“Om—udah! Jangan lama-lama!” seru Gendhis setengah kesal, tapi juga gugup, karena Bhumi masih menempelkan wajahnya pada perutnya. Lelaki itu justru mengeratkan pelukan, seolah Gendhis tidak akan keberatan akan hal itu. “Bentar aja.” bisiknya lirih. “Aku cuma kangen sama anakku.” Gendhis melengos. Entah kenapa, apa yang dikatakan Bhumi, cukup mempengaruhi perasaannya. Ada rasa hangat saat Bhumi berkata merindukan anaknya, tapi di sisi lain dia juga merasa iri karena lelaki itu tidak mengatakan hal yang sama kepadanya. Bukannya menjauh, Bhumi malah bangkit sedikit, duduk di samping Gendhis di bean bag itu, lalu menahan tubuhnya agar tidak lari ke mana-mana. “Gendhis.” “Apa lagi?” tanya Gendhis sedikit sewot. Dia pikir, dia sudah terbebas dari Bhumi setelah lelaki itu bergerak. Tapi ter

