Bucin

1549 Kata
Raka datang ke rumah Citra. Dengan senyuman manis khasnya, Citra sudah menunggu di depan rumah bersama Ciblek. Tak lama Raka memarkirkan motornya, Ciblek pamit pulang. "Beb, gue balik dulu ya. Cowok lu juga udah datang." "Ah iya. Makasih ya udah nemenin." "Oke. Sama-sama." Setelah Ciblek agar menjauh Citra lalu melipat kedua tangannya dan duduk di kursi tamu depan teras rumahnya itu. Dia sengaja menunjukkan sikap marahnya kepada Raka. Raka tersenyum duduk juga di seberangnya Citra. "Sayang, udah dong ngambeknya. Ayo kita ke toko buku. Nanti keburu tutup." "Udahlah, nggak usah. Aku udah nggak mood. Kamu kan udah nggak mentingin aku. Lagian juga nggak cukup waktu buat cari buku soalnya lama. Nanti tokonya keburu tutup." "Ya udah, ayo sekarang cepetan jalan. Nggak usah ngambek. Biar tokonya nggak keburu tutup nanti. Terus kamu bisa memilih buku lebih lama." Raka tersenyum lebar. "Hmm, Oke. Kali ini aku maafin, tapi lain kali awas aja." Raka kembali tersenyum. Dirinya berhasil membujuk kekasih tersayangnya itu. Sesampainya di toko buku Citra memilih beberapa buku kesukaannya. Novel komik dan beberapa buku pelajaran. Saat dia ingin mengambil novel tanpa sengaja Citra bertabrakan dengan seorang wanita. "Aw!" Citra menabrak seorang wanita hingga terjatuh. "Maaf kak, aku nggak sengaja," lanjut Citra lalu membantunya untuk bangun. "Ah Iya, aku nggak apa kok." Wanita itu berdiri dibantu Citra. Raka yang kebetulan sedang mengambil tas belanja untuk memasukkan beberapa novel yang sedari tadi di bawahnya, langsung menghampiri Citra karena terdengar suara ribut-ribut. "Yank, ada apa? Kamu jatuh?" Raka datang untuk mengecek keadaan Citra dengan penuh perhatian. "Ah aku nggak apa-apa kok. Ini Mbaknya yang jatuh. Aku menolongnya." Wanita yang ditolong Citra, lalu tiba-tiba saja tersenyum. Dia memandang ke arah Raka. "Raka?" Wanita itu memanggil Raka membuat Citra mengerutkan dahi. Ternyata dia adalah Gina, mantan pacar Raka. Citra cemburu ketika melihat Gina tersenyum kepada Raka. "Hai Gin Lama tak jumpa. Apa kabar kamu?," sapa Raka membalas panggilan Gina. "Ah baik kok. Kamu sendiri gimana sedang apa disini. Tumben kamu suka ke toko buku. Biasanya Kamu paling tidak mau dan langsung pergi futsal." "Ah iya. Oh ini aku nemenin pacar aku cari buku. Oh iya hampir lupa. Kenalin ini Citra pacarku." Mereka lalu bersalaman seperti biasa. Citra memasang wajah tak suka. Dia baru saja ingat, jika Gina ini mantannya Raka. "Sayang, ayo dong aku belum beli novel horor nih." Citra mengajak Raka pergi dari sana. Dia tak ingin Raka berlama-lama mengobrol dengan Gina. "Ah iya. Oke. Gin, pamit ya. Pacar aku mau cari buku yang lain," ujar Raka. "Ah iya Ka." Gina hanya tersenyum. Citra langsung pergi begitu saja tanpa pamit ke Gina. Wajahnya kentara sekali kalau dia cemburu. Raka hanya mengikutinya sambil tersenyum dia tahu kelakukan pacarnya itu. Ketika sampai di kumpulan novel horor ternyata Citra melewatinya dan langsung pergi ke luar toko. Tanpa bertanya Raka pun membuntuti. Citra menunggu Raka di depan motornya yang terparkir dengan wajah yang masam. Kedua tangannya dilipat seakan dia sangatlah marah. Raka menarik nafas lalu mendekati Citra karena dia tak ingin Citra marah lagi kepadanya. "Sayang, kamu kenapa? Kok tiba-tiba pulang. Katanya mau cari novel horor?" Citra memalingkan wajah. "Ya. Aku udah nggak mood. Kamu bangga emangnya ketemu mantan kamu lama-lama. Udah ayo kita pulang." Raka menarik nafas. "Ya ampun sayang, dia cuma nyapa doang kamu marah. Aku kan nggak tahu kalau ketemu dia di sini. Ya udah kalau kamu bete kita cari novel horor terus balik yang penting keinginan kamu terpenuhi semua. Tapi lain kali jangan kayak gitu ya, kamu ketara sekali loh kalau cemburu. Dia itu cuma masa lalu aku, kalau aku masih suka sama dia buat apa aku berhubungan sama kamu. Kenapa nggak sama dia aja." "Ogah aku balik lagi. Aku udah nggak mood. Ayo kita pulang." Raka masih terdiam dia tidak habis pikir dengan pola pikir Citra. "Kok diem? Kamu marah sekarang?" lanjut Citra lagi. Raka menarik nafas panjang. Dia tahu kalau Citra salah, dia tak mau disalahkan. "Nggak Sayang, aku nggak marah. Aku cuma nggak mau kamu ngambek lagi. Gimana kalau kita beli ice cream. Kamu suka?" Citra masih saja melipat wajahnya asam. Dia tak mengerti juga akan kesalahannya. Raka yang tak mau pertengkaran ini berlanjut, untuk kesekian kalinya memilih mengalah dan mengajak pacarnya itu pergi membeli ice cream. Sesampainya di toko es krim Citra masih terdiam dia hanya duduk tanpa memesan. Raka lalu berinisiatif memesan dua buah es krim lalu membawanya ke tempat duduk menyusul Citra. "Sayang, udah dong jangan marah. Senyum dong." "Hmm." Citra lalu mengambil es krimnya dan kembali tersenyum. Seperti itulah dia yang selalu bersikap kekanak-kanakan. Tapi Raka sangat menyukainya. ** Waktu semakin berlalu. Perusahaan tempat Raka bekerja mengadakan family gathering. Setiap tahun mereka selalu mengadakan hal ini. Tetapi kekhawatiran Raka pun muncul karena Raka tidak boleh mengajak siapapun kecuali keluarga. Dia tidak bisa mengajak Citra karena mereka masih berpacaran belum menjadi suami istri. Hal ini pun diceritakannya kepada Citra ketika dia sedang bermain ke rumahnya. "Yank, udah kamu ikut aja sendiri. Aku nggak apa kok. Kita kan punya ponsel bisa saling berkabar," ucap Citra sambil tersenyum. Ragam ragukan hal itu karena dia tahu siapa Citra. Pacarnya ini pasti memikirkan hal yang bukan-bukan jika dia telat menghubunginya. "Ah nggak Yank. Nanti kamu malah mikirnya aku macem-macem lagi. Mendingan nggak usah. Lagian ini acara keluarga. Bujangan kayak aku bebas mau ikut atau tidak." "Ih, kamu mah. Bkin aku nggak enak aja. Udah ih sana. Nanti kita kan tinggal video call aja. Aku juga nggak tega sama kamu. Teman-teman kamu pada ikutan." "Hmm, bener ya kamu nggak apa-apa. Makasih ya sayang atas pengertiannya." Raka tersenyum. Dirinya sukses meminta izin kepada pacar kesayangannya itu. Dengan begini dia akan tenang perginya. Dia pun pamit pulang untuk mempersiapkan segalanya. Keesokan harinya masih normal, Raka masih di Bus melihat senyuman Citra di pagi hari melalui video call. Saat bus belum berangkat. Setelah lama saling memberi kabar, Bus berangkat dan Raka pun memilih tidur sepanjang jalan. Raka yang sangat letih akhirnya tertidur sampai tujuan. Beberapa jam sampai Raka lupa mengabari Citra. Setelah turun, Raka membereskan barang-barangnya. Tas besarnya dia taruh di Bus. Sedangkan dia hanya membawa tas kecil. Tanpa basa basi dia langsung menelpon Citra. Namun, beberapa kali teleponnya tak kunjung dijawab. Dia juga kirim beberapa pesan, lagi-lagi Citra tak membalas. Raka sudah menduga kalau pacarnya itu marah, tapi dengan pikirannya yang positif Raka memikirkan kalau Citra sedang tidur. Raka pun menaruh ponselnya kembali ke dalam tas kecil yang dibawanya dan mulai mengikuti kegiatan hingga siang hari. Acara pun selesai. Mereka beristirahat untuk makan siang. Raka mengeluarkan ponselnya yang memang ternyata sudah mati sejak tadi karena kehabisan daya. Raka akhirnya kembali ke Bus dengan wajah yang panik. Dia mencari pengisi daya di tas yang dibawanya. Tersadar Raka baru ingat jika tak membawa pengisi dayanya itu. Dia lalu hanya menunduk kesal sambil mengacak acak rambutnya. Seseorang yang melihat Raka, mencoba menghampiri. "Bro, lu kenapa?" Ternyata Rival yang datang, salah satu teman pabriknya. Dengan wajah kusut, Raka masih mencari pengisi dayanya. Seingatnya, dia sudah memasukkan itu semalam. "Ini, casan gue ketinggalan. Ponsel gua mati. Lu ada casan tipe C?" Raka mempertanyakan Rival dengan harapan punya casan yang sama. "Yah, casan gua biasa. Noh, si Bianca katanya casannya tipe C. Coba lu pinjem sana, dari tadi muka lo kusut dan khawatir gitu. "Ah iya. Si Bianca. Makasih Bro." Raka langsung berlari keluar dari Bus. Dia langsung menghampiri Bianca yang sedang makan itu. "Bi, lu ada bawa casan. Kata Rival casan lu tipe C. Pinjem dong bentar!" Bianca langsung mencari casannya di tlasnya. Setelah itu memberikannya ke Rakam "Hmm, nih. Jangan lama ya. Batre gue juga lobet," pinta Bianca. "Siap." "Traktir es teh ya. Ehehe." "Rebes!" Raka lalu berlari lagi ke mushola karena ingin mencharger ponselnya sekaligus beribadah. Setelah selesai dan ponselnya bisa menyala. Raka langsung melihat beberapa notif pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Citra. Citra mengirimi pesan kepadanya banyak sekali. Raka langsung menelepon Citra tanpa basa basi. "Halo Sayang, maaf. Tadi ponsel aku mati." Raka berbicara dengan panik. "Ya, terus." Citra menjawabnya acuh. Seperti tak ingin menerima alasan. "Kamu marah?" "Nggak!" "Serius Yank?" "Nggak!" "Ah, ini mah marah." "Gimana aku nggak marah coba! Kamu itu menghilang tanpa kabar sedikitpun dan kamu tau nggak aku mikirin kamu itu kemana ya, dan lagi aku jadi pu…" Ponselnya Raka tiba-tiba mati lagi karena baru terisi daya sedikit. Lagi-lagi Raka pusing harus berbuat apa. Fillingnya benar, Citra akan marah. Citra akan memaki-makinya. Dia pasti akan mendiamkan Raka sampai moodnya kembali. Rival yang sejak tadi memperhatikan Raka mulai mendekatinya. "Ngapa lagi Bro. Muka ditekuk gitu." "Nggak tahu lah. Gua bingung. Pusing!" Raka yang merasa stres sedikit berbicara kepada Rival. Rival yang mulai mengerti situasi temannya itu mencoba menemaninya. "Bingung masalah apa sih? Masalah cewek?" ujar Rival. "Ya, gitu lah." Raka menghela nafas. "Hahaha, lu itu polos banget si Ka. Ini jaman kan udah canggih, masih aja lu stalk satu cewek. Lo itu harusnya berubah, lo udah dewasa dan kerja. Ngapain mikirin pacar yang suka ngambek terus. Batin tahu!" Raka menoleh ke arah Rival. "Gua udah jatuh cinta banget Val, ama dia." "Ya, gitu emang. Gua juga pernah punya mantan. Sampai kepala gua sakit mikirin dia, bahkan gua sampai masuk rumah sakit karena stres. Tapi, gua sadar akhirnya dia memang nggak sesuka itu sama gua dan gua putusin gitu aja. Rasanya beban semua hilang sehabis gua putus. Raka memandang Rival. Perkataannya ada benarnya juga. Sedikit demi sedikit Raka pun mulai berpikir. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN