Jika dua hari lalu, Rizky tidur meringkuk di kursi belakang, malam ini Galvin yang menggantikan posisi lelaki itu. Masih memakai jaket tebal Rizky, wanita itu terlelap setelah minum obat tambah darah dan vitamin yang dibelikan R untuknya. Sesekali, pemuda sok care itu melirik Galvin dari spion di dalam mobil. Rasa khawatir itu masih ada. Malah, ia semakin khawatir saat mendapati iris wanita itu berlinang air mata. R kemudian tahu, Galvin tidak benar-benar tidur. Wanita putus asa itu menangis dalam diam. Tangan kurus yang tadi sempat menggamit lengannya saat menyeberang jalan itu, terlihat tak henti memegangi perut. R memelankan laju mobil, lalu menoleh pada Rizky yang sialan sekali malah mendengkur keras. “Hey,” R memanggil pelan, “gue tahu lo gak tidur. Perut lo sakit lagi?” tanyanya.

