* Tit tit tit tit. Ceklek. Grep. “Astaga!” “Aku kangen sama Om….” Seperti biasa. Laura langsung memeluk Jimmy setelah lelaki itu membuka pintu apartemennya. Benar rupanya, gadis itu benar-benar mewujudkan kata-katanya yang bilang menunggu Jimmy di apartemen. “Tapi, La.” Jimmy melerai pelukan, memegang kedua bahu Laura seraya menatap wajah cantik kekasihnya. “Kamu nggak bisa kesini terus-terusan seperti ini. Kalau Papamu tahu, aku benar-benar bisa dipecat.” “Tapi, Papa nggak mungkin melakukan itu. Papa butuh Om.” Laura cemberut. “Om juga masih butuh Papamu, Laura.” “Tapi, kalaupun Om cari kerjaan lain, pasti juga nggak akan susah kan? Secara, Om Jimmy orangnya pinter.” “Tapi masalahnya, ini soal loyalitas. Om sudah terlanjur nyaman kerja sama Papamu. Kami sudah dapat chemistry an

