AKU BAHAGIA BERSAMAMU

1053 Kata
Qoutes hari ini : Long Distance Relationship memang sangatlah susah. Akan banyak badai yang menghantam perahu cinta mereka, tetapi terpaan badai bukanlah penghalang untuk mereka berjuang bersama-sama untuk melabuhkan kapal di dermaga cinta terakhir mereka :) dan hal itu hanya bisa di lakukan oleh orang-orang yang kuat. Jadi untuk kalian yang sedang menjalani hubungan LDR entah LDR beda kota, provinsi, pulau, negara bahkan beda keyakinan tetaplah semangat karena kekuatan cinta yang kalian miliki lah yang akan menyelamatkan perahu kalian :) - Nimas Ayu  Bahuku naik turun karena isak tangisku yang pecah karena memikirkan tiga hari lagi aku dan Rey akan LDRan lagi. Ya, aku sudah sangat muak dan lelah dengan LDRan yang telah kita jalani. Kalau hubungan kita jelas kemana arahnya, mungkin aku akan bersikap biasa saja ketika Rey harus kembali bekerja, tetapi untuk hubungan yang belum jelas arah jalannya, membuat aku begitu kalut. “Sekar, ayo mandi yuk. Habis itu kita sarapan terus lanjut ke kampus.” Aku tidak memperdulikan omongan Rey. Hatiku terlalu sakit memikirkan hubungan kita. Aku bingung, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk meluruskan benang kusut milikiku dan Rey. “Sekar…” Panggil Rey lagi, sembari ia mulai membuka selimut tebalku. “A-ku. Tidak ingin mandi! Aku tidak ingin pergi ke kampus! Aku Cuma ingin bersamamu Rey, hanya bersamamu.” “Sekar! Kamu bisa tidak sih sedikit dewasa. Aku lelah Sekar menghadapi tingkahmu yang seperti ini. Aku lelah!” Bentak Rey kepadaku yang masih tertutupi oleh selimut yang tebal. Kata-kata yang terlontar oleh bibir Rey membuatku begitu sedih. Sebelumnya Rey tidak pernah membentaku, tetapi sekarang ia begitu gampangnya  membentaku dan mengatakan hal-hal yang begitu kasar kepadaku. Isak tangisku tidak bisa aku bendung lagi. “Sekar, aku mohon bangunlah!” Sekali lagi Rey membentaku yang belum merubah posisi. Aku yang tersulut emosi akhirnya bangkit dari tidurku dan aku tatap lekat-lekat kedua bola Rey. “Apa! Apa!!” Bentakku tak kalah kuatnya dengan bentakan Rey kepadaku. Rey mengambil nafas begitu dalam dan ia mencoba berbicara dengan lembut lagi kepadaku. “Sekar … aku mohon, kamu jangan seperti ini.” “Jangan seperti ini apa? Hah! Kamu tidak suka dengan sikapku yang seperti ini?” Potongku dengan begitu cepat. “Sekar, aku tahu kamu ingin kejelasan dariku. Tetapi aku mohon pengertianmu. Dan bukan seperti ini caramu untuk segera menikah denganku. Jika kamu ingin segera menikah denganku maka luluslah terlebih dahulu, lalu aku akan menikahimu.” “Kamu akan menikahiku.” Aku memutar kedua bola mataku dengan begitu sinisnya, “Kamu sudah mengatakan hal itu beribu-ribu kali Rey. Tetapi kenyataannya bagaimana? Kamu tidak segera menikahiku bukan?” lanjutku dengan suara yang mengebu-ngebu. “Berapa kali aku harus mengatakan kepadamu Sekar? Aku akan menikahimu, tetapi tidak sekarang. Aku mohon pengertianmu.” Aku tidak menggubris omongan Rey kepadaku dan aku asyik melihat sudut ruanganku yang terlihat begitu kosong, seperti masa depan hubunganku denan Rey yang terlihat begitu kosong dan sunyi. Suasana saat itu terasa begitu menyesakkan d**a. Hembusan angin yang di hasilkan oleh pendingin ruanganku  terasa begitu panas, seperti hatiku yang terbakar oleh emosi sesaat. Aku pikir dengan mendiamkannya, ia akan luluh dan mulai merayuku lagi agar mau memaafkannya, tetapi dugaanku salah. Ia mulai mengenakan pakaiannya dan ia mulai melesat pergi meninggalkanku di sebuah ruangan yang terasa begitu sesak. Aku tidak habis pikir Rey akan meninggalkanku dengan kondisi seperti ini. Apakah Rey lupa dengan kondisi mentalku yang sedang sakit? Apakah Rey sudah tidak peduli dengan diriku yang mulai merasa depresi dengan semua masalah yang menghantam hubungan kita berdua. Kepalaku terasa begitu sakit memikirkan permasalahan dalam hubungan kami yang tidak kunjung selesai. Aku membenamkan tubuhku pada lautan kapuk miliku yang terasa begitu lembut. Aku berharap dapat memejamkan mataku lagi, dan dapat melewati semua masalahku, tetapi dugaanku salah. Aku tidak bisa tertidur. Aku memikirkan kemana perginya Rey. Aku mulai menangis lagi. Dan dalam keadaan seperti ini membuatku ingin …. Sekali mengakhiri hidupku yang terasa tidak berguna. Aku mulai membuka selimutku dan aku mulai bangkit dari tempat tidurku. Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi. Aku mulai menyalakan air, dan aku mulai membenamkan tubuhku dalam bathup yang perlahan mulai terisi oleh air. “Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua permasalahan dalam hidupku yang begitu pelik. mungkin dengan cara seperti ini lah permasalahanku akan terselesaikan.” Ucapku kepada diriku sendiri yang sedari tadi selalu menatap langit-langit kamar mandi. Kini volume air sudah mulai menggenangi kedua telingaku. Aku sudah tidak bisa mendengarkan suara apapun dari luar, yang aku tahu aku akan segera pergi ke Surga. Ya, ini adalah cara yang terbaik dalam menyelesaikan permasalahanku. Aku akan segera pergi meninggalkan semua beban kehidupanku. Hatiku terasa begitu sesak dan sakit. Namun, hanya inilah yang bisa aku lakukan untuk membuang semua permasalahanku. Perlahan aku mulai menutup kedua bola mataku, ketika aku merasakan volume air mulai menutupi kedua lubang hidungku. “Selamat tinggal Rey, selamat tinggal Mama, Papa. Sekar menyayangi kalian. Mungkin dengan begini, Mama dan Papa tidak akan merasa malu melihat anak tertuanya menjalin hungan yang salah. Rey, semoga di kehidupan selanjutnya kita bisa bersama-sama lagi. I LOVE YOU REY.” “Sekar!!” Aku merasakan ada sebuah teriakan dari seseorang yang sedang memanggilku dan ia berusaha untuk menggapai kedua tanganku. UHUK …. Aku mulai memuntahkan semua air yang ada dalam tubuhku. “Sekar …. Apa yang kamu lakukan? aku mohon jangan seperti ini.” Isak Rey kepadaku yang mulai membuka kedua bola mataku dengan perlahan. Aku menatap Rey dengan nanar. “Rey? Kamu disini?” Suaraku terdengar begitu lirih. “Iya, iya Sekar. Aku ada disini untuk kamu. Aku mohon bertahanlah.” Rey mulai membopongku dengan begitu hati-hati dan Rey mulai merebahkan tubuhku. Dengan sigap Rey mulai mengambil baju dari almariku dan ia mulai memakaikan baju dengan lengan panjang dan celana panjang. “Sekar, maafkan aku. Maafkan aku.” Aku mengembangakn senyuman yang terlihat begitu manis kepada Rey yang sedari tadi selalu mengusap-ngusap kedua tanganku dengan begitu lembut. “Iya Rey.” Jawabku sembari aku menganguk-anggukan kepalaku kepadanya. “Sekar, Aku mohon jangan pernah kamu  melakukan hal seperti itu lagi kepadaku ya. Aku mohon Sekar. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu Sekar.” Ucap Rey dengan begitu tulus. “Iya Rey,aku berjanji aku tidak akan melakukan hal konyol seperti itu lagi.” Akhirnya kita mulai berpelukan dan kita sama-sama menyadari kesalahan yang ada dalam diri kita masing-masing. “Sekar, kamu pasti sudah lapar bukan?” “Mmm …” Jawabku singkat sembari aku menganggukan kepalaku. “Aku masakin sup ikan mau?” “Ya, aku mau Rey.” Jawbku dengan lugas. “Oke, aku masakin dulu ya.” “Rey … Aku ikut kamu masak boleh?” Rey tersenyum melihatku yang bersikap begitu manja kepadanya. “Ya, tentu saja kamu boleh ikut sayangku.” Sambil mengandeng tanganku dengan begitu lembut, Rey mulai mengajakku untuk pergi ke dapur dan memasak bersama. “Sekar … kamu duduk disini ya. tubuh kamu pasti sangat lelah jadi lebih baik kamu duduk di sampingku dan melihatku memasak untukmu.” Tanpa membantah perkataan Rey, aku mulai menuruti semua permintaannya. Aku harap Rey akan terus bersikap manis kepadaku dan aku harap aku dan Rey segera melangsungkan pernikahan kami.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN