Chapter 5 :
September Fall and You (2)
******
FAE, yang tadinya sibuk memperhatikan tangannya yang sedang digenggam oleh Riel, kini perlahan mengangkat kepalanya dan melihat tepat ke wajah Riel yang begitu memesona. Kedua bola mata berwarna coklat milik pemuda itu tampak begitu jernih. Binarnya begitu indah dan mengagumkan. Wajahnya begitu mulus, kulitnya juga tampak lembut dan bercahaya. Rambut berwarna oranye miliknya terlihat begitu halus dan bervolume. Fluffy. Apabila kau menyisir rambut Riel dengan jemarimu, itu pasti akan terasa sangat…menakjubkan.
Nyaman.
Fae terpukau. Ia mendadak lupa dengan situasi yang sedang ia hadapi; ia seharusnya mengatakan ‘tidak’, tetapi ia justru diam saja. Pikirannya lari ke mana-mana. Hal itu membuat Riel akhirnya terkekeh. Tak membuang waktu, ia langsung membawa Fae bersamanya. Menggandeng Fae, berjalan berdampingan dengan Fae ke kantin.
“Tunjukkan jalannya, ya, Fae. Aku anak baru di sekolah ini, jadi aku belum tahu di mana letak kantinnya,” ujar Riel seraya tersenyum.
Mendengar ucapan Riel, spontan Fae tersadar kembali. Ia yang masih berjalan bergandengan dengan Riel itu kini langsung menggelengkan kepalanya; ia menjemput kesadarannya kembali dan langsung beradaptasi dengan situasi yang sedang ia hadapi. Ia pun menarik tangannya dari genggaman Riel dengan sekuat tenaga.
“Lepaskan tanganku! Apa yang kau lakukan?!” teriak Fae dengan kesal. Akan tetapi, semakin ia menarik tangannya, semakin pula Riel mengeratkan genggamannya.
Riel tertawa renyah. Pemuda itu masih melihat ke depan, tidak melihat ke arah Fae yang sedang memberontak itu sama sekali. Riel lalu menjawab, “Sudah, tunjukkan saja jalannya. Jangan dilepaskan.”
Fae menganga. “Kau gila?! Apa yang akan murid-murid lain katakan nantinya?!!”
Riel mengedikkan bahunya tak peduli. “Mereka sudah tahu kok kalau kita bertetangga.”
“Mana ada tetangga yang berpegangan tangan!” protes Fae.
“Ada, kalau tetangganya saling cinta,” jawab Riel, dia menoleh kepada Fae dan tersenyum manis.
HAH? Saling cinta apanyaaa?!!!
Fae kembali menganga, ia menggeleng tak habis pikir meskipun wajahnya merona.
Namun, berusaha untuk tetap fokus, Fae pun berdecak dan kembali menarik tangannya. “Sudahlah, lepaskan aku!”
Riel menghela napas. Pemuda itu menghadap ke depan, tetapi kali ini ekspresi wajahnya tampak sangat kecewa. Ia kelihatan bad mood. “Ya ampun, Fae. Kau ini cantik, tapi sayang…”
Fae spontan menyatukan alisnya. “Sayang kenapa?!”
“Sayangnya, kau galak sekali dengan calon pacarmu sendiri,” jawab Riel sembari tersenyum lebar. Ia mengedipkan sebelah matanya kepada Fae.
Jelas saja Fae langsung merona bukan main. Mulutnya terbuka lebar begitu pula matanya. Jantungnya langsung berdegup kencang. Bunyinya bertalu-talu. Napasnya tertahan.
Apa-apaan?! Siaaaaal! Dia sedang dipermainkan!
“Kau ini raja gombal atau bagaimana?!! Apa kau selalu menggombali setiap perempuan yang kau temui?!” tanya Fae, suaranya masih tinggi. “Lama-lama perutku mual mendengar gombalanmu!”
“Tidak juga. Aku hanya menggombali tetanggaku,” jawab Riel. “Soalnya selimut tetangga memang selalu lebih hangat.”
Fae memutar bola matanya. “Jadi, kalau tetanggamu itu bapak-bapak tua, kau mau menggombalinya juga?”
Riel tertawa kencang. “Maksudku tetanggaku yang sekarang. Lagi pula, belalaiku tidak suka beradu dengan sesama belalai. Keras soalnya. Tidak enak.”
Fae kembali merona dan dia langsung menepuk pundak Riel dengan sangat kencang. “DASAR JAMUR ORANYE m***m! APA YANG SEDANG KAU BICARAKAN?!!”
“Wah, ternyata kau menjulukiku Jamur Oranye, ya? Menarik,” Riel melihat ke sampingnya—ke arah Fae—dan tersenyum miring. “tetapi biar jamur begini, kau tertarik juga, ‘kan? Soalnya, tadi di kelas kau sempat memperhatikanku.”
Astaga, mampus! Ketahuan!! Sompreeeet!
Pipi Fae tambah merona. Rasanya pipinya itu sampai terasa panas. Dia langsung mengalihkan pandangannya, lalu memejamkan matanya kuat-kuat. Dia melipat bibirnya. Matilah dia!
Sementara itu, Riel terkekeh. Pemuda itu lantas kembali menghadap ke depan dan bernapas dengan lega. Seakan seluruh bebannya hilang begitu saja. Ia tampak rileks.
Namun, tiba-tiba Riel teringat sesuatu. Ia lantas kembali bertanya kepada Fae, “Oh, ya, Fae. Rumahmu itu terbuat dari kayu, ‘kan?”
Fae, yang tadinya tak mau melihat Riel karena malu, kini spontan menoleh kepada Riel karena mendengar Riel menanyakan soal rumahnya. Fae mengernyitkan dahi. “I—iya. Memangnya kenapa?”
Riel mengangguk-angguk. “Kamar mandinya ada di setiap kamar atau hanya ada satu?”
Fae semakin mengernyitkan dahinya. “Ada satu di dekat dapur. Memangnya ada apa, sih?!”
Riel tersenyum. “Tidak ada. Rencananya aku mau mengintipmu mandi nanti sore.”
WHAT THE HECK?!!
Kontan saja pipi Fae jadi memerah sempurna bak kepiting rebus, lalu ia menarik tangannya dengan sekuat tenaga agar terlepas dari genggaman Riel. Ia langsung berteriak dengan kencang, “KAU!!! AKU AKAN MEMBUNUHMU JIKA KAU BENAR-BENAR MELAKUKANNYA!!!!”
…lalu Fae berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan Riel yang tertawa terbahak-bahak di koridor itu.
******
Sepulang sekolah, Fae berjalan berdua dengan Riel. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Riel langsung menyusul Fae dan berjalan di samping gadis itu, mengajaknya untuk pulang bersama. Awalnya Fae menolak, mengingat betapa banyaknya Riel sudah menggombalinya dan membuatnya malu dalam dua hari belakangan. Pemuda itu berhasil membuat pipi Fae merona berkali-kali hanya karena berbicara dengannya. Antara malu, kesal, dan terpesona. Hal itu membuat Fae jadi malas dekat-dekat dengannya; Fae takut salah tingkah lagi. Mengontrol emosi serta ekspresinya mendadak jadi hal yang paling sulit untuk dilakukan tatkala Riel adalah lawan bicaranya.
Akan tetapi, menolak tukang gombal seperti Riel bukanlah perkara yang mudah. Ada saja hal yang dia ucapkan yang sukses membuat Fae jadi lupa tujuan awal gadis itu, yaitu menolaknya. Riel seakan bisa memanipulasi seluruh kata-katanya dengan berbagai cara agar Fae jadi lupa menolaknya dan akhirnya malah melakukan apa yang pemuda itu inginkan.
Yah, Fae juga tak memperdebatkan soal ‘pulang bersama’ itu lebih jauh. Lagi pula, rumah mereka bersebelahan; mereka searah. Tidak ada salahnya juga pulang bersama-sama. Hanya saja, mungkin Fae harus menahan kegelisahan serta rasa malunya saat banyak murid yang memperhatikan mereka pulang berdua. Riel langsung terkenal di hari pertama ia masuk sekolah; pemuda itu langsung menjadi idola. Ini wajar saja mengingat SMA mereka berada di desa dan gedungnya juga tidak terlalu ‘wah’ seperti sekolah yang ada di kota-kota. Hanya ada satu SMA di desa mereka, jadi muridnya juga tidak banyak. Paling-paling isinya adalah orang-orang dari desa ini dan juga dari desa-desa sebelah. Namun, gedung SMA itu sebenarnya bisa dibilang cukup besar dan masih bertingkat meskipun tidak sebesar sekolah-sekolah yang ada di kota.
Jadi, di sinilah Fae, berjalan berdua—berdampingan—dengan Riel. Di bawah langit sore serta cuaca yang berangin itu, mereka berdua berjalan kaki bersama-sama menyusuri jalan aspal yang agak kecil. Suasana sore itu terasa begitu damai, begitu indah, dan begitu menyejukkan. Fae meremas tali tas ranselnya, gadis itu berjalan seraya menunduk. Memperhatikan kerikil serta rumput-rumput kecil yang tumbuh di pinggir jalan beraspal itu.
Perlahan-lahan Fae menoleh ke kanan, lalu sedikit mendongak. Ia menatap wajah Riel; pemuda itu lebih tinggi darinya sekitar 20 cm. Tatkala menatap Riel, Fae sedikit melebarkan matanya.
Angin yang berembus sore itu menerbangkan beberapa helai rambut Riel. Rambutnya terlihat bergoyang tatkala terkena embusan angin, sesekali tiupan angin itu sukses memperlihatkan sedikit bagian keningnya yang tertutupi oleh poni. Rambutnya tampak begitu lembut, begitu indah, dan begitu cocok untuk dirinya. Meskipun awalnya Fae merasa aneh dengan warna oranye itu—karena menganggap bahwa Riel mau ikut-ikutan idol K-Pop—kini Fae justru jadi…terpana saat melihatnya. Wajah Riel yang tampan dan mulus, rambut oranye miliknya yang tertiup angin sepoi-sepoi, senyum tipisnya tatkala menatap ke depan, bola mata coklatnya yang jernih dan sesekali berkedip dengan perlahan, kemeja putihnya yang semakin membuatnya tampak bersinar di bawah langit sore…
Dia seolah tidak nyata.
Fae menatap Riel dengan takjub, tatapannya seakan mengatakan, ‘Ah…ternyata…ada manusia yang…seindah ini…’
Fae mengedipkan matanya dengan sangat…perlahan. Memperhatikan sosok Riel yang ada di sampingnya itu sembari berjalan.
Mengapa Fae tiba-tiba mendapatkan tetangga seperti Riel dan mereka jadi…sering berinteraksi seperti ini?
Mengapa…Riel bersikap seperti ini padanya, padahal mereka baru mengenal satu sama lain?
Ah, tidak. Mungkin ini karena Riel orangnya memang supel. Fae bukan kasus spesial.
“Fae, kita pergi ke pohon favoritku, yuk.” []