Rizky mengetuk pintu rumahnya beberapa kali. Namun, tak ada jawaban. Sudah setengah jam lebih ia berdiri sambil terus memanggil nama Galvin. Lelaki itu mulai gelisah. Segala pikiran tentang Galvin kabur, mendadak mampir. Yang paling buruk, Giandra tahu keberadaan Galvin di rumahnya. “Ck! Kenapa tadi gue ngomong sama si bule coba?!” Rizky mengomeli dirinya sendiri karena tadi di outlet ia sempat berbicara dengan Giandra. Teman baiknya itu luar biasa terlihat baik-baik saja. Tidak ada semburat sedih, terluka, atau bahkan penyesalan—tidak sedikit pun tampak Giandra Sienaya merasa kehilangan. Malah, si bule tadi menyinggung perihal tawaran menjadi model di sebuah majalah mode Asia yang diberikan Stalker PH. Giandra juga tidak membahas apa pun perihal Galvin. Bahkan saat tadi Ben—entah senga

