Saat keluar dari asrama, Omar sudah menungguku. Dia tersenyum dengan raut mata yang nampak sayu. "Assalamu'alaikum Hana," salam Omar sambil tersenyum tipis. "Wa'alaikumsalam." "Kamu benar tidak apa-apa? Aku khawatir padamu." Situasi canggung mengulitiku. Aku tidak tau harus bagaimana. Aku hanya menggeleng ringan, tak bersuara. Langsung ke kampus, Omar pun menyejajari langkahku, pastinya dia selalu memberi jarak di antara kami. Tak pernah benar-benar dekat. "Hei, kenapa kamu selalu membuat jarak dariku? Semenjijikkan itu kah aku? Tiap duduk, tiap berdiri, tiap berjalan, dan setiap saat kamu selalu membuat jarak di antara kita. Kenapa?" Aku bertanya datar pada Omar. Penasaran. Omar tertegun mendengar pertanyaanku. Dia kemudian tersenyum tipis. "Justru karena aku menjauhi dosa, tak bai

