Sialan

1382 Kata

* * Bhumi melirik ke lantai atas, dimana kamarnya berada. Mendengus samar, karena belum ada tanda-tanda dua teman istrinya keluar dari pintu. Merasa harus menahan kesal, lelaki itu memilih menyeruput lagi cangkir kopinya yang ke dua. “Kenapa? Kesel ya?” Tatapan mata Bhumi beralih kepada sang anak di depannya. “Makanya, besok-besok lagi ditulisin tuh di depan rumah, jam besuk Gendhis hanya satu jam saja.” Bhumi meletakkan cangkir kopinya sedikit keras sampai menimbulkan bunyi aduan dengan cawan. “Kenapa kamu nggak coba memperingatkan mereka? Bukankah mereka temanmu? Dulu, kamu mati-matian membela laki-laki itu di depan Papa.” Bhumi tersenyum miring, membalas ledekan anaknya. “Ih, ogah! Yang berkepentingan sama Gendhis kan Papa. Jadi, Papa lah ngusir mereka.” “Oh, Papa tau. Kamu se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN