"Loh, kok?" Kebingungan Pangeran dan juga Melya semakin menjadi saat mereka sudah berada di dalam pesawat. Orang yang mereka kira hanya mengantarnya saja ke bandara justru berada di tempat yang sama, hanya terpisah tempat duduk, tanpa rasa berdosa sedikit pun.
"Bunda ngapain di sini?" tanya Pangeran tidak bisa ditunda. "Terus, Ayah dan kalian berdua ngapain ikut juga?" Pria yang baru saja menikah beberapa jam lalu kini dibuat tersenyum kaku akan tatapan menggoda dari keluarganya.
"Kami ikut dong!" seru Sherina yang mendapat sorakan heboh dari seisi kabin first class. Ya, keluarga Mahija memutuskan untuk ikut dalam rangka memeriahkan dan menyemangati si pengantin baru. Dia dan anaknya –Reina– juga ikut serta dalam misi mengintip bulan madu si adik bungsu.
"Rere juga mau liburan ke Korea, Om. Masa Om dan Tante MelMel doang yang pergi. Rere juga pengen liat bunga sakura dan juga Rere mau ketemu sama artis. Iya, kan, Oma?" Gadis kecil berusia 6 tahun itu begitu fasih merayu. Dia bahkan sudah mengenal siapa girlband yang sedang naik daun di Korea.
"Tentu, Sayang. Kita akan bertemu dengan mereka!" sahut Ratu tak kalah heboh. Bukan tidak sulit untuk mereka bertemu dengan artis ternama, secara uang mereka yang tidak berseri itu.
"Hahhh, terserah kalian saja!"
Jangan tanya bagaimana kabar Melya sekarang. Dia memilih untuk tidak ambil pusing. Wanita itu justru sibuk mencicipi berbagai makanan yang disediakan oleh pihak pesawat. Jujur, baru kali ini Melya duduk di kursi, atau bisa disebut juga tempat tidur. Belum lagi, dia mendapatkan satu set piyama untuk digunakan. "Wah, amazing. Gue harus cerita besok sama Senja," gumamnya norak.
Selama bekerja dengan Senja, paling banter mereka akan naik pesawat class bisnis. Bukan karena tidak mampu, hanya saja harga tiketnya yang bisa berbeda 5-10 kali lipat dari harga tiket yang lain membuat mereka memilih untuk berbaur dengan penumpang lain. "Eh, tapi mending gak usah, deh. Mending duitnya buat Senja memperluas usahanya aja, deh," lirihnya lagi.
"Apa kamu gak bisa duduk diam?"
Suara itu mampu membuat Melya yang sudah siap memejamkan mata menjadi beralih. "Apaan?" tanyanya tanpa suara.
Pangeran lalu melihat ke arah Melya dan juga keluarga lainnya dengan bahasa isyarat. Beruntung istrinya tahu, tetapi hal selanjutnya justru membuat mata pria itu terbelalak.
"Makasih, Bunda dan Ayah atas kado pernikahannya. Melya seneng banget bisa berada di sini. Saranghaeyo," ujarnya sambil memberikan gesture tanda love dengan kedua tangan.
Pangeran sendiri hanya tersenyum kaku saat Melya yang seolah begitu epic melakoni sebagai istri yang baik dan benar. Wanita itu bahkan tak malu mencium pipi, bahkan menggelayut manja pada lengannya di depan keluarga. "Lo kalau mau kegatelan sama orang, jangan ke gue! Jijik gue liatnya!" bisiknya sambil berusaha untuk tersenyum di depan orang tuanya.
Mereka terlihat begitu senang, kecuali Raja Altezza Mahija yang memang mempunyai raut wajah datar seperti apa yang diucapkan oleh Ratu. Jika suaminya itu seperti kanebo kering, tetapi memiliki.jati yang hangat jika bersama keluarga. Namun, Melya sendiri belum merasakan, mungkin karena dia masih orang baru. Jadi, wajar.
"Sama-sama, Sayang. Ini semua adalah hadiah pernikahan yang biasa, kok. Kamu tenang saja, Nak. Kami juga udah menyiapkan beberapa hadiah lain yang pastinya akan membuat kalian lebih senang. Bukankah begitu, Sher?" tanyanya pada anak sulungnya.
"Betul banget, Bun. Walaupun persiapan pernikahan kalian begitu singkat. Tapi, dalam mempersiapkan itu kami tak main-main. Semoga kamu suka, ya, Mel!" sahut Sherina penuh harap.
Melya langsung mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah keluarga barunya. "Uuhhh, betapa senangnya aku memiliki keluarga yang begitu perhatian seperti kalian. Beb, terima kasih yah, karena kamu sudah mengizinkan aku untuk menjadi bagian dari keluarga kalian. A-aku sangat terharu," ujarnya sambil meneteskan air mata.
Pangeran berusaha untuk senatural mungkin memberi perhatian kepada Melya. Walaupun tangannya begitu berat untuk melakukan skinship kepada lawan jenis, tetapi semua dilakukan agar orang tuanya tidak curiga. "Ooh, A-aku yang seharusnya terima kasih karena kamu sudah mau menerimaku menjadi suamimu."
"Iya, Beb. Walaupun orang sering tidak percaya jika kamu ini lurus dan gak belok, aku tetap percaya jika di dalam hati dan pikiranmu hanya ada aku di sana. Iya, kan, Sayang?" Mata wanita itu berkedip-kedip lucu hingga membuat Pangeran menatapnya jijik.
Pria itu tidak menyangka jika dia baru saja menikahi seorang aktris. Aktingnya begitu terlalu mendalami hingga membuatnya ingin sekali pergi. Akan tetapi, kedua orang tuanya, kakak dan juga sang keponakan kini tengah mengawasi. Mau tidak mau membuat ia hanya bisa menahan diri dan menarik wajah itu mendekat ke arah wajahnya. "Sekali lagi lo buat buat skinship yang berlebihan, gue gak akan ragu buat buang lo dari atas pesawat," bisiknya ngeri.
Melya menyeringai. Dia sangat tahu jika pria di depannya begitu jijik padanya. Namun, bukan Melya namanya jika menurut. Wanita itu justru mengalungkan kedua tangan ke belakang tengkuk leher sang suami, kemudian berbisik balik di telinga. "Kalau gue gak mau gimana? Bukankah kita ini sudah menjadi suami istri? Jadi, sah-sah aja kalau kita saling mengecup."
Pangeran refleks mendorong tubuh Melya hingga terjatuh. Wanita itu melotot shock atas tindakan sang suami yang menurutnya begitu kasar.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" Pramugari yang melihat salah satu penumpangnya terjatuh segera menolong. Ratu dan juga Sherina yang melihat itu pu. Ikut mendekat, sedangkan Pangeran sendiri langsung berpura-pura mendekat.
"Sayang, kamu kenapa?"
Melya tertawa sumbang, lalu memilih duduk di kursinya didampingi oleh sang pramugari yang memintanya untuk lebih berhati-hati, sedangkan mertua dja kakak iparnya kini sudah kembali ke tempat duduk. Pangeran sendiri menyeringai kala mata itu menatapnya dan berpura-pura tidak bersalah.
"Oh, jadi ini sifat aslinya. Ok. Mari kita buat pria itu menyesal karena sudah menyia-nyiakan wanita cantik dan seksi seperti gue! Lo, gak cuma bakalan jatuh cinta ke gue, kalau perlu sampai ngemis-ngemis di kaki gue, Tuan Gay!" Mata wanita berpendar penuh tekad, mengabaikan ucapan pramugari yang memintanya untuk tetap menjaga keselamatan ketika di dalam pesawat.
Pangeran sendiri hanya memilih menatap sang istri dingin. Dia memilih untuk memejamkan mata dan mencoba mengistilahkan pikiran. Karena dia tahu jika setibanya di Korea nanti, pasti bakalan banyak hal yang akan direncanakan oleh keluarganya yang super rese, berkedok peduli. "Aku harap, semoga saja merek tak membuatku gila ketika di sana!"
Akan tetapi, siapa yang tahu jika kejutan sudah menunggu kedatangan mereka di Bandara Incheon Airport Korea Selatan dan tentunya tempat tinggal sementara yang sudah keluarganya booking.