82. —Hari-hari Kelam Itu

1200 Kata

Zana masih duduk sedangkan Brama sudah berdiri dari duduknya. Tangannya naik, meraih tengkuk Zana, menariknya mendekat. Tangan kanan Brama beralih menyentuh pipi dingin gadis yang mengerjap di depannya itu. Brama mendekatkan wajah. “Bau alkohol,” ucap Brama setelah mengendus wajah Zana. Kembali menjauhkan dirinya. Kembali duduk di stool yang menjaga jarak aman mereka. Menahan diri untuk tidak meraup bibir wangi wine itu. Bibir Zana terkatup rapat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berusaha mencari cara untuk membodohi Brama. Tapi detik selanjutnya ia sadar kalau Brama tidak mungkin bisa dibohongi. Jadi Zana mengangguk. “Cuma segelas wine,” Zana membela dirinya sendiri. “Kamu diizinkan minum?” “Enggak lah,” Zana menjawab secepatnya. “Terus kenapa ada wine di sini?” Kedua tel

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN