Setelah itu, mereka menemukan tempat duduk. Kiki laku mengajak Mona duduk disana. Dia juga membeli minuman dari pedagang yang tidak begitu jauh dadi tempat duduk mereka.
"Ini minum dulu," Kiki menyodorkan minuman air mineral dingin untuk Mona.
Mona mengambilnya.
"Maaf ya," lirih Mona dan tak lama dia menangis. "Kenapa sih, gue harus mengalami hal yang kayak begini!" lanjutnya.
Kiki masih terdiam, dia tak mau merusak moodnya Mona.
"Aaaaaaaa… " Mona berdiri lalu berteriak kencang penuh emosi.
Kiki masih terdiam di sampingnya. Dia tak ingin mengganggu Mona sampai Mona kesal sendiri dan menegurnya.
"Heh! Kok lu diam aja sih!" ucap Mona kesal. Dia lalu duduk disamping Kiki dengan muka ditekuk kesal sambil melipat kedua tangannya. Bibir Mona yang manis terlihat manyun.
Mereka terdiam sejenak. Kiki mulai menegurnya.
"Udah belum marahnya?" ledek Kiki.
"Lo tuh ya! Bukanya bikin gue seneng atau gimana malah bikin gue tambah bete tau gak!" cerocos Mona.
"Hmm, justru kalau gua lebay nih, lu pasti bete. Makanya gue diemin dulu."
Mona mengerutkan keningnya. Dia mulai tersenyum karena benar yang dikatakan oleh Kiki. Seandainya dirinya lebay pasti dia akan bete sendiri.
"Hmm, makasih!"
Kiki pun tersenyum.
"Hmm, minum dulu tuh es-nya?" ujar Kiki.
"Iya."
Setelah Mona dirasa tenang. Kiki mulai menanyakan perihal dirinya.
"Hmm, BTW gue mau nanya hal pribadi, boleh. Tapi kalo lu nggak mau jawab, ya udah. Nggak apa kok."
Mona lalu memandang ke arah Kiki.
"Gue tahu. Lo mau tanya soal orang yang berantem di rumah gue tadi kan. Hmm, nggak apa kok. Mereka ortu gue. Mereka selalu begitu. Dan ini pertama kalinya gue malu. Gue malu punya ortu kayak mereka."
Kiki yang mendengar itu heran.
"Malu? Malu kenapa?"
"Malu! Mereka harus berante kayak tadi di depan temen gue. Sampe mecahin barang segala. Mereka tahu kok suara motor lu berenti pas depan rumah tadi. Seharusnya mereka itu berenti dulu kek buat berantem sejenak. Mereka tahu itu gue baru balik. Ahh, udah lah. Pusing kalo dijelasin."
Mona mulai terlihat tidak senang. Kiki yang mengetahui itu berusaha menghibur.
"Hmm, kamu laper nggak?"
⁸
Mona memandang ke arah Kiki. Dia melihat lelaki itu dengan aneh. Bukan menanggapi, tapi malah mengganti topik pembicaraan. Mona mulai mengerti Kiki. Dia terlalu mirip dengan Raka yang terlalu peka dengan sikap sekitarnya.
"Hmm, sedikit. Kenapa?"
"Kita cari makan yuk. Mungkin bisa meredakan emosi kamu. Biasanya, cewek kalo lagi marah, makan!"
Mona tersenyum.
"Ayok!"
Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan taman tersebut dan mencari makan. Kiki mengusulkan makan nasi goreng di tempat favoritnya.
"Kita makan di sini ya! Nasinya enak loh, kalau lagi laper banget, hehe," ledek Kiki.
"Hmm, ngelucu? Enak nggak? Soalnya gue rada trauma makan nasi goreng. Gue pernah berekspektasi tinggi, taunya rasanya amit amit dah. Sejak saat itu gue nggak mau makan nasi goreng pinggir jalan lagi. Gue mending bikin sendiri."
"Hmm, coba dulu. Beda kalau yang ini mah, cobain dulu ya!"
Mona menuruti Kiki karena dia juga ingin mencoba apa yang dikatakannya. Mereka turun dari motor lalu Kiki langsung memesan. Mona diminta untuk menunggu pesanannya, sedangkan Kiki ijin ke belakang sebentar.
Ternyata Kiki yang membuat nasi gorengnya dengan ala ala hiasan yang bucin. Cabe merah keriting dibuat tanda love olehnya. Mona sempat terkesima dengan Kiki yang berbeda dengan para cowok kebanyakan. Terlebih, dia mirip Raka, kekasih hatinya.
"Tereng! Nasi goreng buatan orang spesial untuk yang spesial telah datang." Kiki menyodorkan sepiring nasi goreng buatannya lalu diletakkan di meja depan Mona.
Mona tersenyum lalu melihat ke arah piring tersebut. Begitu cantik hiasannya. Mona sampai membekap mulutnya tak percaya. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan mulai memotretnya beberapa kali.
"Gimana? Suka?" ucap Kiki sambil mengacak acak rambut yang tak berantakan itu. Terlihat ketampanannya membuat Mona perlahan mulai menyukainya.
"Hmm, suka banget, tapi rasanya belum tahu ya. Boleh gue cobain dulu."
"Dengan senang hati tuan putri." Kiki menundukan kepalanya dan mengayunkan tangan mempersilahkan.
Mona tertawa melihat kekonyolan Kiki.
"Nanti mau ajak gue ke mana?" Mona menawarkan diri ke Kiki. Kiki tampang bingung dan terkejut sambil berpikir, mengunyah nasi gorengnya juga. "Yang jelas aku nggk mau pulang!" lanjut Mona memberitahu.
"Hmm, aku tau. Habiskan dulu nasi gorengnya. Kita ke sana." Kiki memberi jawaban. Meski kini dia sedang bingung ingin membawa Mona kemana.
Mona hanya mengangguk dan tersenyum.
**
Raka masih di kosan bersama dengan Citra. Tapi dia memikirkan Mona yang sempat disinggung Citra tadi. Dia merasa tak enak jika akhirnya tak boleh main dengan dirinya semenjak dia berpacaran dengan Citra.
"Yank, kamu mikirin apa? Kok bengong!" tegur Citra yang melihat Raka terbengong memikirkan sesuatu.
"Hmm, mikirin… hmm, aku mikirin kemana lagi ya kita habis ini. Kamu mau kemana?"
Citra lalu memalingkan wajah.
"Hmm. Aku mau pulang!" jawabnya ketus.
"Hah! Kenapa Sayang? Kamu marah?"
"Nggak tahu! Aku udah nggak mood dari tadi. Aku mau pulang aja. Sekarang yuk, antar aku pulang."
Citra langsung membereskan tasnya, menghabiskan martabak di mulutnya, lalu berdiri. Dia masih memasang tampang tak suka. Raka hanya bisa menghela nafas dan mengikutinya. Dia sudah tahu, pasti akan berakhir begini.
Citra masih kesal dengan adanya Mona tadi. Dia kira, teman-temannya Raka akan welcome terhadap dirinya, ternyata mereka hanya mengajak Mona berbicara saja dan mendiamkan dirinya. Seperti sekarang, setelah Mona pergi. Semuanya sunyi dan sibuk dengan ponsel.
Raka mengambil kunci motornya. Citra sudah lebih dulu pergi ke depan kosan tanpa pamit kepada Nanda yang masih ada di situ.
"Dut, gue anter cewek gua dulu ya!" ucap Raka.
"He,emm," jawab Nanda berdehem.
Citra melipat kedua tangannya, dia bersandar di motor Raka menunggu pacarnya itu keluar.
"Lama banget Yank!" Citra memarahi Raka.
"Ah, maaf. Tadi kuncinya aku lupa taruh di mana."
"Huh! Ya udah cepet!"
"Ah, iya… iya.."
Raka langsung segera berlari ke arah motor dan mulai menaikinya. Citra pun begitu. Entah apa yang buat dia marah. Raka lebih memilih diam dari pada bertanya.
Raka mengantar Citra ke rumahnya. Tak lupa membeli beberapa buah untuk keluarganya.
Tak lama mereka sampai di rumah Citra. Citra langsung turun begitu saja dari motor tanpa mengucap sepatah kata pun. Bagai tukang ojek yang dibayar lewat aplikasi. Melihat hal ini Raka pun segera turun dan berlari ke arah Citra sambil membawa buah yang tadi mereka beli.
"Yank, tunggu. Kamu kenapa?" Raka menarik tangan Citra dan berbicara dengan lembut. Berusaha mengatur nafas dengan baik.
"Lepasin! Sudah sana kamu pulang! Aku nggak mood banget buat bahas ini sekarang!" ketus Citra semakin menjadi.
"Sayang, aku nggak akan pulang, sampai kamu bilang, kamu kenapa? Jangan bikin aku mikirin ini dong. Tadi kita lagi baik-baik aja kan?"
Citra menatap Raka dengan malas. Dirinya semakin kesal.
"Hadeuh, lepasin! Males tahu nggak! Besok aja jelasinnya, ih!"
"Sayang—" ucapan Raka terhenti melihat ibu Citra datang dari arah dalam, tiba-tiba.
"Ada apa ini?" tanya ibunya Citra
"Ah, Tante. Malam Tan." Raka melepas tangan Citra dan menyalami ibunya.
Dengan angkuh dan rasa tak suka, ibunya menyalami Raka.
"Citra, ada apa? Kenapa terdengar seperti ribut-ribut." tanya Ibunya lagi yang penasaran.
"Hmm, nggak ada apa-apa, Mah. Aku cuma lagi ngobrol. Ya udah aku masuk dulu ya. Sini buahnya." Citra berlalu masuk dengan tampang kesal mengambil kresek berisikan buah dengan kasar.
Raka yang merasa tak enak lalu pamit kepada ibunya Citra yang masih terdiam melihat mereka bingung.
"Ya sudah, aku pamit ya, Tante." Raka kembali menyalami ibunya Citra.
"Ya!" jawab Ibunya Citra dengan muka masam dan beberapa saat kemudian dia masuk menyusul Citra lalu menutup pintu dengan kencang. Padahal Raka masih ada di depan rumah mereka. Dia masih berkutit dengan motornya.
Raka menjalankan motornya dengan hati yang sakit dan bingung harus apa. Apa lagi dia teringat akan Mona. Sebenarnya Mona sempat bilang ingin menginap di kosannya. Dia bilang kalau ayahnya baru saja pulang dinas. Mona tak ingin melihat orang tuanya bertengkar.
"Hmm, si Mona kemana ya? Apa dia pulang diantar Kiki?" seru Raka pelan sambil mengendarai sepeda motornya, pulang ke kosannya.
Bersambung …