“Sejak kapan Opa menganggapku cucu?” Suara Laura memecah keheningan dalam ketegangan. Gadis itu tiba-tiba berdiri “Bukankah bagi Opa, aku hanya cucu perempuan tidak berguna?” Laura masih berani menantang. “Ayolah, Nak. Jangan terlalu baper. Opa tahu kamu masih labil. Jadi, tidak perlu kamu ambil hati kalau Opa sedang kesal.” “Sedang kesal?” Laura tersenyum sinis. “Bukankah Opa tidak hanya sekali mengatakan kalau aku hanya anak perempuan yang nggak berguna? Oke, kalau Opa baru bilang sekali, dua kali, tiga kali, em… sampai SEPULUH kali. Mungkin, aku masih maklum.” Dia sengaja memberikan penekanan untuk menyindir. “Tapi, kalau Opa mengatakan itu sejak aku mulai paham arti kata ‘anak perempuan tidak berguna’, aku rasa tidak mungkin aku tidak mengambil hati. Ah, bukan-bukan! Aku bukan ba

