Lampu yang temaram, villa yang sepi, dingin yang mulai merayapi, wangi vanila dari rambut yang berada di sela jarinya, alkohol yang juga jadi pemicu, dan Zana yang hilang kendali. Entah alasan mana yang lebih penting. Tapi Brama tidak bisa tidak meraih pinggang di depannya. Ia juga menelusupkan tangan kanan di tengkuk Zana, menariknya semakin dekat dengannya. Bibirnya mencium bibir Zana sesuai keinginan gadis itu. Tidak peduli lagi ia dengan pemikiran yang mengingat kembali wangi vanila yang sama seperti yang ia hidu dari orang misterius itu. Brama kini hanya fokus pada gadis di depannya. Menarik tubuh Zana ke pelukannya. Posisi Zana di pangkuannya memberinya akses lebih banyak untuk meraih Zana lebih dekat lagi. Grep! Tangan Zana melingkari leher Brama begitu saja. Seperti tangan Bram

