Petuah Teman

1304 Kata
Raka memandang Rival. Perkataannya ada benarnya juga. Sedikit demi sedikit Raka pun mulai berpikir. "Udah, Bro. Lo gak usah mikirin cewek kayak gitu. Kalau kita terus menurutinya, dia tak akan berubah. Kali ini saatnya lo diemin agar dia mikir. Gua liatin lu dari futsal, nongkrong, atau pulang gawe kita ngumpul. Lo selalu aja alasan. Padahal cewek lo yang minta kan." Rival sekali lagi memberi wejangan. "Ya, Bro." "Udah yuk ngopi. Nggak usah dipikirin. Ponsel lo titip ke warung kopi aja cas. Nanti kalo udah penuh, lo gampang kan tuh telponnya." Raka mengangguk tanpa berkata-kata dan menuruti Rival untuk pergi ke warung kopi. Memang tampak tertawa tapi dalam hatinya tetap memikirkan Citra yang nanti akan bertambah marah. Rival pun tak berbuat banyak, karena Raka temannya ini sedang jatuh cinta sekali. Sudah cukup untuk Rival menasehati Raka. Di bus, Raka menyalakan ponselnya. Kali ini hanya ada beberapa pesan dari Citra yang isinya permintaan maaf. Raka langsung memberitahukan Rival yang duduknya di belakang kursi Raka. "Val, makasih ya. Ide lu bagus juga." Raka tampak senang sekali. "Ya, Ka. Udah lu ajak dia beli ice cream. Biar kalian baikan lagi." Raka kaget dengan pernyataan Rival. "Lah, kok lo tahu dia suka ice cream?" Rival sedikit kaget dengan pertanyaan Raka. "Ya… ya kan memang semua wanita suka ice cream, gua cuma nebak aja." Rival tersenyum. "Hehe, lu ngapa kaku gitu. Yudah gua pegel nih diri. Makasih ya sarannya. Rival terdiam dengan apa yang dia lihat. Sementara Raka sedang senyum-senyum sendiri sambil berkirim pesan dengan Citra. Raka tak lagi galau. Dirinya kini bisa tertawa karena susah tak lagi berseteru dengan Citra. (Yank, jangan marah lagi ya. Aku gak ingin kamu jauh, sedih rasanya.) Kirim Citra ke Raka. Raka serasa melayang, baru kali ini Citra memperlakukannya dengan lembut. Biasanya Citra selalu saja galak. Raka bersyukur dengan adanya hal ini bisa mengubah sikap Citra sedikit baik. (Makasih ya, aku gak tahu lagi kalau kamu marah terus, aku harus bagaimana.) balas Raka. (Sudah yank, aku kan sekarang sudah nggak marah lagi. Maafin aku ya, marah-marah terus.) (Tunggu aku ya, ini aku lagi jalan pulang. Nanti aku langsung ke rumah kamu dan kita makan ice cream.) (Ih, senangnya. Aku tunggu.) ** Raka yang sudah sampai kosan dan bersiap untuk pergi ke rumah Citra terhalang oleh Nanda dan Kiki. Mereka datang untuk main dengan Raka yang sudah lama tak kelihatan batang hidungnya. "Beh, dah rapi Nge, mau kemana?" ledek Nanda yang langsung masuk dan duduk. "Eh, lo pada. Lu berdua disini bentar ya. Gua mau nemenin cewek gua dulu makan ice cream. Ngambek doi abis gua tinggal ke Bandung. Hehe." jawab Raka penuh percaya diri. "Bucin lo!" ledek Nanda. "Haha, lo nggak tahu aja si Raka itu jomblo lama banget, keburu lumutan, jadinya dia gitu deh sekadang, bucin!" timpa Kiki menimpali Nanda. "Ah, rese lu berdua! Gue jalan dulu!" Mereka lalu tertawa. Nanda dan Kiki memilih menunggu di kosan Raka. Setelah lama menunggu, Nandut tampak kusut. Kiki pun jengah melihat temannya itu. "Lo ngapa? Stres juga kayak si Raka itu," ucap Kiki memulai obrolan. "Ah, biasa, si Febri marah minta gua jemput. Gila rumahnya kayak deket aja. Bomat lah. Gue suruh aja naik angkot ke sini. Emang gue babunya!" sahut Nanda dengan kesal. "Lah, tumben amat lo kagak takut jomblo. Kayak gue dong nih!" Kiki menimpali dengan bangga. "Lu mah pasang tampang doang juga cewek pada deket. Sialan emang lo!" Nandut tambah kesal. "Lah, begitu emang harus! Jadi cewek-cewek pada ngedeketin dah. Cewek sekarang sukanya yang badboy. Yang lainnya ya cuma disuruh-suruh aja." "Ye, ngocol!" Kiki tertawa. Kring … Sebuah telepon masuk ke ponsel Nanda. Dia langsung menjawabnya. "Ya, kenapa Na?" ujar Nanda. "Lo di mana Nda? Lagi di tempat Raka nggak? Gua ke sana ya!" ucap seorang cewek yang kenal akrab dengan Nandut dan Raka. "Gue di kosan Raka. Ya lo kesini aja. Bawa rujak ya. Enak nih siang-siang gini." "Oke, siap!" Nandut menutup teleponnya. Kiki yang mendengar itu suara perempuan membuat darah playboy naik tingkat atas. "Wah, cewek tuh! Kenalin dong!" ledek Kiki. Nanda memandang remeh Kiki yang super playboy itu. "Lu kenalan aja sendiri. Nih orangnya lagi kemari!" Kiki terkekeh. "Ya tapi basa basinya lah!" "Wkwkwk, ngapa lo gitu! Takut gagal ya. Wkwkwk." "Ye, bocah ngeselin! Cakep banget emang dia. Nih gua pasti bisa kenalan." "Taruhan ketoprak ya!" "Lo mah gendut otaknya makan mulu! Gue mau es aja." "Oke, deal!" Nanda lelaki yang bertubuh besar. Biasa dipanggil gendut atau Nandut yang singkatan dari Nanda gendut. Sedangkan Kiki, pria tampan yang selalu saja memanfaatkan ketampanannya untuk memikat para wanita. Maka dari itu tak jarang Kiki sering kali putus nyambung masalah perempuan. Nandut dan Kiki pun semangat untuk taruhan. Kiki harus berkenalan dengan Mona, teman akrab Nandut yang tak pernah bertemu dengan Kiki. Kiki pun bergaya depan kaca, memperbaiki penampilannya untuk sepenuhnya bertaruh dan harga dirinya dijatuhkan sebagai playboy kalau dia tak bisa mendapatkan perempuan ini. "Jiah, totalitas banget lo! Geli gue liatnya!" ledek Nandut yang melihat kelakuan temannya itu. "Kagak usah diliat malih, lo diem-diem aja. Biar nggak kentara. Biar gua yang deketin. Cantik kan ya? Nanti zonk lagi! Lo kan rese!" Kiki membalas. "Deh, cantik! Cuma yang ini itu agak beda! Galak banget sama cowok dan dia itu suka pakai sweater aja. Beda deh sama cewek kebanyakan. Gayanya tomboy, suka main sama lelaki dibanding perempuan. Gue yakin lo sulit buat kenalan juga." "Hmm, kita lihat saja." Sementara Raka baru saja sampai di rumah Citra. Terlihat Citra sedang duduk di bangku teras depan rumahnya memegang ponsel. Seperti sedang menunggu Raka datang. Raka langsung memarkirkan motornya di depan gerbang rumah Citra, lalu turun sambil tersenyum memandang Citra. Baru saja Raka ingin membuka gerbang, tiba-tiba saja ada sebuah mobil datang. Tin! Tin! Mobil itu mengklakson Raka. Sontak Raka pun terkejut dan mengerti. Dia langsung menggeser motornya itu lalu membuka gerbang mempersilahkan mobil itu masuk ke rumah Citra. Setelah mobil itu masuk, Raka lalu menggeser motornya, parkir di samping mobil itu. Tak lama keluar seorang pria bersama dengan seorang wanita yang merupakan kakaknya Citra, Nabil dan pacarnya. Raka lalu menghampiri Citra, berdiri di sampingnya menyambut kakaknya yang hendak masuk. "Cit, tolong bawakan belanjaan Kakak!" pinta Nabil sambil memandang remeh ke arah Raka. Sedangkan Nabil menggandeng pacarnya itu masuk. Raka yang melihat Citra ingin membawakan belanjaan kakaknya, menghampiri ikut membantu. "Sini aku bantu!" ucap Raka. "Ah, iya. Makasih ya." Ada pandangan iri di mata Citra. Ketika melihat barang mewah belanjaan kakaknya itu. Mereka lalu membawanya masuk. Raka hanya sampai ruang tamu, sedangkan Citra membawa itu semua sampai ke kamar kakaknya. Ketika Citra sedang membawa itu, kakaknya melihat ke arah Raka. "Hmm, pacarnya Citra ya? Kerja di mana kamu?" tanya Nabil. Raka tersenyum. "Ah, iya Kak. Aku kerja di pabrik biasa. Di kawasan," jawab Raka malu-malu. "Hmm, begitu. Kamu bisa menunggu Citra di luar." Raka yang mendengar kata-kata itu sontak kaget, pasalnya dia yang berdiri di depan pintu, baru saja ingin melangkah duduk di ruang tamu. Dia lalu permisi keluar, mendengar permintaan Nabil. Tak lama Raka di luar, ibunya Citra keluar menyapa pacar kakaknya itu. "Eh ada Nak Bobi. Sudah lama?" sapa ibunya Citra. "Ah, baru saja kok Tante." Mereka lalu saling bersalaman dan mengobrol. Seakan tak melihat kedatangan Raka di depan rumah mereka. Ibunya yang melihat Citra keluar dan menyapa seseorang, lalu bertanya kepada Nabil. "Bil, itu di luar ada siapa?" Nabil tersenyum kecut memandang itu. "Oh, itu. Pacarnya Citra. Udah si Mah biarin aja. Lagian dia bukan orang spesial. Cuma karyawan pabrik biasa. Nggak usah disuruh masuk," balas Nabil. "Ah, begitu." Mereka lalu lanjut mengobrol. Ternyata Raka dan Citra mendengar perkataan Nabil yang memang volume suaranya diperbesar. Hal itu membuat Citra merasa bad mood. "Yank, ayok kita jalan," ucap Citra. "Ah, iya. Pamit ke ibu kamu dulu." "Nggak usah. Tadi aku udah bilang. Ayok!" "Ah iya." Raka lalu mengikuti Citra ke motornya. Dia lalu mengeluarkan motor tersebut dan langsung membonceng Citra pergi dari rumahnya. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN