6. September Fall and You (3)

1370 Kata
Chapter 6 : September Fall and You (3) ****** FAE mengerjap. Ia menatap Riel—yang tiba-tiba mengatakan itu—lalu pemuda tersebut menoleh ke arahnya dan tersenyum. Fae, yang tadinya sedang memperhatikan Riel, kontan jadi agak panik. Astaga, dia ketahuan sedang memperhatikan Riel, dong? Namun, mencoba untuk mengesampingkan kepanikannya, Fae pun mulai mengernyitkan dahi. “Pohon…favoritmu?” “Mm-hmm.” Riel berdeham seraya mengangguk mengiyakan. Pemuda itu masih tersenyum. “Yuk.” Fae jadi semakin bingung. Pohon favorit? Di dekat sinikah? Lho, tunggu dulu. Bukannya Riel baru pindah ke sini? Tidak membuang waktu, Riel pun langsung menggenggam tangan Fae dan mengajaknya untuk berjalan lebih cepat. Gerakan Riel yang menggenggam tangannya itu sukses membuat Fae lagi-lagi kaget, gadis itu langsung menatap bahu Riel yang sedang berjalan di depannya, membelakanginya. Namun, meskipun dari belakang, Fae bisa melihat pemuda itu yang kini tengah tersenyum dengan antusias. Dia terlihat…bersemangat. Tak lama kemudian, mereka berbelok dan melewati sebuah jembatan kayu kecil. Riel tetap menuntun Fae tatkala melewati jembatan kayu itu. Setelah melewati jembatan itu, sampailah mereka di sebuah lahan yang lumayan luas, yang di tengah-tengahnya tumbuh sebuah pohon ginkgo besar. Ini adalah satu-satunya pohon ginkgo yang ada di desa ini. Pohon itu besar. Batangnya cukup tinggi dan jangkauan ranting serta daun-daunnya bisa dibilang sangat luas. Kau bisa mengajak keluargamu berpiknik di bawahnya karena jangkauan rantingnya yang luas seperti pohon lindung. Berhubung sekarang adalah bulan September dan di Korea Selatan sedang musim gugur, seluruh daun yang tumbuh di pohon ginkgo itu jadi berwarna oranye. Persis…seperti warna rambut Riel… Fae mendongak, matanya memandangi seluruh bagian dari pohon itu, lalu ke sekeliling lahan yang ada di sana. Daun-daun dari pohon ginkgo itu berjatuhan hingga menutupi tanah. Angin sore kala itu berembus di sekitar ranting pohon; angin itu menggoyangkan ranting-ranting pohon itu beserta daun-daunnya. Hal tersebut membuat pohon itu jadi terlihat semakin indah. Semakin menyejukkan hati. Semakin damai dan menenangkan… Fae tahu pohon ini, tetapi dia jarang ke sini. Waktu kecil dahulu, sepertinya dia pernah main ke sini, tetapi seiring bertambahnya usianya, dia jadi jarang main ke luar rumah. Riel lantas mengajak Fae untuk semakin mendekat ke pohon itu sembari masih bergandengan tangan. Riel berjalan di depan Fae, jadi gadis itu hanya bisa memandangi punggung Riel dari belakang. Kemeja putih Riel tampak bergerak pelan karena tertiup angin. Setelah mereka berdiri di depan pohon tersebut—hanya berjarak sekitar enam langkah dari batang pohonnya—Riel pun melepaskan tangan Fae. Pemuda itu kembali melangkah maju sekitar dua langkah, lalu berhenti. Riel berdiri di sana seraya mendongak. Pemuda itu memandangi seluruh daun dan ranting pohon itu yang melambai dengan indahnya karena tertiup angin sore. Ia tersenyum manis, lalu memejamkan matanya. Ia menikmati suasana di bawah pohon itu, bunyi daun-daunnya yang saling bergesekan, serta angin sepoi-sepoinya…dengan sepenuh hati. Fae memandangi Riel dari belakang dan gadis itu terdiam di tempat dengan mata yang melebar. Mulutnya sedikit terbuka. Napasnya seolah tertahan dan matanya enggan berkedip. Ia enggan memalingkan wajah. Enggan memalingkan pandangan. Enggan waktu berlalu begitu saja. Enggan kehilangan momen itu; tak ingin ketinggalan terlalu banyak apabila ia memejamkan matanya untuk berkedip sejenak. Angin berembus dengan sedikit kencang—menerpa wajahnya—dan mendadak ia sadar, …bahwa ia benar-benar terpukau dengan sosok Riel yang sedang berdiri di depan sana. Riel yang sedang melihat ke atas, Riel yang memejamkan matanya seraya tersenyum manis, rambut oranye Riel yang tertiup angin, kulit Riel yang lembut dan bercahaya, kemeja putih Riel, semuanya… …tampak begitu indah… Keindahan itu seakan bertambah ratusan kali lipat tatkala Riel berdiri di bawah pohon ginkgo itu. Pohon yang saat ini daun-daunnya berwarna sama persis dengan rambut Riel. Riel dan pohon ginkgo di musim gugur… …tampak seperti lukisan yang begitu indah. Mereka bagaikan satu kesatuan yang terlampau elok untuk dilewatkan. Riel seakan telah menjadi satu bagian dengan pohon itu. Seolah ia adalah jiwa yang menunggu di pohon itu… Pohon itu seolah merupakan representasi dirinya. Miliknya. Fae memperhatikan Riel untuk waktu yang cukup lama. Tatapannya tanpa sadar jadi lembut tatkala ia memandangi Riel. Terdiam, takjub…seolah seluruh energinya ia pusatkan hanya untuk mengagumi sosok Riel yang sedang berdiri di depan sana. Beberapa saat kemudian, akhirnya Fae teringat sesuatu. Ia masih heran mengapa Riel menyebut pohon ini sebagai ‘pohon favoritnya’, sementara Riel baru saja datang ke desa ini. Akhirnya, Fae mulai memberanikan dirinya untuk bertanya. “Ri…el?” panggil Fae pelan, berusaha semaksimal mungkin agar suaranya tidak terdengar serak sebab sejak tadi ia hanya diam dan mengagumi Riel dari belakang. “Apakah kau…pernah ke sini? Karena…kau bilang ini adalah pohon favoritmu…” Perlahan-lahan Riel membuka matanya. Pemuda itu mulai menurunkan pandangannya, lalu dengan pelan ia menoleh ke belakang. Ke arah Fae. Riel kemudian memberikan Fae seulas senyuman. Senyuman yang tipis, tetapi entah mengapa terlihat sangat indah di bawah pohon ginkgo yang daunnya tengah berjatuhan itu. Namun, meski Fae sedang menunggu jawaban dari Riel, ternyata Riel tidak menjawab apa-apa. Pemuda itu hanya tersenyum, lalu kembali melihat ke atas. Memandangi pohon itu dengan kedua bola matanya yang jernih. Memandangi pohon itu dengan penuh… …kerinduan. ****** Sesampainya di rumah, Fae langsung mencari mamanya. Ia meletakkan sepatunya di rak sepatu (yang ada di dekat pintu), lalu masuk ke rumah dan menoleh ke kanan dan ke kiri tatkala melewati ruang tamu. Biasanya, jam segini mamanya sudah pulang kerja. Tatkala berjalan semakin dalam—hingga ke belakang—akhirnya Fae menemukan mamanya yang sedang memotong-motong wortel di dapur. Tanpa berpikir dua kali, Fae langsung mendekati mamanya. Alis Fae menyatu; ekspresi wajahnya penuh dengan rasa ingin tahu. Mendengar ada langkah kaki yang sedang mendekatinya dengan cepat, mamanya Fae lantas menoleh ke samping dan ia menemukan Fae di sana. “Ah, Fae. Sudah pulang?” Begitu sampai di dekat mamanya, Fae langsung mengangguk dan menjawab, “Iya, Ma. Err—Ma, ada yang mau kutanyakan.” Fae sedikit menggigit bagian dalam bibirnya. Ekspresi wajahnya terlihat tak sabar; ia begitu penasaran. Ia juga terlihat sedikit bingung. “Hm?” Mamanya menoleh sejenak, agak mengangkat kedua alisnya, lalu kembali menunduk dan memotong-motong wortelnya. “Mau tanya apa?” “Umm…begini, Ma. Tetangga sebelah kita itu, kan, punya anak laki-laki. Dia memang seumuran denganku. Kemarin sore aku sudah bertemu dengannya, sewaktu aku mengangkat jemuran pakaian, lalu aku bertemu dengannya lagi hari ini di sekolah karena dia jadi anak baru di kelasku.” Mamanya Fae lantas kembali menoleh kepada Fae dan melebarkan matanya. “Oooh, begitukah? Wah, cepat sekali, ya. Terus bagaimana?” Fae mengangguk. “Tadi…kami pulang bersama-sama dan—” “Tunggu. Kau pulang bersamanya?” Mama Fae kontan menganga. Akan tetapi, dua detik kemudian wanita paruh baya itu mulai tersenyum dan menaikturunkan alisnya dengan jail. “Waduh, sudah mulai dekat saja, nih.” Mata Fae kontan membeliak. “Astaga, Mama nih!” teriak Fae jengkel. Ia mengentakkan kakinya ke lantai dengan kesal dan pipinya langsung merona. “Dengarkan aku dulu, Maaaa!” Mama Fae spontan tertawa kencang. “Iya, deh, iyaaa. Mama dengarkan. Jadi, bagaimana?” Akhirnya, meskipun agak merajuk karena baru saja digoda oleh mamanya, Fae pun kembali berbicara, “Umm… Dia itu…namanya Riel. Jadi, tadi Riel itu mengajakku ke pohon ginkgo yang tak jauh dari rumah kita itu, Ma, yang tumbuh di lahan yang luas itu.” Mamanya Fae mengangguk. “Hm, lalu?” Fae melipat bibirnya sejenak, mengerutkan dahinya (agak berpikir), kemudian melanjutkan, “…lalu dia bilang kalau pohon itu adalah pohon favoritnya. Sebenarnya, awalnya dia hanya mengajakku untuk pergi ke ‘pohon favoritnya’ dan ternyata dia membawaku ke pohon ginkgo itu. Aku agak heran saja, mengapa dia menyebut pohon itu sebagai pohon favoritnya? Dia, kan, baru pindah ke desa ini kemarin. Apa dia pernah datang ke sini?” Mamanya Fae lantas mengernyitkan dahi. Membuat Fae jadi yakin bahwa sepertinya mamanya memiliki rasa bingung yang sama. Sepertinya, mereka memikirkan hal yang sama. Mereka tidak mengerti. Akan tetapi, tanpa disangka-sangka…ternyata dugaan Fae salah total. Mamanya Fae memang merasa kebingungan, tetapi agaknya…bukan bingung karena Riel. Wanita paruh baya itu memiringkan kepalanya ke sisi, menatap Fae seakan-akan Faelah yang aneh. Seakan-akan ada sebuah kejanggalan di dalam diri Fae. Sekarang, Fae juga jadi mengernyitkan dahinya. Mengapa mamanya menatapnya seperti itu? Setelah itu, mamanya Fae pun lantas menjawab pertanyaan Fae. Wanita paruh baya itu kini benar-benar menghadap ke arah Fae. “Lho, Fae, kau tak ingat, ya? Riel itu dulu memang pernah jadi tetangga kita.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN