Menunggu Waktu

1833 Kata

Malam itu udara cukup hangat meski angin kecil kadang menerpa wajah. Di bawah langit berwarna jingga tua yang pelan-pelan berubah jadi gelap, lima remaja lelaki berjalan menyusuri gang kecil di kompleks perumahan yang ramai tapi mulai lengang. Mereka bukan segerombolan cowok biasa. Mereka adalah para cicit keluarga besar Adhiyaksa, yang dulu dikenal dengan reputasi tangguh, pintar, dan... yah, sedikit keras kepala. Farris, si pemimpin tak resmi, bertubuh paling tinggi, bersuara paling keras, dan paling sering bikin orang dewasa geleng-geleng kepala. Di sebelahnya, Farrid—adik kandungnya yang lebih kalem dan kadang jadi pengatur strategi. Lalu ada Fauzan, si jago nge-dance yang kadang joget bahkan saat jalan kaki. Fauzi, si pelawak dengan sejuta gaya, dan terakhir Fizzan, yang meski paling

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN