SENTUHAN BERGAIRAH
Ku rasakan sebuah sentuhan yang begitu halus pada pipiku. Sentuhan itu terasa begitu hangat dan membuatku begitu nyaman.
“Sayang ….” Sebuah suara yang terdengar begitu lembut menyadarkanku. Perlahan ku buka kedua bola mataku, dan aku melihat sepasang bola mata yang sangat indah sedang menatapku. Aku tersenyum kepadanya, dan ku sentuh pipinya dengan begitu halus.
“Good morning, Arum Sekar Ayu Wijaya my future wife, my love.”
Aku tersenyum mendengar sebuah sapaan yang begitu indah di dalam pendengaranku, “Good morning, Ho Chen Reynald, my future husband, my love.” Suaraku terdengar begitu serak.
“Kamu tidak apa-apa kan Sekar?” Wajahnya yang tadi terlihat begitu cerah, kini berubah menjadi sangat khawatir. Ia berusaha memeriksa keadaanku.
“Aku telponkan dokter ya.” Ia mulai memalingkan tubuhnya dan ia segera mencari ponselnya yang entah kemana.
“Rey, tidak usah. Aku tidak apa-apa. I’m fine.” Aku berusaha meraih pundak Rey, dan meyakinkannya bahwa kondisiku sangat baik sekarang.
“Sekar, kamu jangan bercanda ya. Suara kamu terdengar begitu serak dan suhu tubuhmu juga terasa begitu panas.”
“Rey, memangnya kalau aku memiliki suara yang begitu serak itu tandanya aku sedang sakit ya? Bukannya jika kita sedang memadukan kasih suaraku juga berubah begitu serak bukan? Dan aku rasa tubuhku terasa begitu panas itu bukan karena aku sedag sakit, tetapi ….” Ku goda Rey dengan suaraku yang terdengar begitu manja.
Rey hanya memandangiku dengan tatapannya yang begitu mempesona. Ia mulai menyungingkan senyuman yang penuh dengan kelicikan. Ku tarik tubuhnya agar mendekatiku.
Ku lihat wajahnya yang begitu meneduhkan hati. Matanya, hidungnya, bibirnya semua yang dimiliki oleh Rey membuatku selalu jatuh cinta kepadanya. Aku mencoba meraba dadanya yang begitu bidang dan aku dapat merasakan detak jantungnya yang terasa begitu kencang.
Aku dapat merasakan deruan nafasnya yang begitu memburu. Dan aku menyungingkan senyumanku kepadanya.
“Sekar ….” Suaranya terdengar begitu berat dan perlahan ia mulai mendaratkan sebuah ciuman yang sangat hangat kepadaku. Ciumannya membuat darahku mendidih dan mengalir dengan begitu cepat.
Ciuman yang diberikan Rey kepadaku begitu mengairahkan. ia melumat bibir mungilku dengan penuh cinta. Ciuman yang ia berikan kepadaku membuat nafas kita berdua saling memburu. Tubuhku terasa begitu panas, Ada sebuah gejolak dalam diriku yang ingin aku puaskan.
Aku menikmati setiap perlakuannya kepadaku. Ia selalu mem-perlakukanku bagaikan aku seorang ratu dalam hidupnya. Setiap perlakuan yang ia berikan kepadaku, aku dapat merasakan rasa cinta yang begitu dalam. Rasa cinta yang dimiliki Rey kepadaku terpancar begitu jelas oleh sorot matanya.
“Again?” sebuah pertanyaan yang terlontar dalam bibir mungilku. Sebuah pertanyaan yang tak seharusnya aku ucapkan, karena aku sudah tahu apa jawabanya.
Rey tidak mengatakan sepatah kata pun kepadaku, melainkan ia hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Aku mengerti dengan respon yang diberikan Rey kepadaku. Respon yang selalu sama ia berikan kepadaku.
Mungkin menurut orang-orang, pagi itu pasti terasa begitu dingin. Namun, hal itu berbeda denganku dan Rey yang merasakan suasana pagi itu terasa begitu panas. Suasana yang membuat kami bisa saling menyalurkan rasa cinta kami satu sama lain.
“Kamu sudah siap?” hal yang selalu Rey tanyakan kepadaku jika ia akan memulai aksinya. Aksi yang hanya aku dan Rey yang memahaminya.
Aku hanya menganggukan kepalaku, dan aku mulai melingkarkan tanganku kepada bahunya yang terlihat begitu sexy. Tubuhnya terlihat begitu mengkilap oleh keringat yang mulai membasahi tubuh atlentisnya.
Perlahan ia mulai menundukan kepalanya dan ku lihat ia sedang berusaha memasukan sesuatu yang ia miliki. Sesuatu yang akan membuatku dan Rey begitu menikmatinya.
"Sayang... I Love You." bisik Rey pada telingaku, sembari ia mulai meng-gigit halus telingaku.
JLEEBB ... Sebuah hentakan kecil yang diberikan Rey kepadaku
“Akhh ….” Sebuah pekikan kecil yang selalu aku lontarkan ketika Rey memulai aksinya.
Rey hanya memandangiku dengan tatapan yang begitu nanar dan ia mulai mengecup keningku dengan begitu lembut. Rey memulai aksinya dengan sangat lihai.
Rey memberikan sebuah hentakan dengan ritme yang begitu kita sukai. Hentakan yang begitu pelan, akan silih berganti dengan hentakan yang cukup kencang. Rey begitu lihai mempermainkanku, sesekali ia akan menggodaku dengan tiba-tiba ia menghentikan hentakannya, lalu ketika aku bertanya kepadanya, maka ia akan memberikan sebuah hentakan yang begitu keras dan ....
"Akkhhh...."
Aku merasakan tubuhku mulai terasa begitu panas dan menegang. Erangan yang kami keluarkan begitu menggema diseluruh penjuru ruangan kamar kami. Dan saat yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Rey mulai merebahkan tubuhnya diatasku dengan nafasnya yang terasa begitu memburu. Aku memeluk Rey dengan sangat erat dan aku selalu mengucapkan, “Rey, I Love You.”
“I Love You too, Sekar. I Love You So Much.” Jawab Rey sembari ia mulai mengecup bibirku dengan begitu lembut dan penuh dengan kehangatan. Pagi itu terasa begitu mengelora, cinta kita melebur menjadi satu. Aku harap cinta kita akan selalu bergelora dan tidak akan pernah memudar sampai kapanpun.
Rey mulai berbaring di sampingku dan ia mulai menatapku dengan begitu lekat. Matanya seperti sedang mencari sesuatu di kedua kelopak mataku. Kita saling berpandangan, dengan tatapan penuh dengan cinta yang begitu mengelora. Aku rasa, rasa cinta yang kami miliki adalah sebuah rasa cinta yang sangat tulus.
Aku yang melihat sikap Rey seperti itu hanya bisa tersenyum. Aku merasa aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini karena aku memiliki Rey yang selalu tulus mencintaiku. Rey akan selalu mendukung apapun yang akan aku lakukan.
Rey selalu ada untuku di saat orang-orang mulai pergi meninggalkanku. bahkan Rey akan selalu melindungiku ketika aku menjalin suatu hubungan pertemanan yang toxic.
Karena pertemanan yang toxic itulah yang membuatku menjadi depresi, tetapi Rey lah yang selalu menguatkanku. Rey segalanya untukku.
Mungkin pada awalnya Rey selalu bersikap over protektif denganku, tetapi dengan bertambahnya usia kita, Rey menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih hangat.
Walaupun hubungan yang kita jalani selama delapan tahun ini sudah sangatlah jauh, tetapi hubungan kita berjalan tanpa kepastian. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan meresmikan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius lagi.
Jika keyakinan kita sama, mungkin aku dan Rey sudah menikah, tetapi cinta kita terhalang oleh restu kedua orang tua kita yang selalu mem-permasalahkan keyakinan kami. Aku dan Rey selalu merasa sedih ketika mengingat perbedaan keyakinan.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda keyakinan dengan kita? Apakah salah jika kita menikah? Aku hanya mencintai Rey. Hanya Rey yang memahamiku. Memang Rey bukanlah yang pertama untuku, tetapi Rey lah yang memperlakukan ku dengan begitu baik.
Cinta yang diberikan olehnya sangatlah tulus. Ia selalu berkorban untuku. Rey selalu memberi tanpa meminta balasan. Aku hanya ingin hidup bersama Rey. Hanya Rey yang bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali kepadanya.
Mungkin cara berpacaran kita yang salah. Tetapi yang aku tahu hanyalah AKU MENCINTAI REY, DAN REY JUGA MENCINTAIKU. Sampai kapanpun cinta kita akan selalu bersemi dan tidak akan pernah mati.