Kembali

1276 Kata
Ale tengah duduk santai dipinggir lapangan, kakinya kanannya ia letakan diatas kaki kirinya, disampingnya kini ada sekaleng minuman dingin, dan ditangan kirinya memegangi bungkus makanan ringan yang tengah ia nikmati. Sesekali ia tertawa melihat wajah kepanasan teman gambar yang kelewat rajin itu. Bagaimana tidak? Disaat matahari sedang berada tepat diatas kepala seperti ini mereka malah berdiri tegak dengan sikap hormat pada bendera. Tapi tak apalah, hitung hitung karena berani beraninya mereka mencoba mengerjainya. "Woiii Abby !! Reynand !! Sinii duduk sama gue, nih minum seger nih." Setelahnya Ale tergelak sendiri saat melihat tatapan yang paling baik dari kedua belah pihak itu. Ale meraih minumannya, meminumnya dengan gerakan menggoda lalu mengusap lehernya dengan bergumam berkata segar, sengaja menggoda mereka. Wajah teman teman Ale yang melihat itu sontak semakin memerah, Ale semakin tergelak di tempatnya bahkan sampai memegangi perutnya, "Haduh kalian tu, mau mau aja sih diperintah Pak Botak." gumam ale disela tawanya. Ale kembali makan snacknya sambil asik menonton berita dan sesekali tertawa lagi, ia meraba kaleng minumannya, mengangkatnya lalu mendesah kecewa ketika tahu minumnya habis. Ia berdiri, membersihkan bagian belakang rok abu abunya, melempar bungkus kosongnya serta kaleng minumannya ke tempat s****h lalu kembali menatap teman. "Wooyy teman temanku yang Ale cintai dan Ale sayangi, Gue ke kantin yak? Jangan kangen! Bentar doang nyari minum sama snack lagi buat nemenin gue selama nonton kalian. Baik kan gue? Daaaa!" Teriak Ale lalu berbalik dan- DUGH "Aduh!" Ale memegangi jidatnya yang terasa sakit setelah membentur sesuatu yang keras bahkan sampai ia melangkah mundur beberapa kali, ia mendongak menatap seorang siswa yang kini tengah menampilkan cengirannya pada Ale. Ale memutar bola mata jengah melihat pemuda didepannya, "Minggir! Gue mau lewat!" Pemuda itu cemberut, "Ya elah putri, jangan galak galak sama calon suami napa!" Seketika Ale merasa mual, ia bergidik lalu melotot pada pemuda dihadapannya, "Mimpi lo ketinggian! Minggir ah gue mau ke kantin!" ucap Ale berjalan ke sebelah kanan. "Putri lapar? Mau gue temenin makan?" Ale mengepalkan tangan ketika pemuda itu menghalangi jalannya. "Gue bilang minggir!!" sungutnya kesal, jangan lupakan matanya yang terus melotot hingga siswi siswi yang melihat itu khawatir jika mata Ale akan mencuat dan menggelinding keluar. Pemuda dengan name tag 'Darren Bagaskara' didada nya itu menjadi salah tingkah di tempat. "Duh, Princess, gue tau kok gue ganteng, natapnya biasa aja bisa? Gue salting ni," Ale menepuk jidatnya keras, sepertinya pemuda didepannya ini sedang mengalami gangguan penglihatan sehingga tidak bisa membedakan mata tatapan galak dan mana tatapan memuja. "Lo b**o tapi kok bisa naik kelas sih Dar?" Mulai, ucapan pedas Ale keluar jika wajah garang dan sentakannya tidak mempan melawan manusia seperti Darren. Darren sama sekali tidak tersinggung, ia malah menggaruk belakang kepalanya lalu menggedikkan bahu, "Gue juga heran, padahal nilai matematika gue juga 20, tanpa remidial gue bisa ranking 1 pararel. Aneh ya?" Lagi, Ale menepuk jidatnya kencang. Darren ini benar benar. "Jelas lo naik kelas! Yang punya sekolah ini kan Bapak lo, Dar!" kesal Ale dengan membentak. Darren menampilkan cengiran kudanya. "Ehehe iya, karena itu kali ya? Oh iya, omong omong, gue suka lo panggil Dar, Darling kan maksudnya?" Ale mendelik dengan pandangan horor. Begini nih jika ia lama lama meladeni manusia aneh dihadapannya. "Ralat! Lo bukan b**o, tapi kelewat b**o!" ucap Ale untuk yang terakhir kalinya lalu segera pergi secepatnya menghindari Darren yang terus memanggil manggil namanya. Ale berjalan cepat, enggan menengok kebelakang lagi. 'Ya lord, untung ganteng tu bocah.' desah Ale dalam hati. Ale kembali ke kelas, tadinya ia ingin kembali ke pinggir lapangan, tapi ia urungkan lagi niatnya, takut jika harus bertemu dengan Darren lagi. Ia sedang tidak ingin bertengkar dengan siapapun. Ale berjalan dengan langkah pasti menuju kelas, ia merasa Handphone nya bergetar, merogoh ponsel sembari berjalan, "Duh mana si." gumam Ale ketika Handphonenya sulit untuk diambil dari rok sekolahnya. Tanpa menghentikan langkahnya, ia agak menunduk untuk memastikan roknya tidak terangkat- BUGH "Aduh!" Lagi, Ale merutuki kesialannya hari ini hingga harus menabrak orang dua kali hari ini. Yang ini lebih parah sih, karena Ale sampai jatuh terduduk dan jidat yang berdenyut denyut nyeri. Ale mengusap jidatnya lalu mendongak, ia bersitatap dengan pemuda yang ditabraknya, sejenak Ale merasa melihat wajah pemuda itu menegang dengan mata yang agak melebar, namun itu tak bertahan lama setelah pemuda itu menetralkan kembali ekspresi wajahnya. Tangannya terulur menawarkan bantuan pada Ale tanpa mengatakan apapun. Ale berdecak, ia memutar bola mata malas kemudian memandang pemuda dihadapannya sengit, "Gak perlu!" ucapnya sambil berdiri. Pemuda itu masih tetap diam lalu menarik kembali tangannya yang masih terulur, Ale mendongak untuk menatap lebih jelas lagi wajah pemuda yang ia tabrak, atau yang menabraknya? Untuk sejenak Ale tertegun, garis wajah laki laki dihadapannya ini sangat mirip dengan seseorang di masa lalunya, sahabat kecilnya, cinta pertamanya. Ale mengepalkan tangan erat saat mengingat Dia lagi. Ia benci kata ini, tapi ia masih berharap sahabat kecilnya datang lalu menjelaskan kenapa ia pergi begitu saja. "Lo ngga mau minta maaf sama gue ?!" desis Ale dengan tatapan tajam menusuk. Tubuhnya condong kedepan mencoba mengintinidasi. Otomatis pemuda itu agak memundurkan wajah yang ditatap begitu tajam oleh Ale, alisnya terangkat satu. "Gue gak salah." ucapnya Ale menegakkan kembali tubuhnya, "Salah! Jelas jelas lo nabrak gue! Jalan tu pake mata!" Diluar dugaan Ale, pemuda dihadapannya malah tertawa sambil mengacak rambut Ale gemas, seakan hal itu adalah hal biasa yang sering ia lakukan membuat Ake membeku ditempatnya. "Oke gue minta maaf, karena gue emang sengaja nabrak lo. Lain kali perhatiin jalan didepan lo, jangan ceroboh." nasihatnya kemudian berlenggang pergi meninggalkan Ale yang masih terdiam di tempat. Baru beberapa langkah ia kembali menengok, "Oh iya satu lagi, untuk menghindari tabrakan tabrakan yang kemungkinan terjadi lagi, gue kasih tau. Jalan itu pake kaki, bukan mata." pemuda itu kembali terkekeh geli kemudian benar-benar pergi meninggalkan Ale yang baru tersadar dari kekagumannya melihat senyum dan tawa pemuda tadi. Ale menggelengkan sebuah kepalanya, untuk menyadarkannya dari kekagumannya tadi. Ia memantau jantungnya yang berdetak cepat seakan ingin meledak ditempatnya. Tawa, senyum dan gaya bicara pemuda tadi sangat persis dengan sahabat kecilnya. "Woyy urusan kita belum selesai !!!" teriak Ale sebelum pemuda yang sudah didepannya menghilang dari ujung koridor. Ale menarik nafas panjang, jantungnya masih saja berdetak cepat, perasaan rindu yang tiba-tiba datang juga datang sesak. Ale menghembuskan nafas berkali kali lalu memilih berlari menuju kelas, agar ia bisa menginformasikan apa yang baru saja ia alami pada Abby dan Reynand. Mereka pasti akan menenangkan dirinya sekarang ini. Sesampainya di kelas, Ale melihat semua teman dengan keadaan sedang memegang buku masing-masing. Ck. Jangan terlalu berpikiran positif! Mereka memegang buku bukan untuk dibaca, melainkan dijadikan kipas. Ada yang sedang tiduran dilantai depan kelas, ada yang duduk dimeja, ada yang duduk dikursi dan menyandarkan tubuh di tembok, dan masih banyak lagi yang tak bisa dijelaskan. Ale mengedarkan pandangannya, mendapati sosok Abby dan Reynand ia segera berlari kearah mereka. Abby menatap Ale tajam, cari buka mulutnya untuk mengomel, tapi kembali terkantup ketika mendapatkan serangan berupa pelukan erat dari Ale. Sontak ia terdiam, ia tahu pasti ada apa apa dengan sahabatnya ini. Sedangkan Ale, mengabaikan tubuh bau dan berkeringat Abby, ia tetap menerapkannya erat. "Al, lo kenapa?" Ale hanya terdiam dan semakin mengeratkan pelukannya, membuat Abby mengerti bahwa yang dibutuhkan Ale sekarang hanyalah sebuah pelukan. Ia belum ingin bercerita. Reynand yang melihat itu menatap Ale serius, "Why Al? Si Darren gangguin lo again? Mau gue tonjok itu anak? Gak peduli dia anak yang punya sekolah, kalau dia berani apa apain lo, dia gak akan lepas dari gue." Sungguh sungguh-sungguh. Ale menggeleng di pelukan Abby, membuat terdiam. Abby dan Reynand akhirnya diam, memberi kesempatan untuk menenangkan pikirannya. Tapi mulut Reynand yang gatal ingin memecah keheningan malah membeberkan sesuatu yang harusnya belum boleh Ale diketahui karena kondisinya sekarang. "Oh iya, Al. Arsen kembali. Dan dia sekolah disini." DEG Seketika Ale melepaskan pelukannya pada Abby, menatap Abby dan Reyn dan meminta penjelasan penjelasan. Abby menatap tajam pada Reynand membuat pemuda itu cengar cengir ditempat. "Berarti cowok yang tadi nabrak gue, itu Arsen ?????"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN