Chapter 17 Mega mengernyit heran dengan keberadaan dua orang berbadan kekar yang satu berada di balik kemudi dan yang satu lagi kini membukakan pintu penumpang bagian belakang. Ia menggigit bibir bawahnya gusar. Rasanya seperti dirinya sedang di awasi. Mega yang duduk di kursi roda mendongak ke arah Athaya yang memasang wajah datar dan tanpa membalas tatapan Mega. Athaya hanya mengusap puncak kepala wanita itu. “Tenang saja, kamu aman bersamaku,” bisik Athaya, lalu menggendong Mega dan memindahkannya ke dalam mobil. Mega pasrah dengan semua yang dilakukan oleh Athaya. Sekarang sekujur tubuhnya baru terasa sakit. Memar-memar mulai tampak pergelangan tangan yang mulai terasa nyeri dan kaku. Pelipis dan dagu yang berdenyut karena adanya luka. Ia yakin wajahnya pasti mengenaskan. Namun ia

