* Ting tong. Jimmy yang sedang mengelus rambut Laura, membuka matanya cepat saat terdengar bunyi bel menggema dari pintunya. “Kenapa ada tamu?” Belum apa-apa, Jimmy sudah tegang. Dia menatap Laura yang sedang bermain ponsel santai sambil berbantal lengannya. “Temen Om kali?” Acuh gadis itu. “Kamu tahu aku nggak punya teman, Laura. Hidupku hanya untuk bekerja di Papamu. Em, dan sekarang, hidupku untukmu juga.” Ralatnya cepat karena Laura sudah menunjukkan wajah protes. Entahlah, padahal gadis itu sama sekali tidak terlihat menyeramkan. Laura justru nampak imut, yang selaras dengan wajah cantiknya. Tapi, tetap saja Jimmy takluk kepadanya. “Kalau begitu, mungkin itu Papa.” Santai Laura lagi. Awalnya, Jimmy tidak mengambil pusing. Namun, begitu dia benar-benar menyadari apa ucapan Laur

