You have to Scream My Name Galvin mendongak, seiring dorongan kuat Giandra pada inti tubuhnya. Rasa nikmat yang sudah berkumpul di kepala, membuat Galvin tak henti melenguh. Sungguh, ini adalah penyembuh yang ia butuhkan. Bukan hanya untuk perutnya. Namun, untuk rasa bersalah atas keputusan yang telah ia ambil. Endorfin yang terus meningkatlah yang menjadi pemicu hal tersebut. Kecemasannya hilang, sakit perutnya melebur. Hanya ada rasa senang dan nyaman yang kini ia rasakan. Terlebih, saat lembut Giandra mengusap pipinya. “Hei, lihat gue,” ucap Giandra sambil masih mengusap pipi Galvin. Wanita di bawahnya itu menatapnya sayu. Seperti tidak berdaya lagi. Meskipun begitu, ada rasa puas tersirat dalam sayunya tatapan Galvin. Giandra membungkuk, menyatukan bibirnya pada bibir Galvin. D

