AKU HANYA INGIN MENIKAH DENGANMU

1026 Kata
“Rey –“ “Ya sayangku. Ada apa? Kamu mau lagi ya?” goda Rey sembari ia mulai menyelipkan rambutku pada daun telinga miliku dengan begitu lembut. “Rey hih ….” Sambil mencubit perut atlentisnya, aku menjawab pertanyaan Rey yang mulai mengodaku lagi. “Ha Ha, iya … iya sayangku ada apa?” “Rey, bisa tidak kamu tidak usah kembali ke batang lagi? Tinggalah disini bersamaku dan carilah pekerjaan di sini saja.” Sambil memegang pipiku yang mulai memerah karena menahan tangis, “Sayang … Aku tidak bisa di sini terus. Aku harus bekerja. Kamu tahu bukan kalau aku adalah pekerja proyek dan tidak mungkin aku mencari pekerjaan disini.” Jawab Rey dengan begitu lembut. “Tetapi Rey. Aku sangat membutuhkanmu, aku sudah sangat lelah dengan hubungan kita yang seperti ini. kita sudah menjalani hubungan ini selama delapan tahun tetapi kita sudah menjalani LDR selama enam tahun Rey.” “Sayang … bersabarlah. Kelak aku akan menikahimu dan aku akan membawamu kemanapun aku akan pergi. Aku berjanji kepadamu.” Sambil memeluku Rey mencoba memberikan pengertian kepadaku. Aku mulai menumpahkan semua kegundahan hatiku. Aku menangis dengan sangat histeris dalam dekapannya. Aku merasa begitu lelah menjalani sebuah hubungan yang tak tahu arah. Aku ingin segera menikah dengan Rey. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama Rey, hanya dengan Rey. Tetapi semua itu hanyalah anganku belaka. Karena hubungan kami terlalu rumit untuk dibawa kejenjang pernikahan. Selain kita berbeda keyakinan,  kita juga berbeda suku. Aku merupakan asli keturunan orang Jawa, sedangkan Rey merupakan keturunan Cina. Dan hal itulah yang membuat hubungan kita bertambah rumit dan pelik. Berkali-kali ingin rasanya aku mengakhiri hubungan ini, tetapi rasa cinta yang begitu besar dalam diriku dan Rey yang membuat kita bisa bertahan sampai saat ini. “Rey … jangan pergi … aku mohon jangan pergi.” Rengeku dalam dekapanya dan aku memeluk tubuhnya yang begitu atlentis dengan begitu erat. Aku tidak ingin melepaskan Rey. Rey tidak menjawab sepatah katapun, tetapi yang aku tahu pelukan Rey juga bertambah erat. Aku merasa Rey juga sedang meneteskan air matanya. Tetapi karena egonya, Rey tidak ingin aku melihatnya. Akhirnya kita berdua hanya bisa menangis dalam diam. Tiga puluh menit kemudian, akhirnya kami pun melepaskan pelukan yang begitu emosional ini.aku melihat mata Rey begitu sembab oleh linangan air matanya. “Sekar … aku berjanji akan segera menikahimu.” “Rey … Jangan cuma janji-janji terus! tapi tolong buktikan Rey! Kamu berkali-kali selalu mengatakan kepadaku untuk menikahi aku dengan segera. Tapi kapan Rey? Kapan! Aku sudah menunggumu selama delapan tahun Rey, delapan tahun!” Aku tidak bisa melanjutkan omonganku lagi dan pada akhirnya aku hanya bisa menangis. Terlalu sakit rasanya mengungkapkan semua kegundahan hatiku kepada Rey. Aku hanya takut Rey akan mengingkari janjinya dan pada akhirnya ia akan meninggalkanku sendirian disini. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya aku ketika Rey pergi meninggalkanku sendirian di dalam kegelapan malam yang terasa begitu menyakitkan dan mencekam. “Sekar aku mohon jangan menangis lagi. Hatiku terluka Sekar … Aku tidak kuat ketika harus melihatmu menangis seperti ini. aku mohon Sekar.” Aku tidak mengaidahkan perkataan yang dikatakan Rey kepadaku. Aku hanya merasa Rey sedang mempermainkanku. Aku hanya menginginkan Rey segera menikahiku sudah cukup, aku tidak akan meminta lebih lagi kepada Rey. “Sekar, maafkan aku yang tidak bisa segera menikahimu. Banyak hal yang harus aku urus Sekar.” “Hal apa yang harus kamu urus? Hal apa itu? Kamu berkali-kali berjanji kepadaku Rey tetapi sampai sekarang kamu tidak menikahiku. Boro-boro menikahiku, kamu saja yang sudah berjanji untuk mengikuti keyakinanku,  sampai sekarang juga belum mengikuti keyakinanku bukan?” Rey hanya memandangiku dan ia mulai memeluku lagi. “Aku mohon tunggulah aku sebentar lagi sekar, aku mohon. Tahun depan genap Sembilan tahun hubungan kita, aku akan menikahimu dan akan aku jadikan kamu wanita yang paling bahagia di dunia ini. aku janji Sekar aku janji.” Ucap  Rey dengan begitu tulus. “Kalau sampai tahun depan kamu tidak segera menikahiku bagaimana?” tanyaku balik kepada Rey yang masih memeluku dengan begitu erat. “Terserah kamu ingin melakukan apa Sekar aku akan menerima semua keputusanmu.” “Oke, kalau begitu. Kita lihat tahun depan kita bisa menikah atau tidak, jika sampai tahun depan kamu tidak segera menikahi ku. Maka jangan pernah salahkan aku untuk menikahi pria lain. Pria yang berani berkomitmen denganku.” Jawabku dengan lugas. Aku tidak mendengar jawaban dari Rey, melainkan aku hanya mendengarkan isak tangisnya yang semakin lama semakin terasa begitu perih dan menyesakan d**a. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu Sekar. Aku akan menikahimu bagaimanapun caranya. Aku akan menepati janjiku kepadamu. Sampai kapanpun aku akan terus mencintaimu dan aku akan menikahimu. Kamu miliku, sampai kapanpun kamu adalah miliku.” Ucap Rey dengan lugas. Perkataan yang diucapkan Rey kepadaku, membuat hatiku menjadi luluh lagi. Dan hal itu membuatku menjadi bertambah parah mencintai Rey. Mungkin aku gampang mengucapkan kata putus dan akan pergi meninggalkannya. Tetapi kenyataannya aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku sangat mencintai Rey, aku sudah terlanjur memberikan hatiku kepadanya. Hidupku akan terasa begitu hancur ketika aku melepaskan Rey. Sambil melihat jam dinding yang bertengger di apartementku Rey memintaku untuk segera mandi dan segera pergi ke kampus untuk menyelesaikan skripsiku. “Sekar, mandi yuk. Lihat sudah pukul Sembilan pagi.” “Aku tidak ingin mandi Rey. Aku hanya ingin bermalas-malasan bersamamu dan aku hanya ingin menghabiskan hari-hariku bersamamu.” Jawabku sambil ku kecup pipinya dengan begitu lembut. “Sekar … ayo to semangat. Kamu tidak boleh seperti ini. ingat tahun depan kita akan menikah, jadi sebaiknya kamu segera selesaikan kuliahmu.” “Apa hubungannya lulus kuliah dengan menikah? Aku tidak keberatan jika aku harus menikah bersamamu sekarang. Bahkan aku sudah sangat siap menikah denganmu Rey.” “Sekar … kamu mau menjadi ibu rumah tangga? Dan apa kamu mau membawa anak kita waktu kamu sidang skripsi besok? Tidak kan? Kamu juga ingin berkarier dan hidup bebas dulu kan?” “Tidak! Aku tidak pernah keberatan untuk menjadi ibu rumah tangga dan hanya merawat anak kita dan kamu. Aku hanya ingin hidup bersamamu, tidak lebih Rey. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu.” Sambil menarik selimut aku pun mulai menangis lagi. Entah kenapa aku merasa sikap Rey begitu berubah setelah ia bekerja. Rey selalu mengatakan kepadaku untuk segera menyelesaikan skripsiku dan ia selalu mengatakan kepadaku untuk mengejar karier terlebih dahulu. Padahal ia amat tahu bahwa yang aku inginkan adalah menikah dengannya dan menjadi istri yang baik dan menjadi satu-satunya wanita yang ada dalam hati Rey. Kenapa begitu sulit untuknya segera melamarku dan segera menikahiku? aku bisa kok hidup bahagia dengannya dalam kesederhanaan. Menurutku harta bisa kita cari bersama-sama dan aku yakin jika kita berdua sama-sama saling berjuang kita juga akan bisa menjadi orang sukses tanpa harus mengorbankan waktu yang tertunda untuk kita menikah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN