Keesokan harinya Raka terus menghubungi Citra namun, dia tidak menjawabnya. Raka tak menyerah, kali ini dia bertekad untuk pergi lagi ke rumahnya Citra. Raka tak lupa membelikan beberapa buah segar untuk buah segar lagi untuk ibunya.
Sesampainya Raka di rumah Citra. Terparkir mobil mewah keluaran terbaru. Dia melihat seseorang keluar dari rumah Citra. Ternyata itu Nabil bersama dengan pacarnyq.
Dengan sengaja Nabil memperlihat kemesraannya sembari menyindir Raka yang memarkirkan motornya di depan rumah Citra dekat dengan taman. Nabil melarangnya memasukan motor bututnya itu karena takut mobil pacarnya yang terparkir disitu lecet.
"Cit, ada yang nyari tuh!" teriak Nabil.
"Apa sih kak?" jawab Citra sambil berjalan ke arah luar.
"Itu, kekasih tersayang lo dateng tuh."
"Hmm!"
Citra dengan malas berjalan menghampiri Raka.
"Kamu Ngapain ke sini?" ucap Citra dengan nada tak suka sambil melipat kedua tangannya ketika susah berhadapan di depan Raka.
"Maaf, ini aku bawa cemilan buat kamu. Kamu masih marah ya sama aku. Boleh tahu kenapa?" Raka berbicara lembut agar Citra melunak hatinya.
"Hadeuh, aku beneran ini lagi nggak mood banget. Bisa nggak kita itu bahasnya nanti." Citra tambah emosi.
"Aku mau kejelasan dari kamu? Kamu kenapa?"
"Gini deh! Kita break dulu hubungan kita ini. Biar kamu mikir itu gimana rasanya?"
"Hah! Break? Lho, tapi kenapa? Aku salah apa?"
"Aku nggak bisa kasih tahu sekarang. Pikiran aku juga lagi kacau. Please, ngertiin aku. Tolong!"
Citra lalu mengambil buah yang diberikan Raka lalu masuk dengan wajah tak suka tanpa mendengar jawaban Raka. Raka membiarkan kelakuan Citra itu. Dia lalu tersenyum ke kakaknya dan menganggukkan kepalanya. Dia pamit, padahal dia belum juga masuk sama sekali. Dia masih berdiri disamping motornya sejak pertama datang.
Raka kembali menyalakan motor bututnya itu lalu pergi dari sana.
Raka tak merasa sakit hati. Justru dia malah berpikir ini semua karmanya, atas kelakuannya dulu terhadap Mona. Betapa jahatnya dia dulu hanya karena perbuatan ibunya yang keterlaluan.
Ibunya Raka telah menjalin hubungan dengan ayahnya Mona. Itu yang membuat Raka meninggalkan Mona begitu saja disaat mereka sudah dekat dan memilih menjadi teman. Dia tak mau kalau sampai Mona tahu di kemudian hari tentang orang tua mereka.
Tak lama ada sebuah pesan masuk dari Nanda di grup agar berkumpul di kedai kopi milik pacarnya. Raka yang merasa bosan, akhirnya menyetujui untuk pergi ke sana. Dia ingin melepas penat dari Citra yang membuatnya pusing.
Sesampainya disana, Raka melihat ada Nanda, Adit dan Kiki yang sedang berbincang. Kemudian di pojoknya ada Mona yang sedang menggandeng Kiki. Raka tersenyum dengan tampang tak bersalah datang menghampiri mereka.
Raka lalu menyalami mereka semua termasuk Mona. Dia memperhatikan Mona yang masih berpakaian seperti semalam. Tapi dia enggan bertanya dan hanya tersenyum.
"Wih Ka. Lo sendiri? Yayang lu mana?" ujar Kiki menyapa.
"Ye, Ki. Lu ngeledek dia!" sambar Nanda meledek.
"Ngeledek apa sih, Dut? Gue tanya kan." Kiki berkelit.
"Hmm," Nanda memberi kode ke Kiki
Raka lalu tersenyum.
"Hmm, enggak, Ki. Gue lagi break sama dia. Mungkin dia lagi PMS. Dari kemarin marah aja kerjaannya," jawab Raka dengan tampang memelas.
Mona yang melihat itu langsung mengubah situasi.
"Udah ih. Kenapa jadi ngomongin pacar. Mending nih! Lu mau minum apa?" Mona melempar menu ke arah Raka.
Raka menangkap menu itu lalu mulai melihat-lihat.
"Oh iya. Gue ada kabar sedikit." Kiki tersenyum seperti ingin menyampaikan sesuatu. Dia menarik tangan Mona. "Gue sama Mona udah jadian!" lanjutnya.
Ada rasa sakit yang Raka rasakan. Entah ini kenapa, tapi itu yang terjadi. Mona tersenyum mengiyakan perkataan Kiki. Nanda dan Adit tertawa juga ikut meledek.
"Eh, kamar mandinya di mana?" tanya Raka yang memang sedari tadi menahan hajatnya.
"Noh! Lurus aja. Nanti belok kiri ada di pojokan, tapi jorok. Wkwkwk mending lu di pom aja." jelas Nanda.
"Oh, iya." Raka lalu terbangun dan langsung pergi ke parkiran.
"Sayang, kamu bukannya tadi juga buang hajat kan? Bareng tuh sama Raka." ucap Kiki mengingat tadi Mona minta antar ke pom.
"Ah, iya. Bareng, Ka!" Mona berteriak, lalu bangkit dari duduknya dan mulai berjalan ke arah Raka.
Mereka sama-sama pergi ke Pom.
Sesampainya di pom, mereka lalu pergi ke kamar mandi, Raka keluar lebih dulu dari pada Mona. Mona ternyata lupa membawa tasnya karena terburu-buru. Dia terlihat panik di depan kamar mandi memeriksa kantongnya akhirnya dari belakang Raka datang membayar.
"Nih, Pak," ucap Raka memberikan uang dua ribu kepada penjaga disana.
"Ya." jawab penjaga kamar mandi.
Mona tersenyum malu.
"Eh, hmm. Makasih ya," ujar Mona sambil berjalan ke arah motor Raka mengikutinya.
"Ya," jawab Raka malas.
Mona merasa janggal. Semenjak peristiwa saat mereka bertengkar terakhir kali, Raka lebih banyak diam dan tidak menegurnya.
"Hmm, lo kenapa sih? Ngediemin gua aja, gua harus gimana biar semua berlalu gitu aja. Gue coba buat lupain semua. Terus mau apa lagi sekarang?"
Raka berhenti mendengar pernyataan Mona. Seharusnya dia tak bersikap acuh seolah perbuatan orang tua mereka itu, salah Mona.
"Mon, maaf ya. Ada hal yang membuat aku nggak bisa cerita sama kamu. Tapi ini ada hubungannya dengan kita. Semenjak kamu chat aku kemarin, aku mencoba untuk bersikap dewasa. Jadi, kita berteman sewajarnya saja. Apalagi kamu sekarang sudah milik Kiki. Tak enak jika kita sedekat dulu."
"Oke. Kalo ini mau luh. Gue juga udah coba buat bersikap dewasa dengan begitu. Tapi, lo yang diemin gue terus. Ya. Ge terima jika itu memang terbaik buat kita. Tapi, kasih gue alasan kenapa lo berubah gitu aja. Dua bulan kita nggak kontek sama sekali. Terus gue dateng ke kosan lo dan lo dah punya cewek aja. Apa dulu dia yang buat kita jauh?"
"Plis, saat ini jangan ngomong apa-apa ya! Masalah gue lagi banyak banget. Nanti ada saatnya kita bahas ini lagi. Yang jelas lo nggak pernah salah. Semua salah gue. Ayok! Nggak enak ama Kiki dan yang lainnya."
Mona lebih memilih diam. Ya, dia memang selalu mengalah untuk ini kepada siapapun. Mona lalu mengikuti Raka menaiki motornya dan kembali ke cafe.
Nanda baru saja mempunyai pacar, Dini namanya. Anaknya cantik, pendiam, baik tapi agak sedikit jutek. Mungkin karena dia anak orang kaya berbeda dengan teman Nanda yang lainnya. Nanda berkenalan lewat aplikasi chat dan nomornya pun dikasih oleh temannya. Awalnya chat biasa akhirnya mereka jadian.
Kiki dan Adit tak terlalu suka, karena ceweknya ini selalu memandang remeh ke mereka. Karena mereka hanya orang biasa. Kiki dan Adit merahasiakan ini dari Nanda. Mereka bercerita hanya kepada Raka. Raka sampai memikirkan tentang Citra yang sering sekali membuat teman-temannya jengkel.
Setelah beberapa lama Nanda datang membawa Dini. Tetapi mereka pamit pergi lagi untuk membeli tutut.
"Hadeuh, Nanda kok begitu amat ya sama cewek." keluh Adit.
"Ya namanya cinta, semua buta. Kotoran kucing juga dibilang keju." sahut Kiki.
"Sudah, sudah. Kan cara kita mencintai seseorang berbeda beda dong. Gak bisa sama rata." Bela Raka.
"Hmm, lu mah samanya kan." ledek Kiki.
"Ya, sama-sama bucin yang bodoh, wkwkwk." timpa Adit.
"Haha, lu jomblo si, jadinya nggak ngarti dah." ledek Raka ke Adit.
"Gue bukannya jomblo, tapi gue lagi minjemin jodoh gue dulu ke orang. Baik hati kan gua?" Adit membela dirinya.
"Seterah loh!" Raka ketus ke Adit.
Mona tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan mereka yang semakin hari semakin bobrok saja. Padahal dari dulu memang mereka bucin kalau punya pacar. Bahkan sampai banyak yang bilang geng bodoh saking mereka menurut dengan ceweknya masing-masing.
Mona dan Ismi adalah wanita di geng mereka. Sejak Ismi bekerja mereka jarang kumpul. Pasalnya cowoknya Ismi selalu cemburu dengan kedekatan Ismi dengan Kiki. Padahal mereka dekat sebagai teman saja. Entah kalau salah satunya ada yang suka.
Mona sebenarnya suka dengan Raka dan mereka pernah hampir jadian. Namun, Raka memutuskan hubungan mereka begitu saja. Bahkan sekarang seperti orang tak kenal.
"Hahaha, sudah. Yang penting temen kita itu nggak jomblo lagi kan? Kasian tahu dia malming bengong aja di kosan lu." ucap mona.
"Ah, ya. Mon!" jawab Raka seadanya seperti orang yang marah.
Mona malas menimpalinya lagi.
Tak lama Nanda datang. Dia duduk terpisah bangku dengan teman-temannya. Kiki yang sejak tadi dongkol dengan kelakuan ceweknya Nanda. Dia memilih untuk pergi.
"Sayang, kita ke depan yuk, main di pasar malam." ajak Kiki ke Mona.
"Ah, iya. Boleh." jawab Mona.
"Dut, gua ke depan dulu ya. Bro, Ka, Duluan!"
Kiki dan Mona lalu pergi. Tinggal Adit yang mulai menonton film karena bosan serta Raka yang sedang men scrol-scrol akun media sosialnya.
Raka terkejut menemukan sebuah foto yang ternyata itu Citra berfoto bersama dengan teman-temannya di cafe yang sama dengan dirinya. Dia lalu menghampiri Nanda.
"Dut, ini foto di sini kan?" tanya Raka ke Nanda menunjukkan foto di ponselnya.
Bersambung …