* “Om, aku gerah.” Keluh Gendhis memberontak kecil dari pelukan suaminya. “Gerah?” Bhumi menatap langit-langit, mencari keberadaan pendingin ruangan. “AC nya nyala, sayang. Apa masih gerah? Aku kerasa adem kok.” “Bukan itu…” rengek Gendhis. “Aku risih Om nempel-nempel mulu.” Bhumi baru meregangkan jarak mereka. Sejak Gendhis sadar, Bhumi seolah tak ingin melepaskan istrinya sedikitpun. Paling-paling, hanya saat dia melayani makan Gendhis atau ke toilet, baru Bhumi menjauhkan diri. “Maafkan aku. Aku benar-benar takut kehilangan kamu, sayang. Aku hampir gila menunggumu sampai kamu sadar.” Tiba-tiba Gendhis terkikik sendiri. “Aku kan nggak pingsan, Om. Cuma sebentar pas kerasa sakit banget itu aja.” “Iya, tapi kamu udah berhasil bikin aku ketakutan, sayang. Kamu benar-benar membuatku

