Giandra mendudukkan dirinya di sofa. Ia memijit alisnya, mencoba mengurangi pusing yang menghantam kepalanya. Lelaki menghela udara panjang. Memejamkan mata, sesal kini menghantuinya. Sungguh, kejam sekali yang ia katakan pada Galvin. Menggugurkan kandungan? Entah itu benar-benar anaknya atau bukan, seharusnya mulut sialan Giandra tidak mengatakan hal keji itu. Ia pernah berada di dalam perut mamanya, dan dijaga habis-habisan oleh kedua orang tuanya. Namun, ia meminta Galvin untuk melenyapkan bayi itu? “f**k!” Giandra mengumpat, melemparkan bantal sofa ke sembarang arah. Ia ingin kembali ke dalam kamarnya, meminta maaf pada Galvin atas apa yang ia lakukan barusan. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Teringat keadaan sang ayah yang masih belum stabil, Giandra memilih bergeming. Tetap ber

