Napas Gendhis semakin tak beraturan. Tangannya gemetar, menyentuh kap mobil yang dingin dan berdebu. “Mobil ini... nggak mungkin salah.” Suara bisikannya hampir tak terdengar, namun bergema keras di kepalanya. Dingin di gudang bukan karena udara—tapi karena rasa takut yang tiba-tiba menyergap. Kakinya terasa lemas, tapi tubuhnya seperti dipaksa untuk tetap berdiri. Seolah sesuatu di sana menahannya untuk tidak pergi begitu saja. Penasaran. Ya, rasa itu yang dia alami sekarang. Takut, tapi dia ingin tahu tentang mobil itu. “Ini mobil siapa?” Lirihnya, terlalu panik. Dia mencoba menenangkan diri, tapi otaknya tak mau kompromi. Plat nomornya sama. Bahkan, cacat ringsek pada body depan dan kap mobil yang sedang dia sentuh itu masih jelas diingatannya. Gendhis kesulitan menelan ludah. T

