4. September Fall and You (1)

1302 Kata
Chapter 4 : September Fall and You (1) ****** SEPERTINYA, Fae butuh sesuatu yang lebih lebar daripada buku cetak. Kardus, misalnya. Siaaaaalll!!! Sejak Riel memperkenalkan dirinya di depan kelas—sekaligus memberitahu semua orang bahwa dia bertetangga dengan Fae—dan duduk di kursi yang ada di sebelah kanan Fae, pemuda itu terus saja memperhatikan Fae. Well, sebenarnya tempat duduk Riel tidak benar-benar ada di sebelah Fae; barisan kursi Fae dan barisan kursi Riel dipisahkan oleh satu barisan lainnya. Jadi, ada orang lain di tengah-tengah mereka. Kursi yang Riel duduki pun sedikit lebih di depan daripada kursi Fae. Namun, itu tidak menghentikan Riel sama sekali. Pemuda itu justru duduk menyamping, menghadap serong ke belakang, lalu ia menumpukan sikunya di meja. Kepalanya bersandar pada telapak tangannya dan ia memperhatikan Fae seraya tersenyum manis. Kedua matanya melengkung seolah-olah ikut tersenyum. Dia bahkan sesekali melambaikan tangannya kepada Fae! Sialaaaan! Fae malu sekali. Dia menggigit bibirnya; dia jadi gelisah bukan main. Dia hanya bisa menghalangi pandangan Riel dengan meletakkan satu buku cetak di samping kepalanya. Kakinya bergerak-gerak gelisah; ia meneguk ludahnya. Aduuuh, apa-apaan, sih, si Tukang Gombal itu? Menghadaplah ke depan sana, jangan ke aku!!! Ketika Fae sesekali mengintip—mencoba untuk melihat apakah Riel sudah menghadap ke depan atau belum—Fae justru mendapati Riel mengedipkan sebelah matanya pada Fae. Oh, ya Tuhaaaan!! Fae jadi menghadapi situasi itu di sepanjang jam pelajaran. s**l, tangannya jadi pegal karena terus-menerus menutupi salah satu sisi wajahnya dengan buku cetak. Keadaan itu terus bertahan sampai akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Fae langsung duduk bersandar di kursinya dan ia menghela napas lega. ****** Sifat ramah yang dimiliki oleh Riel Orion ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Sejak bel istirahat berbunyi hingga sekarang—sepuluh menit sudah berlalu—Fae masih duduk bersandar di kursinya. Namun, bedanya kini ia duduk sembari memperhatikan Riel yang sekarang sudah ada di depan sana; pemuda itu sedang duduk di pinggiran meja seraya mengobrol dan tertawa bersama teman-teman sekelas mereka. Sosoknya yang berambut oranye dan memakai kemeja berwarna putih itu terkena sinar matahari yang menembus jendela kelas, hal itu membuat sosoknya tampak begitu bercahaya. He looks so…breathtaking. Hampir semua anak-anak di kelas merasa sangat penasaran dengan Riel. Begitu Riel memperkenalkan dirinya di depan kelas beberapa jam yang lalu, banyak sekali anak-anak yang langsung kagum akan ketampanan wajahnya. Banyak juga yang langsung menanyakan ini itu, bahkan sampai menanyakan perihal Riel sudah punya pacar atau belum. Pemuda itu hanya menjawab, ‘Ah, aku belum punya pacar, setidaknya untuk saat ini. Namun, sebentar lagi aku akan punya pacar.’ …dan jawaban itu langsung membuat seisi kelas heboh, padahal Riel adalah orang yang baru saja mereka kenal. Selain parasnya yang tampan, sifat ramahnya Riel itu juga sangat disenangi oleh seisi kelas. Dia supel, baik, dan enak kalau diajak ngobrol. Dia cukup humoris dan gampang tertawa. Wajah tampannya, tawa lepasnya, senyum manisnya, kesederhanaannya, semua daya tarik itu sukses membuatnya langsung dikerumuni oleh banyak orang. Bagai sebongkah gula yang langsung mampu menarik ribuan semut. He’s a social butterfly. Sebenarnya, kalau bukan karena sifat penggoda yang melekat pada pemuda itu (plus insiden tank top kemarin), Fae juga akan sangat kagum padanya. Fae hanyalah manusia biasa yang pasti akan tertarik dengan apa pun yang bersinar terang seperti Riel. Pemuda itu bersinar; ia tampak dekat, tetapi entah mengapa juga terasa jauh. Namun, ciri-ciri seperti inilah yang biasanya digemari oleh banyak orang, terutama perempuan. Biasanya, kau akan mengagumi dan menginginkan sesuatu yang tak mampu kau gapai. Yah, biarlah. Riel pasti akan menjadi populer dalam waktu yang sangat singkat. Fae menghela napas. Ia lalu mengalihkan pandangannya dari Riel dan mulai bergerak. Ia bangkit dari duduknya dan langsung berjalan ke pintu kelas, berencana untuk pergi ke kantin. Mengingat jam istirahat mereka tidaklah lama dan ia belum makan siang, ia tak bisa terus-menerus memandangi Riel. Tatkala Fae sudah keluar dari kelas, gadis itu pun berjalan di koridor seraya berpikir. Makan apa, ya, hari ini? Di kantin lauknya apa saja, ya? Sepertinya, Fae harus beli s**u stroberi juga. Eh, sebentar. Enggak usah, deh. Stroberi mengingatkannya dengan tank top berwarna pink. s**l. “Fae!!” Kontan saja Fae membulatkan mata. Wajahnya menegang; langkahnya terhenti. Tubuhnya mematung di tengah-tengah koridor. Fae kenal suara ini. Setidaknya sejak kemarin. Orang yang memanggilnya itu terdengar sedang berlari kecil di belakang sana demi menghampirinya. Langkah kaki orang itu terdengar semakin mendekat…hingga akhirnya Fae merasa bahunya ditepuk dengan pelan. “Hai, Fae,” sapa orang itu. Sepertinya, orang itu kini sudah benar-benar berdiri di samping Fae. “Mau ke kantin, ya?” Fae kontan menoleh ke kanan dan ia menemukan Riel di sana, sesuai dugaannya. Riel tengah memiringkan kepalanya seraya memamerkan senyum manisnya. Sial. Wajah tampan Riel membuat pipi Fae nyaris saja merona, tetapi Fae ingat bahwa dia sedang kesal dengan si Jamur ini dan dia juga sedang berusaha untuk menghindarinya mati-matian. Jujur saja Fae masih malu dengan kejadian tank top kemarin. Akhirnya, Fae mendengkus. “Iya. Buat apa kau ke sini?!” Riel langsung memasang ekspresi wajah yang tak berdosa; pemuda itu membulatkan matanya lucu dan menjawab, “Tidak ada. Hanya ingin pergi ke kantin bersamamu.” Fae tersentak. Buat apa mereka ke kantin bersama-sama?! Nanti orang-orang kembali memberikannya tatapan aneh, sama seperti tadi pagi ketika Riel mengumumkan—kepada semua orang di kelas—bahwa mereka berdua tetanggaan. Fae sejak awal memang tidak memiliki teman sehingga perhatian yang berlebihan seperti itu tentu akan membebaninya. Fae berdecak, ia langsung melepaskan dirinya dari Riel dan berencana untuk berjalan kembali. “Tidak mau. Aku mau ke kantin sendirian.” “Ett—ett ett ett, sebentar, dong,” ujar Riel, pemuda itu langsung menarik lengan Fae agar Fae kembali berada di sampingnya. Hal ini membuat Fae kontan menatap Riel seraya membulatkan matanya; gadis itu jadi keheranan setengah mati. Riel lalu melanjutkan, “Perginya sama-sama, dong, Cantik. Punya tetangga kok galak banget, sih.” Jelas saja Fae jadi kesal bukan main. Gadis itu menggeram. “Aku tidak ada kewajiban untuk tidak galak dengan tetangga, terutama kalau tetangganya menyebalkan sepertimu!” Riel memajukan bibirnya sejenak, ia tampak berpikir. “Oh ya? Padahal biasanya tetanggalah yang nantinya akan banyak membantumu. Membantu mengambilkan jemuran pakaian dalammu, misalny—” Mata Fae kontan terbelalak, mulutnya menganga, dan ia serta-merta menutup mulut Riel dengan kedua tangannya. Merasa panik bukan kepalang, Fae pun langsung meneriaki Riel. “RIEL!!! KAU—” Namun, saat Fae menutup mulut Riel dengan kedua tangannya, telapak tangannya malah dijilat oleh Riel. Fae kontan terlonjak, jantungnya terasa seolah nyaris lepas dari tempatnya dan langsung mencelus ke perut. “AP—” “Hmm. Manis,” komentar Riel seraya m******t bibirnya. Ia tersenyum miring. “Harusnya tadi tutupnya pakai bibir saja.” Pipi Fae langsung memerah sempurna. Ia kini terlihat seperti kepiting rebus, telinganya memanas. Darahnya seakan mendidih hingga kepalanya berasap. Refleks ia langsung berteriak, “DASAR m***m!!!!” Namun, anehnya Riel justru tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak; tawanya tampak begitu lepas. Meskipun pipi Fae masih merona, meskipun jantung Fae masih terasa seakan berhenti berdetak, meskipun Fae masih panik bukan kepalang, ujung-ujungnya tanpa sadar Fae kembali mengagumi sosok Riel. Saat tertawa lepas seperti itu, Riel…tampak seperti malaikat tanpa sayap. Ia tampak seperti makhluk yang benar-benar turun dari surga dan tak memiliki dosa. Padahal, aslinya dia m***m minta ampun. Setelah puas tertawa, Riel akhirnya kembali menatap Fae. Dia tersenyum sangat manis, lalu kakinya mulai melangkah mendekati Fae. Saat Riel mendekat padanya, entah mengapa Fae seakan tak mampu bergerak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya enggan melarikan diri dari Riel. Ada sesuatu di dalam dirinya yang memerintahkannya untuk tetap diam di tempat dan menunggu Riel. Dia tak tahu apakah itu perwujudan dari keinginannya sendiri atau hanya imajinasinya belaka. Ketika Riel sampai tepat di hadapannya, pemuda itu mulai meraih sebelah tangan Fae dan menggenggamnya dengan lembut. Pemuda itu masih tersenyum kepada Fae. Setelah itu, suara pemuda itu pun kembali terdengar. “Ke kantinnya sama-sama, ya?” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN