Chapter 19 Ansel baru saja bangun dari tidur siangnya. Anak seusia dirinya dan baru masuk sekolah taman kanak-kanak memang dianjurkan untuk tidur siang selain hari libur supaya tidak kelelahan dan menjadi rewel. Bocah lelaki itu mengulum senyum mengingat kembali perkataan kakaknya, Ayunda saat menyuapi dirinya sarapan. “Mbak!” “Ansel ada apa, hm?” “Mau mamam. Tapi disuapin, ya?” ujarnya memasang wajah merajuk manja. “Ansel 'kan sudah besar, masa makannya disuapin terus,” ujar Ayunda seraya mengambilkan nasi dan sayur bening untuk Ansel. “Mau disuapin,” ujarnya bersikukuh. “Iya, Mbak suapin.” “Mata kamu kok mirip matanya Mbak Mega,” gumam Ayunda seraya menatap intens wajah tampan bocah di depannya itu. “Tante Mega,” ucap Ansel memastikan jika wanita cantik yang pernah ia lihat itu

