Chapter 3 :
New Neighbor (3)
******
TIBA-TIBA terdengar sahutan dari dalam rumah. Suara itu awalnya agak pelan, tetapi terdengar semakin keras seiring dengan suara langkah kaki yang mendekat. Itu adalah suara wanita. “Yaa? Sebentar!”
Tak lama kemudian, pintu rumah itu pun terbuka. Memperlihatkan seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan yang berpakaian piama longgar. Rambut wanita itu berwarna hitam kecoklatan dan diikat satu di bagian bawah. Low ponytail. Wanita itu awalnya melihat Fae dengan mata yang melebar, tetapi dia langsung tersenyum ramah. “Ah, halo. Dari rumah sebelah, ya?”
Syukurlah, yang membuka pintu itu ternyata bukan si Jamur Oranye. Fae pun menghela napas lega, dia ikut tersenyum manis pada wanita itu dan mengulurkan tangannya (untuk berjabat tangan). Agaknya, wanita itu…merupakan ibunya si Jamur. “Iya, Bu, benar. Saya dari rumah sebelah. Salam kenal, Bu.”
Aduh, sebetulnya Fae tidak terbiasa dalam bersosialisasi seperti ini. Fae keseringan sibuk dengan dunianya sendiri di dalam kamarnya. Ini merupakan hal yang baru baginya, tetapi ternyata dia cukup bisa mengatasinya dengan baik.
Ibu itu langsung menyambut uluran tangan Fae dan mereka pun akhirnya berjabat tangan. “Salam kenal juga, ya!”
Oh. Ibu ini sangat ramah dan bersahabat. Sama seperti anakny—ekhem.
Tatkala jabatan tangan itu terlepas, Fae pun langsung menyodorkan sebuah piring berisi bolu coklat yang sudah dipotong-potong; piring berisi bolu itu sudah ditutupi dengan plastic wrap. “Ah, ini ada sedikit kue, Bu, untuk Ibu,” ujar Fae. “Semoga kita bisa bertetangga dengan baik, ya, Bu. Beritahu kami jika ada yang bisa kami bantu.”
Wanita itu pun kontan melebarkan mata. Dia terlihat kaget sekaligus senang dengan sambutan baik dari Fae. Dia pun menerima sepiring bolu itu seraya tertawa renyah. “Oh, ya Tuhan, seharusnya kami yang memberikan sesuatu kepada kalian! Astaga, terima kasih, ya!”
Fae tersenyum manis. “Sama-sama, Bu. Kalau beg—”
“Eh, ada Fae ternyata.”
Fae langsung terdiam.
Sial, dia ingat suara ini. Jangan bilang ini—
Mata Fae langsung mencari sumber suara. Tepat sekali. Di depan sana terlihatlah sosok jamur itu; dia tengah berjalan melintasi ruang tamu, mau menuju ke pintu depan. Kedua tangannya bersarang di dalam kantung celana jeans pendeknya yang berwarna hitam; pemuda itu memakai sweater bermotif garis-garis yang warnanya hitam dan putih. Sialnya…dia terlihat tampan meski hanya memakai baju yang simple seperti itu. Namun, saat melihat pemuda itu, Fae jelas langsung merasa tidak nyaman. Rasa kesal serta malunya menguar kembali ke udara; ia langsung ingin kabur dari rumah itu sekarang juga. Dia malas sekali berhadapan dengan pemuda itu. Kalau boleh dikata, sejujurnya ini luar biasa. Pemuda itu sudah membuat situasi di antara mereka jadi seperti ini, padahal mereka baru saja bertemu. Fae angkat tangan, deh.
“Lho, kalian sudah berbicara?” ujar wanita itu tatkala si Jamur hampir sampai di belakangnya.
“Iya, tadi sore,” jawab si Jamur.
Wanita itu pun langsung excited. “Wah, ini luar biasa. Ini pertanda baik! Pindah ke sini merupakan keputusan yang bagus.”
Saat si Jamur sudah berdiri di samping wanita itu, dia pun memiringkan kepalanya dan tersenyum manis pada Fae. “Halo, Fae. Semakin malam semakin cantik saja.”
Fae kontan memberikannya tatapan membunuh. Mulai lagi, anak ini.
Melihat tatapan Fae, kontan si Jamur langsung terkekeh seraya sedikit menunduk. Bisa-bisanya dia terlihat sangat tampan ketika melakukan itu. “Perkenalkan, Fae, ini Ibuku.”
Fae pun menatap wanita itu, lalu memberikan wanita itu sebuah anggukan pertanda mengerti seraya tersenyum simpul. Namun, karena Fae tidak mau terus-menerus berhadapan dengan si Jamur, Fae pun langsung berkata dengan terburu-buru, “Baiklah kalau begitu, Bu. Saya pulang dulu, ya, Bu. Mama saya menunggu di rumah. Senang bertemu denganmu, Bu.”
Wanita itu pun terkejut. Dia heran mengapa Fae terlihat terburu-buru, padahal anaknya baru sampai di sini. Bukankah Fae dan anaknya sudah berbicara tadi sore? Bukankah seharusnya mereka sudah tidak terlalu canggung?
Menyadari hal itu, wanita tersebut langsung buru-buru ingin menghentikan Fae. “Ah, tungg—”
Namun, dengan cerdiknya Fae langsung merunduk hormat dan tersenyum kelewat manis (seolah tidak mau berlama-lama ada di sana), lalu berbalik dengan cepat. Dia ingin lekas menjauhi si Jamur.
Namun, didengarnya si Jamur mulai tertawa renyah. “Fae, kok buru-buru, sih? Masuk dulu ke rumahku, yuk.”
Si s****n, padahal dia tahu mengapa Fae buru-buru pergi dari sana. Dia sadar dan dia berjemur santai di dalam kenyataan itu. Dia betul-betul memanfaatkan situasi ini untuk menjaili Fae lebih jauh.
“Salam untuk keluargamu, ya! Sampaikan terima kasihku, oke?!” teriak wanita itu—ibunya si Jamur—pada akhirnya. Fae pun hanya menjawab, “Iya, Bu!” seraya buru-buru berjalan ke arah pagar rumah itu. Tatkala sudah sampai di pagar, ia lantas membuka pagar itu, keluar, lalu menutup pagar itu kembali dengan mengebut.
Saat sudah berhasil mengeluarkan diri dari lokasi budi daya jamur oranye itu, Fae pun menghela napas lega.
******
Keesokan harinya, Fae duduk merenung di dalam kelas. Kelas itu berisik, soalnya semua orang sibuk menyalin PR Matematika yang akan dikumpulkan di jam pertama. Ada yang sampai kejar-kejaran karena merebutkan buku, ada yang sibuk meminjam pena atau tip-ex, ada yang sibuk bertanya tentang asal usul jawabannya karena takut ditanyai oleh guru Matematika, dan ada juga yang sibuk menulis jawabannya dengan kecepatan tinggi sampai-sampai muncul keringat sebesar biji jagung di pelipisnya. Namun, ada juga yang justru berisik karena sibuk bergosip tentang trend-trend terbaru yang sebetulnya tak bisa mereka ikuti sama sekali berhubung mereka tinggal di desa.
Di desa itu terdapat satu SMA. Muridnya tidak terlalu banyak, tetapi fasilitasnya cukup lengkap. Makanya, gedung SMA itu masih bertingkat meskipun tidak sebesar sekolah-sekolah yang ada di kota.
Berhubung Fae sudah menyelesaikan PR Matematikanya, Fae pun jadi memiliki waktu untuk merenung di kursinya. Dia duduk di urutan nomor tiga, barisannya berada di ujung kelas, dekat dinding. Dia mereka ulang kejadian sore kemarin hingga kepalanya dipenuhi dengan warna oranye. Semuanya serba oranye.
Ah. Sepertinya ada sirkuit yang rusak di kepalanya. Ini semua pasti terjadi akibat terlalu banyak mengonsumsi jamur beracun. Fae mungkin takkan menyentuh sesuatu yang berwarna oranye dulu untuk beberapa waktu, termasuk jeruk.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka. Semua murid langsung merapikan seluruh barang-barang mereka, lalu kocar-kacir menuju ke kursi mereka masing-masing. Ada yang bukunya terjatuh karena sibuk berlari dan menabrak orang lain, ada yang penanya jatuh, bahkan ada juga yang sibuk merapikan ikat pinggangnya.
Seiring dengan murid-murid di dalam kelas yang mulai duduk di kursinya masing-masing, dari depan kelas terlihatlah Pak Daniel—guru Matematika sekaligus wali kelas mereka—tengah melangkah ke depan papan tulis. Di belakang Pak Daniel ada seseorang, yaitu seorang pemuda dan saat ini pemuda itu tengah mengikuti Pak Daniel. Pemuda itu memakai seragam yang sama seperti mereka dan…
…rambutnya berwarna oranye.
Fae kontan terperanjat. Matanya membulat penuh. Tubuhnya tanpa sadar langsung menegang. Napasnya tertahan dan rasanya jantungnya mau copot.
Sebentar. Sebentar!
Itu… Itu bukannya si Jamur yang ada di sebelah rumah—
Setelah itu, seakan mengonfirmasi kecurigaan Fae, Pak Daniel dan pemuda itu pun mulai menghadap ke seluruh murid.
…dan benar. Itu adalah tetangga barunya Fae. Pemuda berambut oranye itu.
Mulut Fae kontan menganga.
Sementara itu, anak-anak di kelas mulai berbisik-bisik akibat merasa excited. Ada yang berdecak kagum. Ada juga yang melihat ke arah pemuda berambut oranye itu dengan mata yang berbinar. Semuanya merasa penasaran. Para murid yang laki-laki pun melihat ke depan dengan antusias sebab pemuda berambut oranye itu terlihat bersahabat.
Sebetulnya, ini tidak mengherankan, mengingat paras pemuda itu yang terlihat begitu tampan, ramah, lembut dan baik hati seperti malaikat, serta membawa seluruh cahaya bersamanya. Keberadaannya bagai dikelilingi oleh cahaya dan bunga-bunga dari surga. Dia pasti akan disenangi di mana pun dia berada.
Kalau saja orang-orang ini tahu bahwa pemuda itu memperhatikan tank top Fae kemarin—
“Perkenalkan dirimu, ya,” ucap Pak Daniel, sukses memotong isi pikiran Fae. “Nanti duduk saja di kursi kosong yang ada di sana.” Pak Daniel menunjuk sebuah kursi kosong di kelas yang jaraknya terpisah satu barisan dari Fae.
Fae pun langsung menatap pemuda berambut oranye itu. Pemuda itu mulai tersenyum, senyumannya terlihat begitu manis dan indah. Seisi kelas langsung heboh, terutama yang perempuan.
“Baik, terima kasih, Pak,” jawab pemuda itu. Pak Daniel pun tersenyum dan mengangguk.
Kini seisi kelas mulai diam. Mereka tahu bahwa ini adalah saatnya pemuda berambut oranye itu memperkenalkan dirinya. Mereka tak mau melewatkan momen ini.
“Hai. Perkenalkan, namaku Riel Orion. Panggil aku Riel, ya,” ujar pemuda berambut oranye itu dengan ramah.
Mendengar nama pemuda itu, Fae mendadak merasa seolah angin di sekitarnya berembus dan menerpa wajahnya dengan lembut. Selembut nyiur yang melambai di pantai, sedamai padang rumput yang luas, senyaman suasana saat kau tertidur di bawah pohon yang rindang.
Ah. Jadi, namanya adalah Riel.
Senyuman di wajah Riel belum memudar. Kedua mata pemuda itu melengkung seolah ikut tersenyum. Senyuman yang tulus itu sebetulnya sukses menembakkan panah asmara ke hati seluruh perempuan yang ada di kelas itu, kecuali Fae yang otaknya masih belum bisa mencerna seluruh kejadian ini sepenuhnya.
“Oh ya, aku bertetangga dengan Fae,” ujar Riel tiba-tiba. Pemuda itu menoleh kepada Fae, lalu memiringkan kepalanya. Menyaksikan semua itu, jantung Fae kontan terasa seolah berhenti berdegup. Mata Fae memelotot karena terkejut dan tubuhnya menegang, terutama tatkala seisi kelas spontan ikut melihat ke arahnya.
Sementara itu, dengan tanpa dosa, Riel pun tersenyum semakin manis. “Salam kenal, ya, untuk semuanya.” []