* * “Kalian tetap berjaga untuk Gendhis. Sedangkan Marco dan Darma tempatkan untuk Bos Bhumi. Ingat, Marco dan Darma. Mereka yang punya keahlian menembak jitu dan berkelahi.” “Om.” Jimmy yang sedang melakukan panggilan telepon di balkon apartemennya, menoleh cepat saat sepasang tangan lembut, melingkar di perutnya. Lelaki yang semula dingin itu mendadak gugup, karena terkejut. “Oke, nanti saya hubungi lagi. Yang penting sekarang, lakukan apa yang saya katakan lagi. Untuk saat ini, keselamatan Bos Bhumi yang utama. Pak Wisnu dan komplotannya, sudah berganti menyasar Bos Bhumi karena cucunya meninggal setelah dilahirkan paksa.” Setelah Jimmy mendengar jawaban sigap dari seberang sana, lelaki itu menutup panggilan, kemudian menurunkan ponselnya begitu saja. “Kamu sudah mengantuk?” Tan

