“Kamu keberatan kalau nunggu di sini?” tanya Brama setelah membuka sabuk pengaman. Bibir Zana mengerucut lalu menggeleng. “Aku gak boleh ikut, ya?” tanyanya mencoba menawar. “Saya belum tau apa yang ada di dalam,” jawab Brama. “Terus kenapa kamu sendirian?” “Karena sudah terbiasa,” mengutip ucapan Zana tadi, Brama tersenyum. Zana berdecak pelan, “Kalau ada apa-apa di dalem gimana?” “Kamu mengkhawatirkan saya?” goda Brama dengan kedua alis terangkat. “Enggak!” tandas Zana secepatnya. “Sana pergi!” tunjuknya keluar lalu bersedekap. Wajah cemberutnya kembali terpasang dengan lirikan keluar jendela. Tidak mau bertermu tatap dengan Brama yang kini sudah kembali tersenyum “Hm, saya turun dulu,” pamit Brama dengan satu elusan pelan di puncak kepala Zana. “Hm,” gumam Zana menjawab tanpa k

