* “Ke—kenapa kesini?” Panik Gendhis. Langsung berdiri spontan dari duduknya sampai menimbulkan kejutan di perutnya. “Akh!” Wanita itu refleks memegangi perutnya yang terasa keram. “Gendhis!” Pekik Bianca, nampak panik. Di belakangnya, Baron dan Ronald langsung masuk memastikan keadaan Gendhis. Sepertinya, dua lelaki itu sudah berjaga sejak tadi. “Mbak Gendhis nggak apa-apa?” Kedua pengawal itu panik, tapi tidak berani melakukan apa-apa. Gendhis tersenyum samar sekali, lalu mengangguk. “Iya, Pak Baron. Saya nggak apa-apa. Saya cuma butuh rileks sebentar.” “Em, duduk Gendhis.” Tiba-tiba, Bianca mendekat. Gendhis ingin mengelak, tapi dia tidak terlalu mampu. Dia juga tidak ingin memaksakan diri. “Kendurkan otot-ototmu, Gendhis! Jangan ditahan-tahan.” Ucap wanita itu lagi. Membimbi

