Alasan

1192 Kata
Ale menguap lebar, bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar 20 menit yang lalu dan ia masih betah duduk dikursinya. Entahlah ia merasa bosan sekarang, apalagi Abby dan Reynand yang hari ini berubah menjadi pertanyaan. Ale menguap sekali lagi, menengok keseluruh penjuru kelas yang sudah sepi. Hanya ada dirinya disana, laporannya bertingkah seenaknya, termasuk menguap lebar lebar tanpa malu. "ALEEEEEEEE !!!!" Teriakan membahana dari arah pintu masuk kelas itu sontak membuat Ale berjengit kaget, spontan ia menengok kearah pintu dengan cepat membuat lehernya terasa nyeri, ia mengusap lehernya lalu melotot pada orang yang berteriak tadi. "Ehehe maap maap. Lo kaget ya?" "By lo udah ganggu waktu suci gue. Harusnya lo dateng dateng ngucap salam, panggil nama gue yang lembut, trus jalan pakek lutut kesini, sungkem deh sama gue," celoteh Ale membuat Abby memberengut. Gadis dengan rambut dikucir kuda itu menghentakkan kaki kesal lalu berjalan kearah Ale, "Gue sama Reynand nunggu di parkiran ogeb! Ditungguin dari tadi ga nongol nongol ternyata masih semedi di kelas, ck ck." "Oh tumben." Abby mendelik, lalu segera menarik tangan Ale, "Ayoo buruan ikut. Kita mau traktir lo ke Cafe niii," Seketika mata Ale berbinar senang, dengan semangat 45 ia berdiri dari bangkunya, menyambar tasnya lalu menarik Abby keluar dari kelas. "Yok yok, bilang kek dari tadi. Ehehe." "Yeeee giliran tau mau ditraktir aja semangat lo." Ale menampakan cengirannya, lalu tiba tiba langkahnya terhenti ketika mengingat sesuatu. "Bentar bentar, gue kek kelupaan sesuatu gitu. Tapi apa ya?" Abby ikut mengerutkan dahinya, mencoba juga mengingat apa yang Ale lupakan walaupun sulit. Cukup lama, hingga tiba tiba wajah Ale berkerut panik. "ADEK GUEEEE", teriak Ale langsung berlari menuju kelas Rizal, tapi sebelum itu, Abby segera menarik tas gendong Ale, membuat langkah Ale tertahan. "Ishhh Rizal udah balik !!" Sontak Ale terdiam. "Ha? Balik? Sama siapa ?? Dengan jangan bercanda ya, Rizal adek gue itu gantengnya kebangetan. Ntar kalau dia diculik tante tante gimana? Atau kalau dia digodain cewek cewek cabe gimanaaa ?? Ya ampun adek gueee," Abby memutar bola mata malas, Ale dengan segala ke-Alay-annya. "Rizal balik duluan naik ojol tadi, kelamaan nunggu lo di parkiran. Pesennya juga pake HP gue." "Seriusan?" Abby mengangguk disambut helaan nafas lega dari Ale, "Huhh syukurlah." "Udahlah yok buruan, Si Rey udah nungguin dari tadi." Ale berjalan pasrah saat Abby menariknya menuju parkiran dengan semangat yang membara. Sesampainya di parkiran, Abby langsung masuk kedalam mobil Reynand dan menutup pintu mobil itu rapat rapat. "WOYY GUE BAWA MOBIL!" Pekik Ale keluar lagi dari mobil Reynand, namun oleh sang empu mobil. "Udah, lebih asik semobil bareng kita ghibah. Iya gak?" Abby menganguk lalu tertawa senang melihat wajah masam Ale, "Pokoknya nanti anter gue ambil mobil." "Beress," Setelah percakapan singkat itu, Reynand segera melajukan mobilnya, sesekali Reynand dan Abby bercanda dan Ale hanya menyimak. Ia membuka ponselnya, membaca beberapa pesan yang masuk kedalam ponselnya. Amoeba Gue udah balik naik ojol. Nunggu orang mati bangun lagi lama emang. 4.28 PM Membaca "s****n, gue dikatain orang mati." Umpat Ale setelah membaca pesan dari adik durhakanya itu. Tanpa pesan pesannya, Ale mematikan ponselnya lalu memejamkan matanya, lanjutkan tidur sampai tiba di tempat yang nanti. Namun terbuka kembali ketika merasa ada yang melempar sebuah kotak kepangkuannya. "Dari Arsen," Ale mengernyit mendengar ucapan Abby, lalu ia meneliti kotak dipangkuannya. Ternyata s**u coklat. Ale terdiam, Arsen masih hafal minuman kesukaannya ternyata, "Kapan dia kasih ini? Kok gue ga tau?" "Yaaa mana lo tau, orang seharian tadi lo tidur terus. Masih untung jam kosong seharian ini, kalau ga auto dijemur dilapangan lo." Ale meringis, memang benar seharian tadi ia tidur. "Ini ngga dikasih racun kan?" "Ya ngga lah ogeb, yakali si Arsen bakalan ngebunuh putri kesayangannya sendiri," Abby menaik turunkan alisnya menggoda. Ale yang menahan senyumannya, memalingkan wajah ke jendela disampingnya membuat Abby dan Reynand yang duduk didepannya menyunggingkan senyum misterius. “Hmm. Ngga nyangka yaa ternyata si Ale temen gue yang galaknya naudzubillah bisa suka cowok juga,” Abby tergelak diikuti Reynand. Ale mendelik tajam, "Apaan sih! Yang suka sama Arsen siapa ?!" "Loh? Emang tadi Si Abby bilang lo suka Arsen ??" Bersikaplah lebih gencar doa, ia melirik Ale dari spion depan. "Tapi kan tadi ... aishh tau ah," Pecah sudah tawa Abby dan Reynand, sedangkan Ale menutupi wajahnya dengan tas yang dibawanya. .................................................. ......... BRAKK "Anjir mobil gueee," pekik Reynand saat dengan sengaja menutup pintu mobil itu dengan kencang. Abby menepuk pundak Reynand, "Gaakan rusak bro," BRAKK Reynand memejamkan matanya erat kala Abby pun turut melakukan apa yang Ale lakukan. Ia mengelus dadanya berulang kali. "Sabarr Rey, sabar, cowok sabar dapat cewek banyak. Huhh," Setelah mematikan mesin, ia segera keluar dan meminta mobilnya, lalu menyusul Ale dan Abby yang sudah masuk kedalam cafe lebih dulu. " Masyaallahh ," "Hati hati mba, nanti tumpah itu," Ale tak menghiraukan Reynand yang menatap takjub pada apa yang ada dimeja, ia lebih peduli pada puding coklat dengan parutan keju yang dibawa oleh pelayan. Lain lagi dengan Abby yang sudah sibuk memotret macam macam makanan yang ada di meja. "Weh anak dugong, ini gue jalan dari parkiran ke sini cuma butuh waktu 2 menit, dan dimeja ini udah ada makanan segini banyaknya yang mau bayar siapaaa ?!" Reynand mengacak rambut frustasi. Ale memasukan potongan besar puding kemulutnya sambil memperhatikan Reynand bagaikan Reynand adalah tontonan menarik saat ini. "Ya udah sih ya, tadi yang ngajak kesini siapa," Abby terkekeh, lalu kembali sibuk dengan ponselnya, memamerkan makanan makanan yang ada dihadapannya di media sosial. "Tapi kan ngga-" "Teman-teman," " Uhuk uhuk uhuk," Spontan Ale tersedak puding saat melihat siapa yang datang, dengan sigap Arsen menyambar jus apel yang ada didekatnya lalu menyodorkanny pada Ale, Ale segera meminumnya hingga habis setengah. "Pelan pelan aja makannya," ucap Arsen dengan masih mengelus punggung Ale lembut. Reynand pandangannya kearah lain, sedangkan Abby sudah senyum senyum tak jelas melihat adegan itu. Setelah merasa baikan, Ale memilih menggeser tubuhnya hingga tangan Arsen terlepas dari punggungnya. Pilihan yang salah karena kesempatan itu dipakai Arsen untuk duduk di ruang kosong yang ada, disamping Ale. "Maaf ya lama," Arsen menyugar rambutnya kebelakang, yang melihat itu terdiam, dari samping dengan jarak sedekat ini ternyata membuat Arsen tampak lebih tampan. "Biasa aja ngeliatinnya Le," Celetukan Reynand membuat Ale gelagapan, ia memperbarui wajah sangarnya, "Le, lo pikir gue ikan Lele!" Sentaknya. Reynand tertawa. "Udah nunggu lama, ya?" Tanya Arsen saat ia melihat begitu banyak makanan yang ada di Meja. "Ga ada yang nungguin lo," ketus Ale tanpa melihat kearah Arsen. "Yang bener? Nanti aku pergi kamu ngambek lagi." Goda Arsen, ia menyunggingkan senyumannya kala melihat rona merah yang mulai menjalar di pipi Ale. "Uuuu manis banget yaa ngomongnya aku kamu, kalau kekita mah apaan," Arsen terkekeh dengan cibiran Abby, "Udah lanjutin aja makannya," Lo juga harus cerita dong, kan tujuan utama kita kesini buat dengerin penjelasan lo, "Reynand angkat suara. "Ekhem, sorry, kayaknya gue gabisa lama lama. Gue harus pulang." Ale bangkit, tanpa menoleh lagi ia berjalan namun Arsen segera mencekal pergelangan tangan. "Ngga ada yang boleh pergi sampai aku selesai ngejelasin semuanya." "Cih manja banget." Arsen memejamkan matanya, lalu tatapannya berubah tajam pada Ale, "Duduk dan dengerin semuanya." Ciut. Nyali Ale ciut seketika. Baru pertama kali ini Arsen melayangkan tatapan ketajamannya, dan itu membuat hatinya tercubit. Tanpa kata kata lagi, Ale duduk kembali di tempatnya, tentu dengan menunduk tanpa mau menatap Arsen. Arsen menghela nafas panjang, ia mengusap rambut Ale, "Maaf." "Jadi?" Reynand memotong drama singkatnya itu. Karena kejujuran ia pun penasaran dengan alasan Arsen yang menghilang begitu saja. Arsen memggenggam tangan Ale, dan mulai bercerita dari awal sampai akhir. Cerita yang sama yang pernah ia ceritakan pada Ale saat bertemu di taman malam itu. Ale terus menunduk, namun Arsen yakin bahwa Ale yang mendengarnya. "Jadi, alasan lo balik lagi ke Indo, kenapa?" "Gue balik buat Ale," DEG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN