“Apa sih, Om? Nggak jelas banget.” Gendhis tak banyak drama. Dia memilih duduk di bean bag yang sejak tadi dia tempati. “Aku serius, Gendhis.” Tegas laki-laki itu. “Kamu boleh menjauhiku. Tapi, anak yang kamu kandung itu tetap harus dekat dengan Ayahnya. Kamu tahu bonding? Antara ayah dan anak itu harus tercipta bonding yang kuat.” Gendhis cemberut. Dia belum terlalu menyiapkan alasan jika berkaitan dengan anaknya. “Ya kan nanti juga bisa pas anaknya udah lahir.” “Kamu lupa kata dokter Anita apa? Peran suami saat istrinya sedang hamil itu sangat penting. Jadi, kalaupun kamu nggak mau deket-deket sama aku, tapi aku akan tetap mendekatimu karena ada anakku di perutmu.” “Kasihan sekali anakku.” Suara Gendhis terdengar lirih. “Punya Papa tapi orang jahat.” Bhumi langsung melunturkan waj

