Pandangannya menatap ke depan, ke hamparan hitam yang berkilauan memantulkan sinar lampu. Hamparan yang beriak dalam sapuan angin malam. Hamparan yang kadang bergulung karena ombaknya. Hamparan yang menelan kebahagiaannya, hidupnya, dan seluruh harapannya. Hamparan yang sama di titik yang berbeda yang sudah menenggelamkan kedua keramatnya. Zana masih belum menemukan kembali dirinya. Bahkan setelah setiap malam ia bergelung di kasur Mama dan Papa, tapi kehangatan yang dulu ia dapatkan sudah menghilang. Kasur dan selimut itu dingin. Rumah yang biasanya hangat dan damai, tempat menyambutnya dengan ceria kini bahkan terasa mengurungnya. Pelariannya satu, menatap hamparan air laut yang menelan kedua tiang hidupnya. Kakinya menjejak dinding pembatas tanpa takut. Tangannya terkepal di kedua s

