Aku dan Coklat

1402 Kata
11.00 malam Aku dan segelas coklat panas. Judul cerita yang menggambarkan keadaanku saat ini, coklat panas ini sudah datang 10 menit yang lalu, diantar oleh pelayan wanita yang mengantarkan coklat panas pertamaku dan melayaniku di restoran hotel tadi. Awalnya aku kebingungan kenapa dia mengantarkan coklat panas kembali, namun kemudian aku ingat bahwa dia berjanji di restoran tadi akan mengantarkan coklat panas sebagai ucapan maaf atas keterlambatan dia sebelumnya. Mau tak mau aku menerima niat baiknya, karena aku sudah terlanjur mengangguk. Coklat panas ini belum aku minum sama sekali, hanya memandangi warna coklat pekat dan kentalnya saja. Aku menolehkan pandangannya ke kapal satu-satunya yang kini masih terapung di dasar Sungai Charles, belum beranjak sedikit pun. Aku menghela nafas pelan, gambar gadis kecil yang tertera di kaca jendela hilang lagi, tak ada niat bagiku untuk memunculkannya kembali. Aku menengadahkan kepala menatap bulan dan bintang-bintang di atas sana, mulai mengingat sekaligus mengenang kembali kisah lamaku. Semuanya akan terbungkus malam ini. Aku pastikan itu. *** Dan benar saja, di kelas hanya aku yang mendapatkan nilai 100 untuk ulangan matematika tadi, Dodi nampak cemberut melihat nilaiku. "Kamu lagi yang dapat 100," gerutu Dodi sambil merebut lembar jawaban yang sudah dinilai oleh bu Sintia. "Hei jangan iri!" seruku kesal pada Dodi karena dia merebut lembar jawabanku begitu saja, bagaimana jika nanti lembar jawabanku jadi sobek!? Aku merebut kembali lembar jawabanku dari Dodi dan langsung menyimpannya ke dalam tas. Kami terus berdebat tentang nilai dan tetap melangkah menuju rumah. "Hei Dodi, aku bosan," ucapku tiba-tiba pada Dodi. Aku pun berkata hal itu tanpa berpikir lebih dulu, semuanya keluar begitu saja dari mulutku. Dodi menoleh padaku, diam sejenak kemudian dia tersenyum tipis lalu menundukkan pandangannya, nampak berpikir. "Sekali lagi aku mau bertanya, apa yang dulu kamu bicarakan dengan ayahku?" Walau aku tau inti dari apa yang dibicarakan ayah dulu dengan Dodi, tapi aku masih ingin mendengar penjelasannya langsung dari Dodi. "Maaf ya Hana, seharusnya aku menahanmu waktu bermain dulu, kamu jadi dimarahi 2 kali sama ayahmu. Aku tau kamu tidak diizinkan bermain keluar, tapi aku masih ingin bermain bersamamu, makanya aku selalu ke rumahmu, dengan Ludo. Ya walau hanya berdua saja, tapi itu menyenangkan asal bersama kamu Hana." Pandangan Dodi sayu menatapku, kemudian dia tersenyum lebar sampai bola matanya tak nampak, tertutup rapat saking lebarnya senyuman Dodi. Wajahku memerah seketika, bukan karena marah, tapi aku terharu pada Dodi, aku menyadari ada yang aneh dengan jantungku, dia berdetak begitu cepat. Sejak saat itu, aku benar-benar memutuskan pada diriku sendiri, sampai kapan pun aku tak akan pernah mengkhianati persahabatan kami, aku akan selalu bermain bersama Dodi, tidak akan pernah melupakannya, akan selalu mengalah padanya, dan tak akan pernah membuat dia kecewa, karena dia... adalah malaikatku, cinta pertamaku. Walau pada akhirnya, aku yang akan dibuatnya kecewa di masa depan nanti. Walau akan tiba masa, di mana aku tak akan lagi mengingat dirinya, akan tiba saatnya di mana persahabatan kami akan berakhir pada detik yang memilukan itu, dan akan tiba waktunya di mana Dodi lah yang harus mengalah untukku. Sampai saat di mana, dia bukanlah lagi malaikatku. "Dodi... untuk kali ini saja, maukah kamu memenuhi permintaanku yang egois ini?" Aku bertanya dengan suara yang serak pada Dodi, karena aku berusaha menahan agar air mataku tidak keluar dulu sebelum dia menghilang dari hadapanku. "Permintaan? Apa?" tanya Dodi menelengkan kepalanya 90 derajat, nampak heran sekaligus penasaran. "10 menit lagi-- tidak! Tapi 5 menit lagi aku akan ke rumahmu, kita bermain di lapangan ya! Bersama teman-teman yang lain!" seruku sambil melambaikan tangan dan berlari menjauh dari Dodi. Aku tak tau apa yang ada di pikiran Dodi saat ini, dan bagaimana ekspresinya saat mendengar permintaanku, atau mungkin bisa dibilang perintah. Aku tidak peduli. Karena aku sudah bertekad, sampai kapan pun, ayah tak akan pernah mengijinkanku untuk bermain keluar rumah, jadi biarlah hari ini aku menikmati waktuku bermain bersama teman-teman, biar lah hari ini menjadi akhir dari masa kecilku yang bahagia. Aku langsung melempar tasku ke sembarang tempat dan mengganti seragam sekolahku. Aku beranjak ke dapur, mencuci semua alat makan bekas sarapan tadi secepat yang aku bisa, setelah mencuci tangan aku mulai berlari dari rumahku ke rumah Dodi. Baru sampai di depan pintu rumah Dodi, Dodi baru keluar dengan ekspresiku terkejut. "Padahal aku mau menjemputmu," ucap Dodi sambil menutup pintu rumahnya. "Kan aku udah janji, kalau aku yang akan menjemputmu. Ayo!" seruku lantang sambil menarik tangan Dodi ke lapangan. "Hana... apa tidak akan jadi masalah jika kita pergi main keluar?" tanya Dodi dengan hentakan nafas yang ngos-ngosan karena terus berlari mengikuti langkahku. Aku berbalik sejenak untuk tersenyum tipis pada Dodi. "Tidak masalah, aku pastikan itu," jawabku tidak terlalu memikirkan hukuman yang akan aku terima dari ayah nanti. Toh ini untuk terakhir kalinya aku akan membangkang pada ayah, dan cambukan nanti juga akan menjadi cambukan terakhir dalam hidupku. Aku sudah membulatkan tekad. Kami sampai kelapangan hanya dalam hitungan menit, yang pastinya dengan nafas yang ngos-ngosan. Semua teman-teman sudah berkumpul di lapangan, menatap heran aku dan Dodi. "Sudah lama kalian tidak main ke sini, ada apa?" tanya salah seorang temanku. Aku tersenyum lebar lalu menggelengkan kepala, "Ayo main!" ajakku langsung diangguki dengan penuh semangat dan sorakan oleh teman-temannya yang lain. Kami tak hanya bermain petak umpet, tapi juga bermain masak-masakan dan kejar-kejaran sampai kelelahan. Ada satu kali aku terjatuh sampai lututku berdarah, untuk cepat dibersihkan oleh Dodi dengan sapu tangannya dan air hangat dari salah seorang temanku yang rumahnya di depan lapangan. Burung-burung putih sudah berterbangan, mereka kompak terbang satu arah dan berkelompok, tersusun rapi untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Langit pun sudah berwarna jingga, satu-persatu teman-teman sudah berbalik pergi, kembali ke rumah mereka masing-masing. Sudah cukup permainan untuk hari ini. Luka di kakiku pun tidak akan menghambat langkahku untuk kembali ke rumah, walau jujur perihnya masih terasa. "Kamu tidak apa-apa Hana?" tanya Dodi cemas sambil menatap sayu luka di lututku. Aku menepuk ringan bahu Dodi, "Tidak apa-apa kok, hanya luka kecil. Kamu jangan memasang ekspresi seperti itu dong!" cemberutku pada Dodi. Dodi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Lain kali aku tidak akan membiarkan kamu terluka lagi, Hana." Aku terdiam sejenak setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Dodi. "Aku pegang ucapanmu," jawabku pada Dodi sambil mengacungkan jari kelingking. Dodi tertawa lebar, dan membuat janji jari kelingking bersamaku. Dengan hati riang, kami melangkah beriringan ke rumah. Aku menatap rumahku yang hanya berjarak 20 langkah lagi. Sudah ada motor butut ayah yang terparkirkan di depan rumah, aku menelan ludah. "Mau aku temani sampai ke rumah?" tanya Dodi menawarkan diri. Aku menggeleng ringan, aku tak ingin melibatkan Dodi dalam masalahku sendiri. Apalagi ini adalah masalah keluargaku sendiri. Aku benar-benar tak ingin menyusahkan Dodi. Setelah melihat Dodi masuk ke rumahnya dengan ekspresi ragu, aku langsung melangkah sebanyak 15 langkah menuju rumah. Dengan perasaan deg-degan, nafas tak teratur, dan luka di lututku yang masih terasa perih, semuanya aku satukan jadi tekad. Ini perbuatanku, jadi aku harus menerima hasil dari apa yang telah aku perbuat. Aku mendorong pintu rumah pelan, semuanya nampak kosong, tidak ada ayah atau pun ibu di rumah, padahal jelas-jelas aku melihat motor ayah sudah terparkir di depan rumah. Bukannya malah lega, justru aku semakin takut. "Puas pergi mainnya tanpa izin? Dan sekarang masih berani kembali ke rumah?" Suara yang serak dan mencekik dalam itu mengangetkanku, ayah muncul dari balik dapur dengan wajah menyeramkannya. "Maaf Yah, Hana janji ini yang terakhir," ucapku pelan. Aku sudah mempersiapkan kalimat ini dari lama. Aku menutup mata, siap menerima cambukan. "Sudah berapa kali kamu bilang ini janji yang terakhir? Dan kenapa kamu menutup mata? Ayah tidak akan memberi hukuman kok, asal kamu jangan bermain lagi di luar rumah, kamu perlu tau Hana... kamu akan selalu lupa waktu jika bermain, jadi tidak ada waktu untukmu bermain lagi, belajarlah, bantu pekerjaan ibumu. Dan jangan coba-coba untuk pergi tanpa izin lagi," jelas ayah menatap tajam diriku. "Baik Yah," jawabku gemetaran. "Hana, kalau bisa kamu jangan terlalu banyak membaca, tidak baik untuk matamu." Ayah menghela pelan nafasnya, tersenyum sayu padaku. Aku tercengang cukup lama menatap ekspresi ayah, sudah lama aku tak melihat wajah tersenyum ayah, setelah itu aku bernafas lega, "Baik Yah!" Hal yang sudah aku perbuat memang harus aku terima hasilnya, walau untuk selamanya aku tidak diperbolehkan bermain ke luar rumah lagi, asal bisa bersama Dodi saja itu sudah cukup. Dan aku juga sudah bertekad, tidak akan mengecewakan ayah lagi. Walau kebahagiaan masa kecilku harus berakhir detik ini juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN