Menu Spesial

1321 Kata
11.25 malam. Kapal satu-satunya yang terapung di Sungai Charles sana mulai bergerak menjauh dari dasar sungai, aku menatap lama kapal itu sampai benar-benar menjauh dari dasar Sungai Charles. Setelah 1 menitan berlalu, aku tersenyum tipis, sekarang sekitaran Sungai Charles itu kosong, tak ada apapun yang terapung di atasnya, hanya menyisakan air Sungai Charles yang berwarna gelap karena hari sudah malam, dan lampu-lampu yang berada di sekitar sungai pun tak akan mampu membuat Sungai Charles berubah warna. Aku menengadahkan kepala beberapa sudut, menatap bintang-bintang dan bulan sabit yang tersusun indah di langit sana. Langit yang seharusnya gelap dan kosong mampu mereka buat jadi indah dan bercahaya, bulan dan bintang. Seandainya aku seperti mereka, walau kecil dilihat dari kejauhan, walau hanya datang saat malam tiba, tapi mereka begitu memberi arti pada semua makhluk hidup, di malam yang seharusnya gelap gulita, berkat kehadiran dan keindahan mereka, mampu memberi cahaya pada malam. *** Karena dari awal, aku sama sekali tidak ada niat untuk berteman dengan siapa pun, toh untuk apa? Setiap pulang sekolah aku hanya bisa membaca buku yang sudah aku pinjam di perpustakaan, tak boleh keluar rumah, kalau keluar pun untuk apa? Bukankah aku sudah berjanji pada orangtuaku, dan pada diriku sendiri untuk tidak akan pergi bermain lagi? Memang, bagi banyak orang masa remaja adalah masa mencari jati diri, tapi aku tidak peduli. Mau masa mencari jati diri, mau masa memperbaiki diri, atau masa memberitahukan diri di depan publik, aku benar-benar tidak peduli, karena semua itu tidak akan merubah persepsiku sendiri. Guru mulai memasuki kelas, Diana memperbaiki duduknya. Pelajaran pertama kami hari ini adalah bahasa Indonesia, kami mulai mencatat semua materi yang disuruh oleh guru itu selama jam pelajaran berlangsung. Bukan hal yang jarang lagi jika seorang guru sudah memberi tugas, dia akan izin keluar sebentar. Ya, sebentar dalam fakta yang berbanding terbalik. Setelah guru bahasa Indonesia itu keluar, kelas mulai ribut dan berisik, aku memperhatikan sekitar, untung saja semuanya tetap mencatat walau ikut ribut, jadi tak perlu untuk aku tegur. Membuang tenaga saja. Sebenarnya, aku tidak menginginkan posisi ketua kelas ini, tapi karena aku diberi kebebasan untuk makan di kantin dengan biaya ditanggung pihak sekolah, jadi aku menerimanya, walau faktanya aku bahkan sangat jarang ke kantin sekolah. Guru bahasa Indonesia itu tak kunjung balik, aku menatap jam dinding, sudah 1 jam berlalu. Aku menghela nafas, bagaimana bisa pendidikan di negeri kita berkembang, jika pendidiknya saja seperti ini? Haaaah... Semua murid sudah tidak nampak duduk di bangkunya masing-masing, mereka asik berkelompok dan membahas berbagai macam hal, dengan sebuah sarana yang tak pernah luput dari kehadiran mereka, yaitu sebuah benda berbentuk persegi panjang yang berisikan banyak hal, ponsel. "Hei, udah lihat debutnya idol baru gak? Kabarnya model pakaian remaja yang trend di Amerika saat itu juga ikut debut di grup itu loh," seru salah seorang murid di kelasku pada teman sekelompoknya. Mereka asik melanjutkan pembahasan satu sama lain, dengan tangan dan pandangan yang masih fokus ke ponsel mereka masing-masing. "Lihat-lihat, ini dia model Amerika yang merupakan campuran Korea dan kini debut sebagai K-Pop. Album pertama mereka sudah mencapai 20M viewrs loh, masuk trending di berbagai negara juga!" seru temannya yang lain sambil memperlihatkan foto idol yang ada di ponselnya itu pada teman-temannya. Murid-murid kutu buku di bagian depan juga sibuk dengan ponselnya masing-masing, membahas sel-sel darah untuk pelajaran biologi, dan semua yang mencakup untuk pembelajaran. Aku hanya melirik sejenak, diam. Aku iri pada mereka, dengan adanya ponsel itu dalam hidup mereka, mereka jadi bisa melakukan banyak hal. Namun aku? Sampai kapan aku harus membaca buku ini? Buku yang juga tidak milikku, hanya buku pinjaman dari perpustakaan sekolah yang sangat memberatkan jika harus dibawa pulang dan diantar kembali ke sekolah, untuk sesaat aku berpikir, bahwa aku sudah lelah. Aku ingin hidup baru, aku ingin kisah baru, aku ingin perubahan dalam hidupku, walau hanya perubahan kecil. Sungguh, aku sudah muak seperti ini. "Hana!" sorak Diana mengejutkanku. "Apa lagi sih!?" kesalku pada anak satu ini. "Kantin yuk!" ajak Diana dengan polosnya, padahal saat ini masih dalam jam pelajaran. "Tidak! Sekarang masih jam pelajaran," tegasku, seakan wibawa seorang ketua kelas itu telah keluar dalam diriku. "Gak apa-apa kok, lagian kan kamu sudah selesai mencatatnya. Ibuk tu gak bakal masuk ke kelas lagi kok," jelas Diana sambil tertawa cengengesan. "Jangan mengada-ada deh!" seruku kesal, dari mana pula dia tau bahwa guru bahasa Indonesia tak akan kembali. Walau memang, aku cukup ragu kalau guru bahasa Indonesia itu kembali ke kelas. "Jadi gak mau nih? Padahal pagi ini ada menu nasi goreng spesial loh, porsi jumbo dengan tambahan ayam goreng spesial dan kerupuk 2 bungkus." Fix! Ucapan Diana mampu menggugah seleraku. Lagian aku akan makan gratis di kantin, memang bisa kapan saja, tapi menu spesial nasi goreng ini jarang ada, kalau pun ada palingan satu kali dalam 2 bulan. Aku dan Diana langsung menuju kantin, Diana terus mengoceh hal tidak penting kepadaku, aku hanya menanggapi dengan anggukan ringan saja, tidak memasukkan ke otak sama sekali apa yang dikatakan Diana. Sebenarnya, setiap Diana mengoceh banyak hal, aku benar-benar tidak pernah memasukkannya ke otak sama sekali, toh itu tidak penting. Kantin sepi, tak ada pelanggan sama sekali kecuali ibuk-ibuk dan kakak-kakak kantin. Ya bisa dibilang, aturan di sekolah kami cukup ketat, jadi jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan bisa mendapat sanksi yang berat. Tapi, bagiku dan Diana lain halnya, kami diberi banyak kebebasan sebagai perangkat kelas. Jadi, melanggar satu atau dua aturan bukanlah sebuah masalah besar. Tak akan ada sanksi yang kami dapatkan jika berani melanggar, sengaja atau tidak sengaja kah itu. Diana berjanji akan memesan menu spesial kantin padaku, aku mengangguk dan langsung mencari tempat duduk. Beberapa menit kemudian Diana ikut duduk di depanku, dia kembali mengoceh yang tidak jelas sampai pesanan kami datang. "Hana, Hana, jadi sekarang kita udah sahabatan ya? Gak kerasa ya, waktu cepat banget berlaku... eh bukan! Tapi hubungan kita yang jadi cepat dekat!" Diana tersenyum lebar, begitu menyenangkan melihat wajah cantik dan polosnya itu tersenyum. Aku tersentak sejenak setelah melihat Diana tersenyum, biasanya saat melihat dia tersenyum aku tidak seperti ini. Tapi entah kenapa saat ini aku malah terhanyut dengan novel-novel yang selama ini aku baca, tentang tokoh perempuan yang berwajah polos, berkarakter baik, dan sangat menawan, tapi semua itu hanya topeng, watak dia sebenarnya adalah iblis. Dia benar-benar persis seperti Diana saat ini, tapi aku menyingkirkan jauh-jauh dugaan bahwa apa yang dilakukan Diana selama ini hanyalah topeng, dia benar-benar berbeda 180 derajat dengan dia yang ada di depanku saat ini. Lagian, itu hanya cerita bukan? Sedangkan aku hidup di dunia nyata, tak mungkin hal yang ada di dalam cerita itu benar-benar ada dan nyata. Lupakan tentang itu, kini menu spesial kantin sudah ada di depanku, aku hanya tinggal melahapnya sampai habis lalu kembali ke kelas. Nasi goreng jumbo dengan ayam dan dua kerupuk sudah ada di hadapanku, di tambah satu es jeruk dengan gelas besar, hari ini aku benar-benar makan enak. Saat makan, Diana tak mengoceh sama sekali, dia juga tampak menikmati nasi goreng ini. Ya, jelas karena yang paling enak di antara semua makanan di kantin adalah nasi goreng, apalagi hari menu spesialnya adalah nasi goreng, kesempatan ini hanya datang sekali seumur hidup kami. Selesai makan, kami langsung ke kelas. Sejak lama memang sudah aku perhatikan, walau itu pun tidak sengaja, bahwa saat Diana lewat, 20 persen dari semua orang yang melihat nampak berbisik-bisik dengan mencuri-curi pandangan pada Diana. Aku sebenarnya cukup penasaran ada apa dengan Diana sebenarnya? Atau siapa Diana yang sebenarnya? Dan apalagi masalah Nadia dan Diana dulu, tanpa pernah aku tau, bahwa 80 persen semua orang di sekolah ini tau masalah Diana, kecuali aku dan 20 persen orang lainnya. Aku benar-benar tidak tau ada apa dengan mereka, aku pun tak enak bertanya, mana tau pertanyaanku akan membuatnya tersinggung. Tapi, satu hal yang membuat aku semakin penasaran, apa maksud Nadia menyuruh aku berhati-hati pada Diana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN