“Itu bukan anak gue.” “Haha...” Galvin tertawa hambar, menanggapi sikap dingin Giandra yang belum berubah. “Kenapa lo ketawa?” Lagi, suara itu begitu dingin terdengar di telinga Galvin. Oleh karenanya, Galvin kembali diam. Mendongak, menatap iris biru yang kini menatapnya tajam Galvin menghela udara. “Giandra, kamu bercanda, kan?” lirihnya. “Kalau kehamilan lo adalah sebuah lelucon, ya gue bercanda. Tapi kalau itu serius, then no. I am not joking.” “But what’s the problem? It’s your—“ “It’s not-my baby.” Giandra menyela, meraih tangan Galvin yang terarah pada pipinya. Galvin menggeleng, tak percaya pada tanggapan lelaki di depannya. “Why are you so mean?” “Galvin, gak ada buktinya kalau itu,” Giandra melirik perut Galvin, “adalah anak gue.” Iris cokelat gelap itu membelalak sempu

