.
“Jake ....” Neyna merintih di tengah jalan terbaring lesu dengan darah yang merembes di bagian pelipisnya.
Di sisa tenaganya yang Neyna punya. Neyna mengarahkan penglihatannya ke arah mobil mereka yang sudah hancur tak berbentuk. Di dalam mobil yang sudah hancur, ada tubuh Jake yang terjepit mengenaskan. Kedua mata Jake terpejam, dan Neyna menangis melihat itu. Dia ingin berharap Jake dapat selamat, tapi untuk mengetahui dirinya bisa bernapas esok hari saja Neyna rasa dia tidak sanggup.
Sampai suara sirine Ambulance dan polisi sampai di tempat kejadian. Kesadaran Neyna hilang, bersama harapan-harapan baik untuk Jake.