Arsen berdiri, menatap Ale yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tajam beberapa meter dihadapannya sana.
Arsen tersenyum simpul, "Masuk sana,"
"Lo ngusir gue ?!"
Mata Ale melotot galak membuat Arsen terkekeh lagi.
"sekarang udah malem Ale, ngga baik perempuan diluar malem malem."
Ale lebih banyak orang yang melihatnya mendengar penjelasan Arsen. Beberapa saat terdiam membuat Arsen melangkah mendekat.
Kenapa?
Arsen memberikan kesempatan untuk mengelus puncak kepala Ale, namun gadis itu menghindar dengan menggeser tubuhnya kesamping, menjauhi Arsen.
"Apa? Sana pergi! Gue ngga mau liat lo lagi!"
Arsen menghembuskan nafas panjang, lalu lalu Ale dengan cepat, tak sedikitpun memberi waktu untuk Ale agar menebak apa yang akan ia lakukan, Arsen segera menangkup kedua pipi Ale dan menatap Ale lekat.
"Aku ngga akan beranjak dari sini sebelum memastikan kamu masuk rumah dengan selamat."
Sejenak, Ale serasa terhipnotis melihat tatapan teduh Arsen, tapi kemudian ia tersadar dan segera menepis tangan Arsen.
"Lebay!"
Arsen tersenyum geli ketika melihat pipi Ale yang merona, "Sana masuk. Titip salam buat Mom sama Dad,"
" Hate You! " Ucap Ale kemudian berbalik dengan kesal, ia membuka gerbang lalu menutup gerbang itu dengan kencang tepat dihadapan Arsen.
" Good Night Too! " Balas Arsen, ia tersenyum puas lalu segera berbalik dan pergi menuju taman setelah ingat ia meninggalkan motor kesayangannya di Taman saat menghampiri Ale tadi.
Ale menutup pintu dibelakangnya dengan kencang, ia bersandar pada pintu lalu menarik nafas yang panjang. Demi dewa Neptunus di Bikini Bottom, Ingin rasanya Ale kembali keluar, lalu mencoba Arsen masuk, mengurung Arsen untuk dirinya sendiri. Tapi lagi lagi Ego dan amarah masih menguasai jiwa Ale, ragu untuk melakukan hal itu.
Lagi, Ale menarik nafas panjang. Ia masih sangat merindukan Arsen. Pelukan ditaman tadi rasanya terlalu singkat.
"Ale?"
Ale menoleh dengan cepat, bahkan terlalu cepat hingga membuat Anna yang memanggil Ale tadi mengernyit bingung.
Kenapa sayang?
Ale terdiam beberapa saat, "Hah? Umm ngga papa kok Mom. Hehe,"
Anna memicing curiga, ia melirik jam dinding lalu kembali melirik Ale.
"Jam segini masih disini aja, sana tidur."
"A-Ah yaa oke siap. Selamat malam Bu ,"
Setelah pernyataan demikian Ale segera berjalan cepat menaiki tangga, tanpa menoleh lagi ke arah Anna yang masih menatapnya lekat.
Ale terus berjalan, kamar pintu kamar yang berwarna putih, ia memilih masuk kedalam kamar dengan pintu berwarna coklat muda.
Setelah didalam, ia melirik kearah ranjang dengan spray putih lengkap dengan sang empu kamar yang tengah bergelung nyaman dibawah selimut hangatnya. Tanpa pikir panjang Ale menghampiri ranjang itu, ikut masuk kedalam selimut lalu berbaring nyaman disamping pemuda yang sama sekali tidak terganggu akan hadir Ale.
Sebelum memejamkan matanya, Ale menarik nafas panjang lagi. Selagi matanya terpejam, kilasan kilasan pertemuannya dengan Arsen tadi terbayang, membuat rasa rindu yang belum terobati itu kembali hadir.
"Kangen .." rengeknya pelan.
"Tapi gengsi. Gimana dong?" bisik ale lagi, ia menggigit ujung selimut dengan gemas lalu memilih memejamkan mata dan tidur dengan Arsen sebagai tokoh utama dalam mimpinya kali ini.
.................................................. .........
Ale tengah berjalan dikoridor sekolah dengan malas, kantung mata yang bergelayut manja dibawah matanya menandakan bahwa ia sangat membutuhkan tidur saat ini. Tapi apalah daya sang Mommy yang terus menerus menerornya agar ia bangun membuat Ale mau tak mau harus menuruti perkataan sang Mommy.
Ale berhenti melangkah untuk sewaktu-waktu, hanya untuk mengambil nafas kemudian ia menutup mata dan menguap selebar lebarnya mengabaikan tatapan mata siswa yang lewat padanya.
Ia kembali membuka mata dan tersadar ketika ada seseorang yang berdiri tepat didepannya. Ale Mendongak, kemudian pandangannya bertemu dengan pandangan geli sosok yang semalam ia mimpikan.
"Ngantuk?"
Tangan pemuda yang tak lain adalah Arsen itu mengelus surai lembut Ale, membuat rasa kantuk yang sudah hadir makin menjadi jadi.
Ale hanya mengangguk sambil menikmati elusan tangan Arsen dikepalanya.
Lagi, Arsen tersenyum geli.
Mengabaikan tatapan penasaran siswa yang menatap kearah mereka, Arsen menarik Ale ke taman sekolah, ia duduk dibawah pohon rindang lalu menarik Ale agar ikutan duduk.
Ale mengernyit bingung tapi tak urung mengikuti apa yang Arsen suruh, Arsen mendekap Ale, membungkus tubuh mungil itu dengan tubuhnya yang besar.
"Tidur," bisikan itu bagaikan sebuah perintah bagi Ale.
Dengan menikmati rangkulan hangat Arsen serta elusan tangan dikepala nya, Ale memejamkan matanya, kembali menggapai alam mimpi. Hingga tiba tiba ia merasa Arsen menggoncangkan tubuh nya kuat, bahkan dengan sengaja ia menarik hidung dan pipi Ale dengan kencang membuat Ale terusik.
"Ale bangunn !!"
Spontan mata Ale terbuka, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tengil sang adik. Rizal.
"Loh, Arsennya manaa?" tanya Ale sambil terduduk.
Rizal yang memakai seragam sekolah lengkap menatap Ale aneh.
"Arsen apaan? Ngimpi lo? Bangun bangun! Udah siang nanti kita telat. Kebo banget sih."
' s**l, cuma mimpi.' batin Ale sebal.
Dengan malas Ale menguap lebar sekali, lalu menyibak selimut milik Rizal lalu segera keluar dari kamar Rizal, menuju kamar.
Rizal menatap ranjang tidurnya yang berantakan lalu menggeleng. Ia menarik selimut yang tadi dipakai Ale lalu melipatnya rapi, menata semua bantal dan merapikan bedcovernya.
Rizal sang pecinta kerapihan.
.................................................. .........
Arsen melepas helm fullface nya, meminta motor lalu turun. Ia sedikit merapikan rambutnya lalu berjalan santai menuju kelas.
"Pagi Arsen,"
Arsen melirik tanpa minat, tanpa langkahnya ia kembali menatap lurus kedepan, mengabaikan sapaan segerombolan gadis yang menatap penuh minat padanya.
Gadis yang menyapanya tadi mengerucutkan bibir kesal kala tak mendapat respon dari Arsen.
"Yeee kasian dikacangin."
"Ish sombong banget si tu cowok."
"Untung ganteng ya, Na? Hahaha"
"Tau ah,"
Arsen mengabaikan suara yang dibelakangnya itu, Ia tetap cuek hingga matanya berbinar senang ketika menangkap sosok yang semalam hadir dalam tidurnya.
Mempercepat langkah kakinya, Arsen segera menghampiri sosok itu.
"Pagi, Ale."
Ale, yang tengah menenteng tasnya malas menengok kearah Arsen, Ia menguap lebar tanpa malu dihadapan Arsen. Sedangkan Arsen tertawa kecil sebagai respon.
Benar-benar menggemaskan!
"Ngantuk?"
Ale mengangguk angguk sebagai jawaban, Arsen mengangkat siap untuk mengusap kepala Ale, namun sebuah tangan lain sudah menepisnya.
"Weyyy apa apaan lo?! Gak boleh ada yang pegang pegang rambut Princess Ale kecuali gue!"
Arsen kembali menarik tangannya, lalu mendaratkan tangannya itu disaku celananya dengan tenang, walaupun keinginan untuk mendorong pemuda tengil itu ke jurang menggebu gebu.
Matanya menyorot dingin tanda ia tak suka dengan sikap 'Sok Memiliki' pemuda bername tag Darren itu.
"Atas dasar apa lo bisa ngelarang gue?" tanya Arsen tenang namun tajam.
"Ale itu cuma milik gue, paham?"
Arsen menerbitkan smirknya membuat Darren agak bergidik melihat senyum miring itu.
"Lo pacarnya?"
Darren terdiam, ia menggaruk belakang kepalanya, "Yaa bukan si."
"Ya yaudah, apa hak lo buat larang larang gue?"
Darren terdiam, tak memiliki argumen lain untuk melawan Arsen.
Ale yang menonton menguap sekali, lalu memutar bola mata malas melihat tingkah dua pemuda tampan dihadapannya.
"Berisik berisik! Minggat lo pada ah, gue ngantuk mau tidur!" ucap Ale sebal lalu mendorong d**a Arsen dan Darren bersamaan lalu melewati dua pemuda itu begitu saja, lalu masuk kedalam kelasnya.
Arsen menatap kepergian Ale lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Kali ini lo gue maafin,"
Setelah berkata demikian Arsen pergi, meninggalkan Darren yang mengumpat kesal.
"Woe anak baru! Ngga tau siapa gue lo ya! Awas aja," gumamnya lalu ikut pergi setelah menoleh kearah kelas Ale sekali.
"Kucel banget tu muka." kekeh Abby
"Berisik gue ngantuk." ucap Ale lalu menumpukan kedua tangannya di meja, lalu memejamkan matanya.
Abby menggedikkan bahu acuh, memgabaikan Ale yang sudah mendengkur halus disampingnya, lalu kembali menyibukkan diri dengan novel dipangkuannya.
"Permisi,"
Semua siswa yang sudah ada dikelas Ale menengok kearah pintu kala mendengar salam itu, Reynand yang tengah duduk dikursi paling pojok belakang seketika mengalihkan pandangannya kearah Abby yang juga ternyata sedang menengok kearahnya.
Melihat ada yang dikenalnya, Arsen masuk begitu saja, menghampiri Abby yang sudah gugup ditempat.
Setelah sampai disamping Abby, Arsen melirik kearah Ale yang sedang tidur, lalu tersenyum kecil. "Titip buat Ale, ya." ucapnya sambil menyodorkan sekotak s**u coklat pada Abby.
Abby mengangguk canggung, sekarang Arsen mengalihkan pandangannya pada Reynand yang sekarang juga tengah menatap kearahnya, bagaikan ia adalah alien dari planet mars yang pindah ke Bumi.
Perlahan Arsen mendekat kearah Reynand, tersenyum lalu mengulurkan tangannya, "Kita ketemu lagi, Bro."
Reynand melirik tangan Arsen tanpa ekspresi membuat senyum Arsen perlahan surut, Arsen menurunkan tangannya kala tak mendapat balasan dari Reynand.
Tanpa diduga, Reynan malah menarik bahunya lalu memeluk tubuh Arsen erat, ia menepuk bahu Arsen beberapa kali lalu melepas pelukannya. Senyum Arsen mengembang saat Reynand juga tersenyum lebar kearahnya.
"Habis ini lo harus traktir kita ke Cafe dan jelasin semuanya."
"Ya kalau dia mau ikut," gumam Arsen melirik Ale yang masih tenang dalam tidurnya.
Reynand ikut melirik kearah Ale, "Bisa diatur,"
"Gue percaya sama lo."
Setelahnya, mereka tertawa bersama.
Setelah merasa cukup, Arsen berpamitan ke layanan ke kelasnya dan diangguki oleh Reynand.
Saat melewati meja Abby, Arsen menepuk bahunya pelan, "Gue ke kelas duluan ya,"
Abby mengacungkan jempolnya, "Sip."
Arsen kembali tersenyum, ia menatap wajah Ale, mengelus surai lembut Ale singkat lalu beranjak pergi ke kelas.
Abby yang sempat melihat tatapan mata Arsen pada Ale, menggigiti ujung jarinya gemas.
"Beruntung lo Al,"