Hari s**l

1459 Kata
Ale celingukan didepan kelasnya, Rizal bilang ia akan menunggu Ale didepan kelasnya jika waktu pulang sudah tiba. Ale melirik jam buka gelisah, pulang sudah berbunyi 10 menit yang lalu, dan kelasnya pun sudah bubar. Tapi ia sama sekali tidak menepukan batang hidung Rizal dimanapun. "Ish mana si tu bocah, gatau apa gue lagi pengen cepet cepet pulang. Apa gue tinggal aja ya? Ah, ntar gue kenal omel Mommy lagi. Aishh," Ale tak berhenti menggerutu hingga akhirnya ia menghembuskan nafas lega kala melihat Rizal yang muncul dari ujung lorong. Dengan tak sabaran, Ale segera berlari dengan fokus kearah Rizal yang sekarang tengah menatap horor kakaknya itu. BRUKK "Aduh! s**l banget sih gue!" pekik dan gerutu, saat lagi, ia menabrak seseorang. "Gue kan udah bilang, jalan tu pake kaki, bukan pake mata." DEG Suara itu lagi .. Jantung Ale tiba tiba berdetak cepat, rasa rindu membuncah sekaligus sakit hati membuat dadanya sesak. Matanya mulai berkaca kaca sekarang, jika dulu ia akan melakukan kontrol pria dihadapannya ini kala ingin menangis, sekarang ia malah ingin pergi Cipta mungkin agar pria dihadapannya tidak melihat tangisnya. "Lo ngga niat buat bangu-" "Misi," Tangan Ale tertarik begitu saja, bangun bangun, tahu jika yang menariknya adalah Rizal, ia langsung meringsek masuk kepelukan Rizal, area mata basahnya tanpa bicara apapun. Sedangkan Arsen, ia menatap semua itu dengan seksama, bagaimana sahabat kecilnya menerapkan pria yang tiba tiba, bagaimana pria itu menarik Ale-nya. Diam diam ia mengepalkan suara kencang. Siapa pria berani beraninya menggunakan Ale-nya ?? !! Rizal melirik kearah tangan Arsen yang mengepal sekilas, lalu tersenyum menatap wajah Arsen yang rasanya tak asing karena Ale selalu menunjukan fotonya, yahh walaupun foto saat pria itu masih kecil, belum tumbuh belum menjulang dengan tubuh atletis dan wajah yang semakin tampan seperti sekarang. "Maaf, dia emang sedikit ceroboh. Gue bawa dia balik dulu. Permisi." pamit Rizal sopan tanpa melepas pelukannya pada Ale, Ale pun sama, masih tetap perumahan yang didada milik sang adik, enggan menatap Arsen. Arsen terus memandangi mereka, bahkan sampai Ale dan Rizal menghilang diujung koridor. "Jadi gue udah dilupain?" lirih Arsen kemudian memilih mengikuti mereka ke parkiran. Diparkiran kini Rizal tengah mengacak rambutnya frustasi, sedari tadi kakaknya menangis dan tak mau berhenti, diajak masuk kedalam mobil pun tangis Ale malah semakin kencang membuat Rizal bingung menghadapi sikap yang baru pertama kali ini ia lihat dari sang kakak. "Duh, Al, udah dong nangisnyaa." " Hiks ! Gak ada pengertiannya banget sih! Gue sedih inii!" Tangan Rizal terulur, mengusap air mata Ale dengan lembut, "Udah, jangan nangis lagi." hiburnya mengeluarkannya jurus kelembutan mautnya. Ale menatap Rizal dengan tangis yang semakin menjadi, "Huaaaaa kok lo lembut banget siii," Kepala Rizal bergerak membenturkan sebuah ke pohon yang ada disampingnya beberapa kali, setelah puas, ia kembali menatap Ale yang masih sesenggukan. Ia hentikan Ale, memegang kedua bahu Ale dan menatap kakaknya dengan lembut, "Ale, dengerin gue. Lo pikir dengan lo nangis kejer kayak gini itu cowok bakalan ilang lagi dari sini? Engga kan? Percuma Al, lo nangis nangis gini malah bikin lo keliatan lemah. Sekarang lo berhenti nangis, gue bakal ada disisi lo terus, gue gak akan kemana mana. " Tangis Ale mereda, Rizal segera mengusap air mata Ale dan tersenyum lembut saat ia berhasil menarik perhatian Ale. Ia membawa Ale kedalam pelukannya, "Udah ya, Ijal, jangan nangis lagi." Ale tersenyum dipelukan Rizal, kemudian melepas pelukannya. "Yaudah yuk pulang," ajak Rizal menarik pintu mobil. "Tunggu," Rizal berhenti lalu menatap Ale yang terdiam dengan menatapnya, otomatis Rizal kembali berdiri dihadapan Ale. "Kenap- ALEEE DASI GUEEEEEEEE !!!!!!!" Teriak Rizal jijik saat dengan gamblangnya Ale menarik dasinya lalu mengeluarkan ingusnya disana, teriakan Rizal hanya dibalas cengiran oleh Ale lalu gadis itu segera ambil langkah seribu masuk kedalam mobil meninggalkan Rizal yang cepat cepat melepas dasinya. Dasinya sudah tidak steril. Dasinya terkena Virus! Kalo gak dilepas rabies ntar. Ck! Segala u*****n dan makian ia tujukan pada Ale sambil menenteng dasinya dan melempar ke jok belakang, ia bisa saja membuang dasi itu, tapi itu dasi kesayangannya, ah sudahlah, biar ia cuci 7 kali nanti, salah satunya dengan tanah. Sedangkan disisi lain, diparkiran bagian motor, seseorang memperhatikan mereka dalam diam, ia sengaja memakai helm fullface nya agar tidak dikenali. Setelah melihat interaksi antara Ale dan Rizal, ia mengepalkan tangannya kuat kuat lalu memukul bagian depan motornya dengan kencang, persetan jika motornya rusak, ia sama sekali tidak peduli. Dengan cepat ia menyalakan motornya lalu keluar dari area sekolah dan melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata rata, ia ingin cepat sampai dirumah, menuntut ayahnya. karena ayahnya, ia jadi kehilangan sahabat kecilnya. Cinta pertamanya. Sesampainya dihalaman, Ale segera menghentikan mobilnya, ia keluar dari mobil, didepan pintu sudah ada Vian yang merentangkan tangannya lebar, menunggu Ale yang akan berlari dan memeluknya erat seperti biasa. Tapi hari ini Ale nampak tak berminat sedikitpun memeluk Vian, bahkan melirik pun tidak. Lihatlah bagaimana gadis itu yang hanya melangkah cepat masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan Vian yang melongo ditempat. Kepala Vian menengok mengikuti perginya Ale, namun posisinya masih sama, merentangkan tangannya lebar. "Om Om minggir Om! Ijal mau lewat." Kepala Vian kembali berputar kedepan, menatap Rizal yang sedang menatapnya aneh. "Kakakmu kenapa Jal?" Rizal menggedikkan bahu acuh, "Om mau Ijal peluk?" tanya Rizal saat Vian tetap merentangkan tangannya sejak tadi. Cepat cepat Vian menurunkan tangannya. "Kamu! Papa kan udah bilang, panggil Papa Vian ini Papa, jangan Om," gerutu Vian. "Tapi Ijal lebih suka panggil Om, gimana dong?" Vian mendengus melihat tampang polos bocah didepannya ini. "Panggil Papa aja, jangan Om!" "Tapi kan kalau Papa sering kasih Ijal duit buat jajan Om, Om kan jarang." Vian mendelik saat tahu apa yang diinginkan Rizal, dengan enggan ia menarik dompet kulitnya dari balik jas, mengambil beberapa lembar uang berwarna merah lalu menyodorkannya pada Rizal. "Dibagi sama Kakaknya, jangan dijajanin sendiri!" Dengan cengiran lebarnya Rizal mengambil uang yang disodorkan Vian dengan semangat, "Makasii Paaa, Iyaa ntar Ijal bagi sama Ale, Ijal masuk dulu yaa, Dadaa papaa," ceria Rizal sambil melambai pada Vian. Vian berkacak pinggang menatap kepergian keponakan bungsunya itu, yahh,  tak apalah ia bagi uang jajan, yang penting dia dipanggil Papa. Daripada Om kan, meskipun usia Vian sudah memasuki kepala 3, ia tidak mau dipanggil Om. Kedengarannya tua sekali. Ck. Didalam kamar, Ale terus berguling kesana kemari, ia belum mengganti seragamnya, ia masih resah memikirkan tentang kembalinya Arsen. Jauh dilubuk hati terdalamnya ia ingin memeluk Arsen, bercerita banyak mengenai kesehariannya setelah kepergian Arsen, menanyakan alasan kenapa Arsen pergi tanpa berpamitan padanya, dan masih banyak hal lain yang ingin ia lakukan dengan Arsen. Tapi lagi lagi, rasa kecewa dan benci lebih mendominasi semua keinginan Ale, membuatnya semakin bimbang. Pintu kamar Ale terbuka, menampakan Rizal yang sama sama belum berganti pakaian. Ale kembali menenggelamkan wajahnya Dibantal, ia merasa kasur disampingnya melesak, menandakan ada orang yang menempatinya. Rizal tidur telentang disamping Ale yang tengkurap, ia menatap langit langit kamar Ale yang dipenuhi stiker berbentuk awan. "Dia beda ya sama yang di foto. Gantengan aslinya." Walaupun samar, Rizal dapat mendengar bahwa Ale berdecak, tak lama, Ale mengubah posisinya jadi menyamping kearah Rizal. Ia memeluk gulingnya erat. "Kenapa tu kutil kuda balik sii? Padahal gue udah hampir lupa sama tu makhluk." Rizal mencibir, "Iya hampir lupa sampe sampe tiap malem masih suka liatin fotonya." Ale melotot, kemudian menoyor kepala Rizal pelan, "Lo ya Jal! Kalo ngomong, suka bener." Rizal mendelik, lalu memilih kembali menatap langit langit kamar Ale. "Gue harus gimana?" "Jal." "gue ngomong sama lo elahh," Rizal menghembuskan nafasnya, lalu menatap Ale, "Ya bersikap biasa lah. Yakali lo mau bersikap seakan akan lo pacarnya dia, kan aneh! Apalagi kalau seandainya dia udah punya pacar," "DIA UDAH PUNYA PACAR ??????" Rizal menutup telinganya rapat rapat, lalu mengusapnya karena berdengung akibat teriakan Ale, "Ck! Gausah teriak!" "Lagian lo kalau ngomong! Masa dia udah punya pacar ?? Gak tau apa kalau gue mikirin dia terus! Gue gak terima!" "Nah kan lo ketahuan, katanya udah hampir lupa," Rizal kembali mencibir membuat Ale cengengesan. "Ish Jal! Lo tau darimana dia udah punya pacar?" "Seandainya Ale, seandainya. Gue ngga bilang dia udah punya pacar." Ale terdiam. Ia kembali menenggelamkan wajahnya dibantal guling yang sedang ia peluk. "Pokoknya selama disekolah, gue gak akan mau dia deketin, biar dia ngerasain gimana rasanya ditinggalin!" seru Ale menggebu gebu. Rizal menatap geli pada Ale, "Emang dia mau deketin lo?" Ale melotut kearah Rizal, namun itu tidak mempan sama sekali, dengan santainya Rizal malah melipat lalu dijadikan sebagai bantalan sebuah. "Ishh Jal gue harus gimana doong ??" "Lah, tadi lo bilang gak mau dia deketin, yaudah gitu aja kok repot." Ale bergerak menggigiti ujung sarung bantalnya, "Lo gak ngerasain apa yang gue rasain sih." Rizal memutar bola matanya, lalu memilih memejamkan matanya hingga suara dentingan ponsel Ale yang tepat disampingnya mengganggunya. Rizal meraih ponsel Ale lalu melemparnya kearah Ale, "Notif lo banyak noh, tumben hp jomblo rame." "ngejek gue lo ya!" dengus Ale lalu menggunakan ponselnya. Dan apa yang selanjutnya ia lihat sukses membuat mata dan mulutnya terbuka lebar. arsenxaviero Mulai Mengikuti Anda arsenxaviero menyukai foto Anda arsenxaviero menyukai foto Anda arsenxaviero menyukai foto Anda arsenxaviero menyukai foto Anda arsenxaviero menyukai foto Anda arsenxaviero menyukai video Anda arsenxaviero menyukai foto Anda arsenxaviero menyukai foto Anda arsenxaviero menyukai video Anda arsenxaviero menyukai video Anda "APA APAAN INI BAMBAAANGGGG !!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN