Ada Mantan

1080 Kata
Di Kosan Raka. Seorang perempuan mengetuk pintu. "Dut, Nanda…." Perempuan itu memanggil. Nanda langsung bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu. "Nah, dateng juga. Ayok, masuk!" "Oke. Oh iya. Ini pesenan lo. Inget badan napah, jangan makan mulu. "Haha, makasih ya. Ini kan lo beliin. Nggak boleh kalo nolak rejeki. Kiki yang sudah siap-siap untuk menggoda Mona, malah terkesima dengan wajahnya. Meski dia hanya memakai celana panjang dan sweater pink polos, Mona begitu tampak cantik. "Woy! Ngapa lu bengong?" ledek Nanda. "Naa, kenalin nih, Kiki temen gue ama Raka," lanjutnya. Mona lalu menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Kiki. Namun, Kiki masih tercengang melihat ke arah Mona yang biasa tapi cantiknya luar biasa. "Woi, bengong! Salaman itu. Wkwkwk." ledek Nanda lagi. "Ah, i-iya. Gu-gue Kiki," jawab Kiki agak sedikit kaku. "Mona." ucap Mona dengan manis. Kiki masih tak melepas pandangannya melihat Mona. "Raka mana, Dut, kok tumben kosan tercinta bisa dibuka, padahal dianya nggak ada." tanya Mona heran. "Dia lagi pergi sama ceweknya, biasa bucin!" jawab Nanda sedikit jengkel. "Haha, dia udah lepas masa lajangnya. Bagus deh!" Tring! Sebuah pesan masuk terlintas di ponsel Nanda. "Eh, panjang umur nih orang. Nih si Raka chat, katanya dia mau ke mari ama ceweknya. Lo disuruh kalem Mon," "Haha, iya gitu. Gue nggak akan buat dia malu kok tenang, kasian itu anak udah jomblo lama. Takut dia aibnya gue bongkar. Hahaha." Mona tertawa dengan lepas dan renyah. Kiki yang melihat itu tambah terpukau. Dia tak menyangka, cewek secantik Mona tidak ada jaim-jaimnya. Sementara, Mona memergoki Kiki beberapa kali menatap dirinya. Nanda menyadari itu lalu meledek. "Ki! Woi, Ki!" Panggilan Nanda tak didengarkannya. "Ki," ucap Mona memanggilnya juga. "Ya, apa Mon?" Kiki terlihat kaget. Tapi dia langsung merespon ucapan Mona. "Itu, Nanda manggil juga," ledek Mona. "Ah, iya. Kenapa pea?" jawab Kiki jutek. "Haha, lu ngapa bengong aja dari tadi nggak ada suaranya. Tumben. Biasanya lo paling bawel." Nanda meledeknya kembali. "Ye, ngocol dah!" Nanda dan Mona tertawa bersama. Tak lama muncullah dari balik pintu, Raka dan Citra membawa beberapa makanan. "Hmm, lama banget lo jalannya." Kiki langsung menanyai Raka. "Ya, macet tadi." Raka lalu menaruh beberapa makanan dan melepas helm dirinya dan helm Citra. "Nih, makan Bro! Eh ada Mona, dah lama Mon. Oh iya kenalin nih Mon. Pacar gua, Citra." Mona lalu menjulurkan tangannya dan tersenyum manis. Ya, senyuman Mona membuat banyak lelaki tertarik, sambil menahan rasa cemburu Citra pun tersenyum. "Citra." "Hai, Cit. Aku Mona. Temannya Raka. Semoga kita bisa berteman." Sekali lagi Mona tersenyum membuat wajahnya sangat cantik. Iri rasanya Citra melihat itu. Citra hanya tersenyum juga membalasnya. Mereka semua saling mengobrol dan tertawa meledek Nanda maupun Kiki. Raka melihat ada yang aneh dengan Mona yang tak ikut meledek. Dia hanya diam saja. Mungkin itu pesan Raka agar dia tak membuat Citra marah. Tapi semuanya salah, yang Raka pikirkan salah. Citra diam saja semenjak pertama kali masuk ke kosannya. Raka langsung tahun kalau kekasihnya ini sedang bad mood terhadapnya yang asik sendiri. Raka lalu mengajak Citra keluar hanya untuk membeli jajanan. "Yank, beli jajan yuk diluar," Raka mengajak Citra. "Hmm, aku di sini aja." jawab Citra pelan. "Eh, ayuk. Ada sosis." Citra akhirnya mengangguk dan mengikuti Raka. Mona paham ketika melihat ekspresi Raka. "Guys, kita cabut ya. Kayaknya ceweknya Raka itu nggak suka sama gua. Yuk. Kalau nggak gue cabut sendiri ya," ucap Mona. Nanda yang mendengar itu emosi. Pasalnya nggak ada apapun yang dilakukan Mona yang membut Citra harus cemburu. "Ih, biarin aja. Emang dia mah gitu sifatnya ngeselin. Si bucin mah kan bego," ujar Nanda. "Eh, gue anter yuk. Lo kesini gojek kan tadi?" Sambar Kiki menawarkan tumpangan. "Ih, tetep gak enak. Iya, ayuk. Dut gue balik ya." ujar Mona yang langsung berdiri. "Eh, seriusan lo mau bakil. Yudah kalo gitu. Gue mau disini ya, mau tidur dulu. Lo juga ama si Kiki tuh kudu waspada. Wkwkwk." ledek Nanda. Mona hanya tersenyum. Kiki menimpuk Nanda dengan bantal lalu bangkit mengikiti Mona keluar kosan. Di depan kosan, Raka dan Citra menegur Mona dan Kiki. "Kalian mau kemana?" tanya Raka. "Mau pacaran lah, gue ama Mona mau jalan." jawab Kiki lalu merangkul Mona. Mona hanya tersenyum menanggapinya. "Hmm, kalian pasangan. Boleh tuh kapan-kapan kita nonton bareng," celetuk Citra yang sedari tadi diam dan sengaja merangkul tangan Raka erat. "Ah, gitu. Oke, hati-hati ya. Gue masuk dulu. Ayo yank!" ajak Raka menarik tangan Citra masuk. Mona memandang ke arah Raka. Sesaat Raka pun melihatnya dan membuang wajahnya. Kiki yang sedari tadi berbicara apapun Mona tak mendengarkannya. Karena fokus memikirkan Raka. "Hei, kita mau ke mana?" tanya Kiki membuyarkan semua pikiran Mona tentang Raka. "Ah, maaf. Aku nggak konsen, maksudnya gimana?" Kiki menarik nafas. Dia agak kesal karena Mona sibuk melamun dari tadi. "Hmm, begitu. Aku boleh tanya hal pribadi? Ya meskipun kita baru saja bertemu." Mona memandang Kiki. "Boleh, apa?" Kiki lalu mengajak Mona duduk di depan gerbang kosannya Raka, ada bangku kecil yang biasa diduduki satpam. "Duduk dulu sini. Hmm, apa hubungan kamu dengan Raka sebelumnya?" tanya Kiki penasaran. "Hmm, memangnya kenapa? Aku sama Raka? Maksud kamu?" Mona tak mengerti peryanyaan Kiki. "Hmm. Aku nggak bodoh! Sedari tadi kamu dan Raka itu saling tatap." "Hmm, itu. Ah, untuk saat ini aku nggak bisa jawab. Nanti boleh?" "Oke. Aku tunggu jawabanmu."? Akhirnya Kiki mengajak Mona menaiki motornya. Di la mengantarkan Mona sampai ke rumahnya yang berjauhan dengan rumah Kiki, menempuh jarak sekitar satu jam. Setelah mengobrol, saling bertanya. Tak sadar mereka sampai di rumah Mona. Baru saja Mona mengucap salam. Terdengar suara gaduh dan ribut dari dalam rumahnya Mona. "Pergi sana! Suami gila!" ucap perempuan paruh baya dengan suara lantang. Prank! "Kau perempuan sial!" Terdengar lagi sahutan seorang Pria membanting sesuatu. Kiki melihat Mona mematung di depan pintu pagar. Dia merangkul Mona dan mengajaknya menaiki motornya lagi, lalu pergi. Kiki berjalan tanpa tujuan. Dirinya belum tahu apa yang terjadi. Mona masih terdiam membisu. Dia tak mengucapkan sepetah kata pun. Selang beberapa waktu mereka berjalan. Terlihat ada sebuah taman. Kiki lalu memarkirkan motornya disana. Dia ingin mencoba menghibur Mona. Dia yakin, orang yang tadi bertengkar itu adalah orang tuanya. "Hmm, kita disini dulu. Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Kiki yang berjalan merangkul Mona menelusuri taman mencari tempat untuk mereka duduk. Mona hanya mengangguk mengikuti. Setelah itu, mereka menemukan tempat duduk. Kiki laku mengajak Mona duduk disana. Dia juga membeli minuman dari pedagang yang tidak begitu jauh dadi tempat duduk mereka. "Ini minum dulu," Kiki menyodorkan minuman air mineral dingin untuk Mona. Mona mengambilnya. "Maaf ya," lirih Mona dan tak lama dia menangis. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN