Es Krim

1545 Kata
dalisyael ((Gambar)) ❤ 9,736 suka 106 komentar dalisyael karena kamu semua yang aku butuhkan ❤ jangan tinggal di Ale yaa Jal, apalagi tanpa pamit. @fharizalrajataaa darren.bgskr Gue juga gaakan kemana mana kok Princess, gue bakal ada disisi lo setiap saat, ayaplu pullll @ dalisyael reynandff Sindiran keras bossqueee wkwkwk dahlianada Eh, ini Rizal adek kelas kita bukan? Yang tadi siang deketin si Raya ?? @saffaagp @thitaptr @ shafiraya.p saniaaaa_ Wehh cewek bisa romantis juga ternyata, terkejoet gue Sannyyyy_ @saniaaaa_ gue juga tercengang. Wkakakakak Abigailprmtha Aaaaaa mauu dong diromantisin, sama Ijal tapi: * saffaaagp @dahlianada Iyaa itu yg tdi ngajak si Raya ke kantin shafiraya.p @dahlianada Hmmmm dalisyael IJAAAALLLLLL LO GODAIN SIAPAAA BAMBAAANGGGGGG !!!!!!! thallitaptr Lo siapanya Ijal si @dalisyael sewot banget reynandff Wahh belum tau, kasih tau Al! @dalisyael fharizalrajataaa @dalisyael gue gak godain siapa siapa sumpahhhh apalagi kakak kelas mana berani gue-, dalisyael @thalittaptr LO GA BISA BACA ???? BACA NOH CAPTIONNYA !!! BUAT SIAPA LAGI CAPTION ROMANTIS BEGITU HAHH ??? @fharizalrajataaa GAMAU TAU GUE MARAH SAMA LO !!!! "Aleeeeeeeee," rengek Rizal disebelah Ale yang tengah mendiamkannya. Sejak muncul komentar yang berbunyi jika Rizal kakak kelas itu, menjadi meradang seketika. "Gue gak kenal dia siapaa elahh," rajuk Rizal balik menatap kakaknya yang masih terpasang tampang garang itu. Ale mendelik kearah Rizal, sedetik kemudian ia mencengkram kedua bahu Rizal erat kemudian mengguncangkannya. "Demiiii Jall Demii gue yang gagal move on dari si Arsenn itu ya, ngapain coba lo godain Kakak kelass! Mana cewek macem dia lagi! Kek ngga ada cewek lain ajaa! Inget umur lo tu masih bocah Jal, ya ampunnn, gue aduin Mommy lama lama, "omel Ale "Gue bilang gue ngga kenal diaa Alee! Kok lo lebih percaya sama dia siii!" Ale release bahu Rizal, menatap adiknya itu dengan tatapan menyelidik. "Beneran?" Rizal berdecak, kemudian menggenggam tangan Ale erat, "Lo kan tau sendiri kalau adek lo ini gantengnya ngalahin artis korea Ooh Sehun, jadi lo jangan kaget kalau ada aja cewek yang ngaku ngaku digodain gue atau bahkan ngaku ngaku pacar gue. Tolong deh Al, gue juga inget pesen Mommy, jangan pacaran dulu sampe gue umur 16 atau 17 tahun. " Namun, ia juga merasa tenang saat mendengar penuturan yang diluar ambang batas percaya diri namun meyakinkan itu. Akhirnya Ale menghembuskan nafas lama kemudian menarik dari Rizal, "Oke, gue percaya kata kata lo." Senyum Rizal melebar, ia bertepuk tangan girang lalu menerapkan Ale, tingkahnya persis seperti anak kecil. Ck. Rizal memang masih kecil. .................................................. ........ Arsen menatap layar ponselnya dengan nanar. Dimana layar ponselnya sedang menyuguhkan sebuah gambar dimana Ale sedang dipeluk seorang pria. Pria yang sama yang membawa Ale pulang tadi. Hingga tanpa sadar ia meremas kuat kaleng minuman dalam genggamannya membuat sebagian minuman itu tumpah. "Ck! Arsen! Mama baru aja selesai bersihin karpet itu!" Arsen tersadar, ia segera meletakkan ponselnya lalu menatap sang Mama yang tengah berkacak pinggang tak jauh mengalahkan. Arsen menampakan cengirannya, ia meletakkan kaleng yang sudah agak remuk itu ke meja, lalu berdiri sambil menggaruk tengkuknya gugup. "Emm Maaf Maa, Biar Arsen bersihin." Arsen mengambil alih kain lap yang ada ditangan sang Mama, kemudian pergi ke dapur untuk membasahi kain itu. Luna yang penasaran dengan apa yang dilihat Arsen segera mendekatkan kearah ponsel sang putra. Ponsel Beruntung Arsen belun dimatikan dan masih menampilkan layar dimana foto sudah berada. Luna tersenyum penuh arti lalu segera menjauh sebelum Arsen datang. Tak lama, Arsen datang. Ia langsung berjongkok dan membersihkan karpet yang terkena tumpahan minuman dengan kain basah yang dibawanya. "Gimana sekolah barumu? Kamu betah?" tanya Luna setelah Arsen selesai membersihkan karpetnya. Arsen menegakkan tubuhnya, ia melipat lap basahnya kemudian memandang Luna dengan senyuman kecil, "Betah kok Ma," "Karena ada Ale?" Senyum Arsen menghilang, ia langsung menatap Mama dalam. "Jadi Mama sengaja masuk ke sekolah itu karena mama tau disana ada Ale?" Luna terkekeh, ia berjalan pelan lalu duduk disofa, nenepuk bagian samping sofa mengisyaratkan agar Arsen duduk. Tanpa tunggu lama Arsen segera duduk disamping Luna, masih menatap penasaran pada sang Mama. "Mama tau selama 10 tahun belakangan ini kamu ngga betah tinggal di Paris," Arsen tersenyum kecil, ia menunduk. "Maaf," Kenapa minta maaf? "Pasti gara gara Mama tau Arsen ngga betah disana, Mama minta ke Papa buat tinggal disini lagi," Tangan Luna terulur, mengusap puncak kepala Arsen sayang, "Salah Mama sama Papa juga, kenapa dulu asal bawa kamu ke Paris aja, waktu kamu masih tidur lagi. Jadi ngga bisa pamit sama Ale deh," lanjutnya dengan senyum menggoda. Seketika Arsen menatap Luna. Ia malu. "Emmm, jadi .. Mama, tau kalau-" Luna tertawa geli melihat ekspresi baru anaknya itu, ia mencubit pipi Arsen pelan. "Mama tahu, bahkan sejak kalian masih bayi aja udah nempel banget." Arsen meringis. Ia menggaruk tengkuknya gugup. "Jadi gimana? Udah ketemu Ale?" godanya lagi. Arsen tersenyum kecil, memandangi ponselnya yang sudah menampilkan layar gelap. "Arsen telat. Ale udah punya pacar." Luna mengangguk paham, "Kalau kamu beneran suka, perjuangkan," Arsen mendelik, "Mama nyuruh Arsen buat bantahan Ale dari pacarnya gitu?" "Huss! Ngga, maksudnya perjuangkan itu, wait mereka putus, baru pepetin." Arsen membulatkan mulutnya sambil mengangguk mengerti. "Yaudah deh, Mama mau masak dulu, bentar lagi Papa pulang. Inget, Mama nyuruh kamu buat nunggu, bukan jadi perusak hubungan orang." ucap Luna lalu beranjak pergi. Arsen menatap kepergian Mamanya, lalu mengalihkan pandangannya pada lap basah yang masih ia genggam. "Nunggu ya?" Ia menghela nafas panjang. "Insyaallah ya Ma, kan Arsen udah nunggu 10 tahun." monolognya sambil memainkan kain lap. "Lagipula, Arsen ngga ngerusak hubungan orang. Arsen cuma mau ambil balik Ale-nya Arsen. Apa yang udah jadi milik Arsen, ngga boleh akui orang lain." Arsen mengunggingkan senyum miring. "Dan Ale, hak paten milik Arsen." lanjutnya. Ia terkekeh geli dengan tingkahnya, lalu menyusul menyusul Sang Mama ke dapur untuk meletakkan kain lap basah ditangannya. .................................................. ........ Ale tengah menendang nendang kaleng kosong dihadapannya, ia sedang kesal! Ia sedang dalam mood buruk, seperti biasa, jika moodnya sedang turun ia selalu menginginkan es krim. dan Rizal sama sekali tidak dapat diajak berkompromi! Ale memasukan kedua berkat kebanggaan jaket dengan wajah ditekuk. Ia menatap sekeliling taman mencari pencari es krim kesukaannya. Malam ini taman cukup ramai hingga ia berani keluar sendiri tanpa Rizal. Sesaat kemudian menangkap gerobak es krim kesukaannya, dengan semangat 45 ia segera berjalan cepat, bahkan hampir berlari menghampiri tukang es krim yang nampak kewalahan karena dikerumuni banyak orang. "Duh, misi misi," Kedekatan ingin membelah kerumunan didepan tukang es krim kesukaannya. "Eh Mbak, antri dong!" omel seorang ibu yang tengah menggendong anak kecil yang sedang menangis. Ale mengerucutkan bibirnya, lalu memilih mundur sambil menatap penuh harap pada tukang es krim yang sedang menatap kearahnya, tukang es krim itu tidak tersenyum enak lalu kembali membuat pesanan untuk pembelinya. Ya seperti suasana, ia akan sangat sensitif ketika sedang badmood. Hal sekecil apapun bisa membuatnya menangis, seperti saat ini. Ale yang mengusap sudut matanya yang berair sambil menatap kerumunan pembeli yang terus pesanannya membuat si tukang es krim kebingungan. Setelah menunggu hampir setengah jam, kerumunan mulai sepi, Ale segera mendekat setelah satu pembeli terakhir pergi. "Pak, Mau rasa stroberi yaa," "Yahh, es krimnya sudah habis neng," "Ale pingin es krim gimana dong pak," mata Ale berkaca kaca dengan bibir yang semakin mengerucut. Jika seperti ini, tidak akan ada yang percaya jika disekolah Ale adalah siswi tergalak. Si tukang es krim itu mengusap tengkuknya tak enak, "Besok lagi ya neng, lagipula ini sudah malam. Neng ngga pulang?" Ale menggeleng, ia menunduk sambil mengusap udara matanya, "Bapak kalau ngga mau ngasih saya es krim ngga usah sok akrab sama sok peduli. Saya ngga suka sama tukang PHP!" "Lah? Saya tukang es krim neng, bukan tukang PHP," tukang es krim itu meringis. "Yaudahlah," ambek Ale lalu segera berbalik dan pergi meninggalkan si Tukang Es Krim yang masih berdiri kebingungan. Ale yang berjalan dengan lesu, es krimnya tidak dia dapatkan. Lagi, Ale menyeka air matanya. "Nih Es Krim," Ale membuka matanya lalu mendongak menatap es krim stroberi dihadapannya, lalu tatapannya kian naik kearah wajah seseorang yang sedang mengulurkan es krim itu. Setelah tau siapa orang yang mengurus es krim, Ale menunduk, wajahnya memanas. "Ngga perlu, makasih." Arsen memutar bola matanya, "Ambil Ale", Ale menggeleng, seketika satu isakan lolos dari bibirnya membuat Arsen kelimpungan. "Hei, kenapa tambah nangis," Arsen menarik Ale kedalam pelukannya. Ale semakin terisak, ia memukul mukul d**a Arsen, "Why new come now! Why ngga pamit sama Ale! Why tiba ngilang! Kenapa engga bilang dulu sama Ale! Why go! Whyaa," tangis Ale semakin menjadi diakhir kalimatnya, membuat Arsen tergugu . Arsen mencabut es krimnya lalu segera mempererat pelukannya pada Ale yang masih menangis. "Maaf, waktu itu aku masih dalam keadaan tidur waktu dibawa ke Paris. Perusahaan Papa disana hampir bangkrut, jadi udah kita harus menetap disana sampai keadaan kembali stabil. Maaf ngga sempet bilang ke kamu." Arsen mengecupi puncak kepala Ale sayang, ini yang ia rindukan. "Why ngga pernah ngehubungin Ale!" Arsen meringis. "Karena aku gatau akun sosial media kamu." Kenapa ngga caru tahu! Arsen menarik nafas panjang, "Karena kalau aku tahu, dan nyoba ngehubungin kamu, yang ada aku tambah rindu, dan bisa nekat pulang ke Indonesia cuma karena kamu." Blush . Seketika pipi Ale memerah, beruntung wajahnya masih ada didada Arsen, sehingga Arsen tidak melihat wajah merahnya. Setelah dirasa pipinya sudah tidak panas, Ale rilis pelukan Arsen, "Persetan! Gue marah sama lo! Jangan kejar gue!" pekik Ale lalu segera berlari meninggalkan Arsen yang masih mematung. Merasa tak ada yang mengikutinya, Ale berhenti, lalu menengok kearah Arsen yang masih diam ditempat. "Iisshh kenapa engga dikejaar !!!" teriak Ale marah. "Katanya jangan dikejar," balas Arsen tak kalah berteriak. Seketika Ale kembali terisak, "Whya Arsen teriak sama Ale! Hiks. Dasar cowok gak peka! Gue benci sama lo!" teriak Ale lagi lalu pergi. Arsen, antara ingin tertawa dan marah. Ale-nya benar benar ajaib. "Ale tunggu!" Tak lama, Arsen segera berlari menyusul Ale yang juga masih berlari, hingga mereka terlihat seperti sedang main kejar kejaran. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN