“Mbak! Mbak Galvin...” Rizky menepuk pelan pipi Galvin. “Mbak, bangun, Mbak...” Perlahan tapi pasti, rasa panik itu merembet ke hati Rizky. Mengusap kening Galvin yang berkeringat, Rizky kemudian menggendong wanita itu. “f**k. Kenapa gak kuat,” gumamnya, menyalahkan dirinya sndiri karena tadi menolak sarapan di rumah Naima. Butuh waktu sepuluh menit untuk Rizky membawa tubuh Galvin berbaring di sofa. Dalam hati, si pemuda bossy itu bangga karena untuk pertama kalinya bisa menggendong tubuh orang yang pingsan padahal ia belum sarapan. Helaan napas pun terdengar. Rizky membungkuk, mengamati raut pucat perempuan penyuka makanan Jepang itu. Galvin sungguh pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya, membuat Rizky yakin bahwa wanita itu kurang istirahat. Umpatan dan sumpah serapah untuk Giandra

