Bab 5. Terangsang

1529 Kata
Sesampainya di hotel, Melya yang merasa sudah lelah langsung menggelayut manja pada suaminya. Dia bahkan tidak memedulikan tubuh Pangeran yang membeku sebentar dan juga kikikan dari orang di belakangnya. “Maaf, ya, Bu, Ayah, Mbak Sher kalau lihat aku seperti ini. Soalnya, ini adalah penerbangan pertamaku jauh dari tanah air,” akunya jujur. Pangeran sendiri kini tengah mengepalkan kedua tangan dalam saku celana. Wanita di sampingnya ini benar-benar membuat dia ingin sekali mendorong Melya dari lantai 15 tempat mereka kini tengah singgahi. “Beb, aku haus,” ucap Melya dengan suara manja. “Iya, sebentar lagi kita sampai,” balas Pangeran menahan diri untuk tidak menyembur Melya. “Bun, apa kalian juga akan menginap di kamar kami juga?” tanyanya to the point. “Emang boleh?” “Bunda!” Kali ini Raja langsung membungkam mulut Ratu agar tidak meledek si pengantin baru. “Kami ada di samping kamar kalian, Ran. Jadi, kalian bisa leluasa jika ingin melakukan skidikidap tanpa gangguan kami.” Pangeran hampir menjatuhkan rahang ketika melihat seringai Raja yang seolah tengah menggodanya. See! Sifat keluarganya memang begitu tidak bisa ditebak. Jika sudah begini maka yang harus dilakukan oleh si anak hanya diam dan berjalan lurus mencari di mana kamarnya berada. “Bisa lepasin gak?” tanyanya lirih. “Gak bisa, Beb. Mata aku kayaknya ada lemnya, deh. Masa gak bisa melek,” ucap Melya yang tetap bergelayut manja. “Kayaknya menantu kita mengalami jet-lag, deh. Kalau begitu kalian bisa beristirahat sejenak di kamar kalian. Nanti malam kita tunggu di bawah buat makan malam. Ok!” Ratu mengerling kepada anaknya yang kini hanya merotasikan kedua bola matanya malas. “Ingat, Dek! Jangan langsung gas! Kasihan itu si Melmel masih jetlag!” nasihat Sherina sambil terkikik. “Yang ada aku bakalan buang ini orang ke laut lepas biar dimakan sama hiu!” Namun, semua itu hanya bisa terucap dalam hati karena realitanya dia harus tetap bersikap manis dan gentle untuk membuat keluarganya percaya akan pernikahan mereka. “Oh, iya. Ini koper kalian berdua. Sengaja kami membelikan baju baru buat kalian. Semoga suka!” bisik Sherina di telinga Pangeran. “Apaan, sih. Gak jelas banget, deh!” Pangeran lalu menarik kopernya dan juga koper milik Melya menuju kamar mereka. Akan tetapi, hal selanjutnya justru membuat pria itu mengumpat kasar hingga wanita yang sedari tadi bergelayut manja pada lengannya terbangun. “Iih, kok ber- wah … apa ini?" Mata wanita itu seketika terbuka lebar. "Kyaaaa! Cantik sekali!” Kini, kaki wanita itu langsung berlari menuju ranjang di mana banyak kelopak bunga mawar merah di atasnya, serta dua buah handuk yang dibentuk seperti angsa yang sedang saling berciuman, dan juga lilin-lilin kecil semakin membuat ruangan mereka semakin terlihat begitu romantis. “Pangpang, ini beneran kamar kita? Kamu sengaja nyiapin ini buat kita?” tanya Melya yang tidak bisa menutupi rasa senang dan harunya. Secara selama ini yang dia lakukan adalah memberi dan memberi, jarang sekali dan bahkan tidak pernah sama sekali ia mendapatkan hal menakjubkan dari pasangan ranjangnya. “Uluh, gue gak tau kalau Tuan Pangpang bisa seromantis ini. Thanks!” ujarnya sambil memonyongkan bibirnya ke arah pria itu. Akan tetapi, Pangeran langsung mendengkus. “Cih! Gak usah percaya diri! Ini pasti kerjaan bunda dan juga mbak Sher. Jadi, lo gak usah berharap gue bakalan ngasih hal-hal beginian buat elo,” ucap Pangeran ketus, bahkan sedikit kasar. Apa Melya peduli? Tidak. “Bodo amat, deh. Mau dari elo, kek. Dari Bunda, kek. Yang penting gue makasih banget buat kalian karena udah ngizinin gu– Wah, apa ini dari merk victiria secret?" Lagi-lagi mulut Senja tidak bisa menahan diri untuk tidak berdecak kagum akan persiapan yang dilakukan oleh keluarga suami barunya. "Tuan Pangpang ini dari siapa? Lo atau bunda?” Melya berteriak girang saat dirinya hendak berganti baju, tetapi ketika membuka koper justru benda kesukaan para istri dan pemain ranjang yang ada. "Gila! Ini, sih keren banget!" “Apa lagi, sih?” Pangeran yang baru saja duduk di sofa sambil memejamkan mata kini harus dibuat kesal akan teriakan dari Melya. "Bisa diam gak, sih!" "Pang-Pang! Lihat, deh! Ini cocok gak buat gue?" Pangeran menggeram kesal. Dia hendak membuka mulut untuk menyemprot si berisik itu, tetapi netranya seketika membulat lebar kala wanita di depan sana dengan tengil menjembreng sebuah lingerie berwarna merah dengan wajah yang sumringah. Tepat di depannya. “Sial! Ini bunda kenapa ngasih pakaian kayak gitu, sih? Apa bunda gak tahu kalau gue ini jijik banget sama yang namanya benda itu!” batin pria itu menggila. “Gimana, Pang? Seksi gak gue?” Melya justru dengan begitu santai melepaskan coach dan juga dress yang tadi dipakai, kemudian menggantinya dengan lingerie tersebut. Pangeran yang memang sejatinya adalah pria normal langsung berjengit kaget. “Seksi mata lo katarak! Badan kek triplek aja kok bangga!” ketusnya sambil memalingkan wajah. "Dih, orang seksi begini, kok!" cibir Melya. Tiba-tiba, Pangeran merasa ac ruangan tidak berfungsi dengan benar. Gerah dan tenggorokan tiba-tiba terasa haus. Matanya lalu menjelajah untuk mencari minuman dan senyum pun mengembang lebar kala melihat dua buah gelas berisi wine di atas meja. Diteguk langsung minuman itu hingga kini tenggorokannya basah. “Ahh, leganya.” “Kamu minum apa, Beb?” tanya Melya dari arah belakang tubuh Pangeran. Pangeran yang kaget justru kembali mendorong tubuh wanita itu. Beruntung wanita itu terjatuh di atas ranjang. Akan tetapi, hal selanjutnya justru membuat pria tersebut mengumpat kesal. Baju tipis berwarna merah itu justru tersingkap hingga kaki mulus Melya terpampang jelas di sana. "Beb, kenapa dirimu tidak sabar seperti itu? Jika ingin memilikiku tidak seharusnya kasar, dong! Slow, Honey!" ucapnya sambil mengerling. "Gak usah sok jadi perempuan centil, deh! Lagian, siapa juga yang doyan sama situ? Cih!" Pangeran memalingkan wajahnya sambil mengumpat. “Ish, kenapa lo kasar banget, sih, sama gue? Emang segitu jijiknya yah gue di mata lo?” Melya menatap pria itu dengan bibir mengerucut. “Lagian kalau gak suka kenapa lo bawa gue ke rencana gila ini, hah? Seharusnya lo berterima kasih sama gue, bukan malah justru nyiksa gue!” “Gak usah banyak ngoceh, deh! Lo itu cuma istri kontrak doang. Jadi, gak usah banyak protes, deh. Lo tinggal nikmati semua yang diberikan oleh kami. Dasar perempuan murahan!” sarkas Pangeran. Melya sendiri tidak menampik jika dirinya ini w************n. Namun, penilaian itu salah. “Sebelumnya gue mau klarifikasi sesuatu ke elo. Gue itu bukan w************n, hanya saja apa yang gue lakuin selama ini karena gue suka dan pasangan gue juga suka. Dan jika biasanya perempuan yang akan diberi uang, kali ini lo harus tahu kalau gue yang bayar mereka," jelasnya bangga. Melya berkata dengan begitu santai sambil melihat ke arah kukunya yang mulai memanjang. Dibiarkan saja kakinya yang jenjang dan mulus itu terpampang. Toh, lelaki di sana juga tidak akan bereaksi apa pun. “Jadi, lo ngerti kan sekarang?” “Terserah!” Melya mengernyit saat melihat kepergian Pangeran yang terasa begitu buru-buru. “Eh, ini mata gue gak siwer, 'kan? Tadi, wajahnya si Pangpang memerah dan juga suaranya terdengar semakin berat seolah sedang menahan nafsu. Atau, gue aja yang salah?” Sementara itu, Pangeran merasa ada yang ganjil pada tubuhnya, apalagi setelah meneguk wine tadi. Seketika mata pria itu melotot. "Sial! Jangan bilang di minuman tadi ada obat perangsangnya? Arghhh! Bunda sama mbak Sher ini ngapain, sih? Ark, sial! Gue harus gimana sekarang?" Pangeran mengerang menahan diri, apalagi saat bayangan Melya yang menggunakan lingerie semakin membuat otaknya dilanda kecemasan. Dirinya butuh pelampiasan. "Gak! Gak mungkin gue nyentuh perempuan murahan itu. Gak sudi gue!" tolaknya keras. Pangeran pun mulai gelisah. Pikirannya sudah tak konsen hingga membuatnya tak bisa berpikir. Sampai sebuah ide muncul di otaknya. "Iya, gue harus berendam! Otak gue kayaknya udah terkontaminasi hal-hal gila!" Tanpa disadari oleh Pangeran jika seseorang kini tengah melihat sesuatu hal yang begitu menakjubkan. Kaca kamar mandi ternyata tembus pandang dan seolah itu belum cukup, sosok yang tengah berendam di atas bathtub itu membuat dirinya menjadi gerah. "Auw, sepertinya mertua gue ngebet banget pengin gue hamil, deh!" kikik Melya. Tiba-tiba, dia mempunyai ide cemerlang. "Gue rasa itu laki sebenarnya lurus, karena jelas gue liat tadi ada yang tengah bangun di sana. Secara siapa, sih? Yang bisa menolak pesona dari seorang Melya!" Wanita itu lalu mengikat rambutnya tinggi. Berjalan dengan begitu anggun dan tatapan tertuju pada pria yang kini tengah memejamkan mata di dalam bathtub. Tangannya yang mungil mengetuk kaca itu hingga atensinya mulai membuat Pangeran menolah. Benar saja. Pria itu langsung melotot shock, apalagi saat Melya menari di balik kaca dengan begitu sensual. Pangeran mengumpat saat menyadari jika kaca kamar mandi begitu tembus pandang. "Arghhh!" Dia menjambak rambutnya frustasi. Sesuatu di bawah sana sudah mulai menggila, bahkan tubuhnya menggigil menahan sesuatu. "Gak, gak bisa! Gue harus kuat lawan diri gue sendiri!" ucap Pangeran sambil menggigit bajunya yang tadi dipakainya. Sementara itu, Melya yang melihat itu justru tertawa begitu bahagia. Dia berhasil membuat pria bermulut pedas itu bungkam. "Suruh siapa lo berani cuekin gue. Lo tanggung sendiri itu nafsu!" Sementara itu, di samping kamar pengantin baru. Ratu kini tengah sibuk menempelkan telinganya ke dinding. Keningnya mengerut saat mencoba fokus mencuri dengar si dia sejoli yang mungkin sekarang tengah memadu kasih. Akan tetapi, hingga beberapa menit tak terdengar apa pun. "Ayah, apa dinding ini kedap suara?" tanyanya manyun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN